Partisipasi Kelompok Dambu Kahbrai dalam Budidaya Anggrek di Desa Penyangga Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura
Kristina Anastasia Ayomi, Prof. Dr. Ir. San Afri Awang, M.Sc
2025 | Skripsi | KEHUTANAN
Cagar Alam Pegunungan Cycloop memiliki keanekaragaman flora dan fauna endemik seperti Cenderawasih dan Anggrek Hitam, serta berperan penting dalam menjaga iklim dan siklus air. Namun, kawasan ini terancam oleh aktivitas manusia seperti perambahan, pertanian, dan penambangan, yang memicu banjir bandang pada 2019. Untuk mengatasi hal ini, BBKSDA Papua memberdayakan masyarakat melalui Desa Binaan, seperti Kampung Dosay dengan kelompok Dambu Kahbrai, yang awalnya mengambil anggrek liar dari hutan. Melalui pendampingan, masyarakat diajak pembudidayakan anggrek secara berkelanjutan untuk melestarikan spesies endemik sekaligus meningkatkan ekonomi, Oleh karena itu perlu dilakukan pengukuran tingkat partisipasi Kelompok Binaan Dambu Kahbrai dalam optimalisasi organisasi dan strategi yang tepat dalam meningkatkan implementasi program Desa Binaan di Kampung Dosay khususnya kawasan penyangga.
Pada penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode kuantitatif non-parametric yaitu mengukur tingkat partisipasi melalui hasil skoring kuesioner dari seluruh anggota Kelompok Dambu Kahbrai di Kampung Dosay dan dilakukan analisis deskriptif. Penentuan strategi peningkatan partisipasi anggota Kelompok Binaan Dambu Kahbrai di Kampung Dosay dari hasil Focus Group Discussion (FGD) dilakukan analisis dengan menggunakan SOAR (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results).
Analisis data yang dilakukan pada seluruh anggota Kelompok Dambu Kahbrai diperoleh tingkat partisipasi dengan skor total sebesar 1.126 pada setiap bobot skor bentuk partisipasi. Angka ini berada pada interval level partisipasi insentif. Dalam hal ini keterlibatan Kelompok Dambu Kahbrai dipengaruhi oleh adanya insentif yang diterima, pelatihan dan pendampingan, serta akses dalam mendukung program, yang diberikan oleh pengelola maupun mitra kerja kelompok. Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Desa Binaan, Kearifan Lokal, Kawasan Hutan Konservasi
The Cycloop Mountains Nature Reserve harbors a rich diversity of endemic flora and fauna, such as the Bird of Paradise (Cenderawasih) and
the Black Orchid, and plays a vital role in climate regulation and the water cycle. However, this area is under significant threat from human activities,
including encroachment, agriculture, and mining, which contributed to a devastating flash flood in 2019. In response, the Papua Natural Resources
Conservation Agency (BBKSDA Papua) has initiated community empowerment efforts through the Desa Binaan (Assisted Village) program. One such initiative is in Dosay Village, where the Dambu Kahbrai group, which originally harvested wild orchids from the forest, is now guided towards sustainable orchid cultivation. This aims to conserve endemic species while improving local economic conditions.
Therefore, it is essential to assess the participation level of the Dambu Kahbrai Assisted Group to optimize organizational performance and identify effective strategies for enhancing the implementation of the Desa Binaan program in Dosay Village, particularly within the buffer zone area.
This study adopts a case study approach using non-parametric quantitative methods, assessing participation levels through questionnaire scoring completed by all members of the Dambu Kahbrai group in Dosay Village, followed by descriptive analysis. Strategy formulation for increasing participation within the group was derived from Focus Group Discussion (FGD) results and analyzed using the SOAR framework (Strengths, Opportunities, Aspirations, Results).
The data analysis of all group members yielded a total participation score of 1.126 across various weighted participation indicators. This score falls within the “incentivized participation” level. Based on discussion results, this level reflects the group’s fifth year of empowerment and indicates a degree of dependency on facilitation provided by program managers or partner organizations. Therefore, there is a need for more active and consistent involvement from group members in every activity.
Kata Kunci : Pemberdayaan Masyarakat, Desa Binaan, Kearifan Lokal, Kawasan Hutan Konservasi ; Community Empowerment, Fostered village, Local Wisdom, Conservation Forest Area