Prospek birokrat perempuan dalam konfigurasi elite birokrasi pemerintah daerah di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
WIDYANINGSIH, Nanik, Dr. Heru Nugroho
2004 | Tesis | S2 SosiologiPerkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memotivasi perempuan untuk memberdayakan diri agar mampu sejajar dengan lakilaki dalam segala bidang khususnya bidang pemerintahan. Birokrasi pemerintah yang didominasi laki-laki mencerminkan adanya pembatasan peran perempuan sebagai pengambil keputusan dalam birokrasi. Oleh sebab itu, peranan perempuan dalam elite birokrasi pemerintah masih sangat kecil. Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor diantaranya adalah kuatnya pandangan subordinasi terhadap perempuan dan pengaruh sosial budaya yang berlaku dalam masyarakat. Untuk mengetahui prospek birokrat perempuan dan faktor-faktor yang mempengaruhi perempuan dalam birokrasi pemerintah, maka perlu dilakukan penelitian terhadap prospek birokrat perempuan dalam konfigurasi elite birokrasi Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran antara kualitatif dan kuantitatif. Responden penelitian adalah pejabat struktural Pemda Propinsi DIY baik laki-laki maupun perempuan yang ditentukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah deskriptif kualitatif kuantitatif dengan langkah-langkah yaitu pengumpulan, penyusunan, penilaian, penafsiran, dan penyimpulan data. Prospek perempuan dalam konfigurasi elite birokrasi Pemda Propinsi DIY ditunjukkan dari kompetensi para birokrat perempuan yang mencakup kompetensi kepemimpinan, akademis, dan manajerial. Faktor-faktor yang mempengaruhi perempuan dalam birokrasi dibedakan menjadi faktor pendukung dan faktor penghambat. Keterlibatan perempuan dalam birokrasi pemerintah didukung oleh kesetaraan gender, kesamaan kesempatan, dan kebijakan pemerintah. Hambatan yang dihadapi perempuan untuk terlibat dalam birokrasi bersifat sosial budaya, struktural, dan biologis. Prospek birokrat perempuan yang dilihat dari kompetensi kepemimpinan, akademis, dan manajerial menunjukkan besarnya potensi perempuan untuk mencapai posisi pemimpin yang sering diidentikkan dengan laki-laki karena perempuan dinilai lebih bijaksana, berorientasi pada hubungan, memiliki tingkat pendidikan setara dengan laki-laki, dan memiliki naluri yang lebih peka. Dukungan faktor kesetaraan gender, kesamaan kesempatan, dan kebijakan pemerintah memberikan peluang bagi perempuan untuk mengaktualisasikan diri dan berkarir dalam sektorsektor formal khususnya pemerintahan tanpa disertai pandangan buruk dari masyarakat. Hambatan faktor sosial budaya, struktural, dan biologis menyebabkan ruang gerak perempuan untuk bersosialisasi dalam lingkup yang lebih formal menjadi terbatas. Berdasarkan hasil penelitian, maka rekomendasi yang dapat diberikan adalah menyangkut penempatan pegawai dalam unit kerja birokrasi yang tepat, peningkatan peran aktif perempuan dalam pengambilan keputusan, peningkatan kualitas profesionalisme pejabat tanpa melihat gender, dan peningkatan kepercayaan diri perempuan.
Science and technology growth has motivated the women for empowering themselves in order to equal the men in every field, especially in the government one. Government bureaucracy that is dominated by the men reflects delimitation of the women role as decision-maker in the bureaucracy. Therefore, the women role in the government bureaucracy elite is very little. There are some factors to be causes, among others, the power of subordination view toward the women and the socioculture occurring in our society. To know the woman bureaucrat prospect and factors that influence the women within government bureaucracy, it needs to examine on the woman bureaucrat prospect within bureaucracy elite configuration of Regional Government of Yogyakarta Special Territory. The study used a combination approach between qualitative and quantitative ones. The study respondents were the structural officials of Regional Government of Yogyakarta Special Territory Province, they were both men and women determined by using the purposive sampling method. The data analysis technique used was the quantitative qualitative descriptive one by measures of: collection, arrangement, evaluation, interpretation, and data collection. The woman bureaucrat prospect within bureaucracy elite configuration of Regional Government of Yogyakarta Special Territory showed by the competency of woman bureaucrats covering the leadership, academic, and managerial competencies. There were two factors influencing the women in bureaucracy, namely, supporting and inhibiting factors. The woman involvement in the government bureaucracy was supported by equality of gender, opportunity, and government policy. Inhibitions that confronted the women for taking part in bureaucracy were sociocultural, structural, and biological ones. The woman bureaucrat prospect discerned from the leadership, academic, and managerial competencies indicated high potency of the women to achieve a leader position that was often made identical to the men because they were considered to be wiser and more relationoriented, their education level equal the men, and they have more sensitive instinct. The supporting factors such as gender equality, government policy given opportunity for the women to self-actualize and have careers in formal sectors, especially in the government one with no bad common viewpoint. The inhibiting factors such as sociocultural, structural, and biological ones given rise to the woman freedom for socializing in the formal environment to be limited. Based on the study result, the recommendations are: appointing employee in the appropriate bureaucracy working unit, motivating active role of the women in decision making, increasing professionalism quality of the official without looking at gender, and improving self-confidence of the women.
Kata Kunci : Birokrasi Pemerintah Daerah,Konfigurasi Elit,Birokrat Perempuan, prospect, bureaucracy, woman, regional government