“WONG LEGAWA REJEKINE DAWA”: PENERIMAAN PEMBANGUNAN JALAN TOL YOGYAKARTA-BAWEN DI KELURAHAN TAMBAKREJO, TEMPEL SLEMAN
Grasia Retno Larasati, Agus Indiyanto, S.Sos., M.Si.
2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Pembangunan
Jalan Tol Yogyakarta-Bawen menjadi proyek pembangunan jalan tol pertama di
Yogyakarta setelah mendapat perizinan dari Sultan Hamengkubuwono X. Khususnya
wilayah yang dilalui adalah Kelurahan Tambakrejo, Tempel Sleman. Pembangunan
jalan tol memerlukan tahapan panjang, yaitu pengadaan dan pembebasan lahan. Hal
ini berdampak langsung terhadap tanah milik warga yang selama ini menjadi
sumber penghidupan. Penerimaan atau penolakan warga menjadi kunci dalam
kelancaran proyek pembangunan.
Metode
penelitian yang digunakan adalah penelitian etnografi agar dapat memahami dan
mengeksplorasi data langsung di lapangan. Menggunakan teknik observasi,
wawancara mendalam, dan studi pustaka. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi ekspresi dan eksplanasi yang mempengaruhi penerimaan, memahami
dampak sosial yang terjadi, dan menganalisis sikap penerimaan warga Tambakrejo
terhadap pembangunan jalan tol. Kerangka pemikiran yang digunakan adalah bahwa
penerimaan atau penolakan warga tidak hanya berdasarkan pada faktor-faktor
ekonomi, tetapi dipengaruhi oleh faktor sosial dan faktor kultural.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Bawen di
Tambakrejo melibatkan berbagai ekspresi dan eksplanasi penerimaan pada warga
yang terdampak. Walaupun akhirnya semua dapat menerima proyek pembangunan
dengan legawa, namun dibaliknya terdapat ketidakberdayaan. Pembangunan
menimbulkan perubahan-perubahan yang harus dihadapi oleh masyarakat yang
terdampak. Pada akhirnya, keselarasan sosial menjadi prinsip penyeimbang antara
pembangunan dan keharmonisan di masyarakat Tambakrejo.
The construction of the Yogyakarta-Bawen Toll Road marks the first toll road development project in Yogyakarta following official approval from Sultan Hamengkubuwono X. The specific area affected is Tambakrejo, Tempel Sleman. The development of the toll road involves a lengthy and complex process, particularly in terms of land acquisition and clearance. The directly impacts the land owned by local residents, which has long served as their primary source of livelihood. The acceptance or rejection of the project by the community plays a crucial role in ensuring the smooth progress of the development.
This study adopts an ethnographic research method to gain a deeper understanding and to explore firsthand data from the field. The techniques employed include observation, in-depth interviews and literature review. The main objectives of this research are to identify the expressions and explanations of community acceptance, to understand the social implications arising from the development and to analyze the attitudes of Tambakrejo residents toward the toll road construction. The theoretical framework used in this study assumes that acceptance or rejection is not solely based on economic factors, but is also shaped by social and cultural considerations.
The result indicates that the construction of the Yogyakarta-Bawen Toll Road in Tambakrejo involved expressions and explanations of acceptance among the affected residents. Although, in the end the communities accepted the project with legawa, underlying this acceptance is feeling of powerlessness. The development has brought about significant changes that the affected communities must confront. Ultimately, social harmony has emerged as a balancing principle between the demands of development and the preservation of communal cohesion in Tambakrejo.
Kata Kunci : Pembangunan Jalan Tol, Penerimaan, Ketidakberdayaan, Keselarasan Sosial