Laporkan Masalah

Analisis Kandungan Hg2+, Cl-, Dan KTK Untuk Fortifikasi Agronomi Lahan Dengan Humus Sintetik Dan Beras Hasil Pertaniannya

Kevin Putra Pratama, Dr. Agus Kuncaka, DEA.; Taufik Abdilah Natsir, S.Si., M.Sc., Ph.D.

2025 | Skripsi | KIMIA

Telah dilakukan penelitian mengenai pupuk abu sekam padi dan fraksi cair hidrolisat bulu ayam sebagai humus sintetik dengan konsep Slow Release Organic Paramagnetic (SROP). Pupuk ini berfungsi sebagai sumber dan pembawa mikronutrien Cl-, pengontrol logam berat Hg, serta agen fortifikasi agronomi yang meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) untuk beras hasil pertaniannya. Dalam penelitian ini dilakukan analisis kualitatif kandungan mikronutrien Cl- dan logam berat Hg2+ pada pupuk dan beras hasil fortifikasi dengan menggunakan pupuk dari CV Humus, serta beras bulog (pasaran) dengan instrumen X-ray fluorescence (XRF) dan Energy Dispersive X-Ray (EDX).  Analisis kuantitatif pada sampel pupuk dan beras dilakukan dengan metode titrasi argentometri Mohr untuk Cl- dan pengukuran dengan Mercury analyzer untuk Hg. Uji desorpsi dilakukan dengan variasi pH dan pengaruh waktu kontak untuk menentukan kinetika desorpsi mikronutrien Cl- dari pupuk. Analisis nilai kapasitas tukar kation (KTK) dilakukan menggunakan metode peroklasi dan kolorimetri dengan spektrometer UV-VIS.   

Hasil penelitian menunjukan bahwa pupuk memiliki kandungan Cl-  sebesar 1.813,34 ± 177,7 mg Kg-1 dan Hg sebesar 28,19 µg Kg-1 yang masih berada di bawah ambang batas aman. Analisis beras cempo putih dan cempo merah yang diberi pupuk memiliki hasil kandungan Cl- berturut-turut sebesar 300,82 ± 7,6 dan 371,66 ± 7,5 mg Kg-1 yang di mana lebih besar dibandingkan beras bulog/pasar dan memiliki kandungan Hg sebesar 48,25 dan 68,48 µg Kg-1 yang masih berada di bawah ambang batas aman. Uji kapasitas tukar kation (KTK) pada pupuk menunjukan nilai 10,7 meq 100 g-1 yang mengindikasikan jika pupuk dapat menjadi sumber dan menjadi pembawa mikronutrien Cl- pada beras hasil fortifikasinya. Desorpsi optimum dari mikronutrien Cl- terjadi pada pH 7 dan model kinetika desorpsi mikronutrien Cl- yang paling sesuai mengikuti model kinetika orde satu berdasarkan mekanisme desorpsinya. 


A study was conducted on a fertilizer made from rice husk ash and the liquid fraction of hydrolyzed chicken feathers hydrolyzate as synthetic humus, based on the slow-release organic paramagnetic (SROP) concept. This fertilizer serves as a source and carrier of the micronutrient Cl?, a controller for the heavy metal Hg2+, and acts as an agronomic fortification agent by enhancing the cation exchange capacity (CEC) to support the development of agricultural rice.The research included a qualitative analysis of micronutrient content (Cl?) and heavy metal contamination (Hg) in the fertilizer and fortified rice, using a fertilizer from CV Humus and commercially available rice (Bulog rice). The analysis was conducted using X-ray fluorescence (XRF) and Energy Dispersive X-ray (EDX) instruments. Further testing involved argentometric Mohr titration for Cl? and mercury analyzer measurements for Hg2+. Desorption experiments were performed under varying pH levels and contact times to understand the desorption kinetics of Cl? from the fertilizer. Additionally, CEC was analyzed using percolation and colorimetry methods with a UV-VIS spectrometer.

The research results indicate that the fertilizer contains Cl? at 1,813.34 ± 177.7 mg Kg?¹ and Hg at 28.19 µg Kg?¹, both of which remain below the safety threshold. Analysis of cempo putih and cempo merah rice treated with the composite showed Cl? levels of 300.82 ± 7.6 and 371.66 ± 7.5 mg Kg?¹, respectively, which were higher than those found in bulog or market rice. Meanwhile, the Hg2+ content in cempo putih and cempo merah rice was 48.25 and 68.48 µg Kg?¹, respectively, both of which remain within safe limits. The cation exchange capacity (CEC) test on the fertilizer showed a value of 10.7 me 100 g?¹, indicating that the fertilizer can serve as both a source and a carrier of the micronutrient Cl? in fortified rice. The optimum desorption of Cl- micronutrients occurred at pH 7 and the most appropriate kinetic model of Cl- micronutrient desorption followed the first-order kinetic model based on the desorption mechanism.


Kata Kunci : beras, humus sintetik, KTK, mikronutrien, stunting

  1. S1-2025-481722-abstract.pdf  
  2. S1-2025-481722-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-481722-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-481722-title.pdf