Studi Likuifaksi di Area Selatan Gunung Merapi Yogyakarta : Pendekatan Non-Parametrik menggunakan Algoritma Random Forest berdasarkan Karakteristik Tanah dan Data Mikrotremor
Rif'atul Afifah Zen, Drs. Imam Suyanto, M.Si. ; Bambang Sunardi, S.Si., MT.
2025 | Skripsi | GEOFISIKA
Daerah Istimewa
Yogyakarta merupakan wilayah di bagian selatan Pulau Jawa yang memiliki tingkat
kerentanan tinggi terhadap gempa bumi. Hal ini disebabkan oleh kedekatannya
dengan batas lempeng Eurasia dan Indo-Australia serta keberadaan sesar aktif
Opak yang berpotensi memicu gempa bumi dan likuifaksi. Berdasarkan studi
mengenai gempa bumi Yogyakarta tahun 2006, wilayah Kota Yogyakarta dan beberapa
wilayah Kabupaten Bantul mengalami dampak signifikan, sehingga diduga memiliki potensi
likuifaksi yang tinggi. Penelitian ini menganalisis potensi likuifaksi
berdasarkan karakteristik tanah dan data mikrotremor menggunakan metode HVSR
serta pendekatan machine learning.
Parameter yang digunakan meliputi frekuensi dominan (f0), amplifikasi (A0), kecepatan gelombang geser rata-rata
hingga kedalaman 30 meter (Vs30), percepatan puncak tanah gempa bumi
(PGAm), kemiringan lereng (slope),
kekasaran permukaan (roughness), dan topographic wetness index (TWI).
Parameter ini kemudian diuji dan diterapkan dalam algoritma Random Forest, untuk memprediksi potensi
likuifaksi secara efisien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan
potensi likuifaksi tinggi mencakup di wilayah Kota Yogyakarta, beberapa
kecamatan di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman, serta pesisir pantai selatan
Yogyakarta. Temuan ini dapat digunakan sebagai dasar dalam upaya mitigasi
bencana di masa mendatang.
The Special Region of Yogyakarta is located in the southern
part of Java Island dan is highly vulnerable to earthquakes. This is due to its
proximity to the subduction of the Eurasian and Indo-Australian plates and the
presence of the active Opak Fault, which can potentially trigger earthquakes
and liquefaction. Based studies on the 2006 Yogyakarta earthquake, the Bantul
dan Imogiri areas were significantly affected, indicating a high liquefaction
potential. This study analyzes liquefaction potential based on soil
characteristics dan microtremor data using the HVSR method and a machine
learning approach. The parameters used include fundamental frequency (f0),
amplification (A0),
average shear wave velocity up to a depth of 30 meters (Vs30), peak ground acceleration of the earthquake (PGAm), slope,
surface roughness, and topographic wetness index (TWI). These parameters were
then tested and applied in the Random Forest algorithm to predict liquefaction
potential efficiently. The results indicate that areas with high liquefaction
potential include Kota
Yogyakarta, several district in Bantul and Sleman, also the southern coastal region of
Yogyakarta. These findings can serve as a basis for disaster mitigation efforts
in the future.
Kata Kunci : Likuifaksi, HVSR, Random Forest, Mikrotremor