PENANGANAN WABAH CACAR DI BUTON, 1950-1970AN
Abdul Rauf Ode Ishak, Dr. Mutiah Amini, M.Hum.
2025 | Tesis | S2 Sejarah
Penelitian ini membahas penanganan wabah cacar di Afdeling Buton pada periode 1950–1970-an, dengan menempatkan penyakit menular sebagai bagian dari sejarah sosial dan kebijakan kesehatan pascakemerdekaan. Berangkat dari minimnya studi sejarah kesehatan di wilayah Indonesia Timur, penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana negara dan masyarakat di wilayah kepulauan merespons krisis kesehatan dalam situasi infrastruktur yang terbatas. Dengan menggunakan metode sejarah dan pendekatan sejarah kesehatan, penelitian ini mengolah sumber arsip, surat kabar, dokumen visual, serta sejarah lisan dari saksi hidup. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyebaran cacar dipengaruhi oleh mobilitas penduduk lintas pelabuhan dan keterbatasan sistem kesehatan tempatan. Pemerintah pusat dan daerah merespons melalui program vaksinasi massal, pembangunan fasilitas kesehatan, dan pendidikan tenaga medis. Namun, efektivitas intervensi negara bergantung pada kondisi geografis, akses transportasi, serta kesiapan administratif lokal. Di sisi lain, masyarakat Buton menjalankan berbagai strategi preventif dan adaptif, dari partisipasi dalam kampanye kebersihan hingga penggunaan pengobatan tradisional yang berjalan paralel dengan layanan medis. Penelitian ini menegaskan bahwa wabah bukan hanya sekadar persoalan medis, tetapi mencerminkan dinamika struktural antara kebijakan kesehatan, kondisi sosial, dan kerentanan ekologi wilayah kepulauan. Studi ini memperluas cakupan historiografi penyakit menular di Indonesia, sekaligus menunjukkan pentingnya membaca krisis kesehatan dari perspektif lokal.
This study examines the smallpox outbreak in the Afdeling of Buton during the 1950s–1970s, framing infectious disease as part of the broader history of social response and post-independence health policy in Indonesia. Responding to the scarcity of historical health studies in Eastern Indonesia, the research analyzes how the state and local communities in a remote archipelagic region addressed a health crisis under infrastructural limitations. Employing historical methods and a health history approach, the study draws from archival records, newspapers, visual documents, and oral testimonies. Findings reveal that the spread of smallpox was facilitated by population mobility across port towns and the fragility of the local health system. Government interventions, including mass vaccination campaigns, the construction of health facilities, and the training of medical personnel, were implemented with varying degrees of success, largely dependent on geography, transportation access, and administrative readiness. Simultaneously, Butonese communities adopted preventive and adaptive strategies, ranging from public hygiene initiatives to the continued use of traditional medicine alongside formal medical services. This study underscores that epidemics are not merely medical phenomena but reflect structural dynamics involving health governance, social conditions, and ecological vulnerability in archipelagic spaces. By focusing on a previously understudied region, this research contributes to the historiography of infectious disease in Indonesia and highlights the significance of local perspectives in understanding public health crises.
Kata Kunci : Buton, wabah cacar, kebijakan kesehatan, respon masyarakat