Laporkan Masalah

Pengaruh waktu penundaan campuran tanah lempung-semen terhadap kekuatannya

MAR, La Ode Kurniawan Es, Ir. H. Suryo Hapsoro Tri Utomo, Ph.D

2004 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Penundaan waktu pemadatan merupakan salah satu faktor ketidakberhasilan suatu usaha stabilisasi tanah. Penundaan waktu pemadatan, dapat mengurangi interlocking antara butiran tanah. Hal ini disebabkan oleh proses sementasi (kondisi dimana campuran saat kehilangan keplastisannya menuju pada kondisi campuran yang keras) telah terjadi sehingga menyulitkan dalam pelaksanaan pemadatan. Untuk itu perlu diketahui berapa waktu ideal untuk menunda suatu pelaksanaan pemadatan di lapangan, agar tidak mengurangi kekuatan tanah hasil stabilisasi. Dalam penelitian ini pertama-tama dilakukan stabilisasi kimiawi tanah lempung dengan semen. Penambahan semen sebesar 0%, 5%, 10%, 15%, 20% dari berat kering dilakukan pada kadar air optimum, kemudian setelah pencampuran tanah dengan semen ditunda waktu pemadatannya selama 0 jam, 1 jam, 2 jam, 3 jam. Penelitian ini juga dilakukan uji sifat fisis dan mekanis dari tanah campuran untuk mengetahui seberapa besar perubahan yang terjadi pada sifat-sifat tanah tersebut. Hasil penelitian menunjukan bahwa tanah lempung dari desa Kedungsari Wates merupakan tanah lempung anorganik dengan plastisitas tinggi, dengan indeks plastisitas 42,19% dan mengandung mineral Illite. Nilai CBR Unsoaked (tanpa rendaman) 11,74%, sedangkan nilai CBR soaked (dengan rendaman) 3,51%, dengan nilai pengembangan sebesar 17,64%. Pada penundaan waktu pemadatan 0 jam sampai dengan 2 jam nilai tegangan deviator cenderung meningkat, dengan nilai tegangan deviator maksimum terjadi pada campuran tanh lempung + 20% semen, yaitu 690,80 kN/m2 pada σ3 = 100 kN/m2, sedangkan pada penundaan waktu pemadatan sampai dengan 3 jam nilai tegangan deviator cenderung menurun untuk setiap prosentase campuran pada σ3 = 100 kN/m2.

Delaying of compaction time of soil of one factor which make the stabilization of soil unsuccessed. It can reduce the interlock between soil. It is happened because the cementation process (condition where the mixed loses its plasticity and changes to solid condition) has occurred and it complicates the process of compaction it is necessary to know the ideal time to delay compaction process in field, so that it will not reduce the strength of stabilized-soil result. In this experiment, the first action taked is to stabilize clay chemically with cement. The value of cement added is 0%,5%,10%, 15%, 20% from its dry weight and it is done in its optimum level of water, then after delaying compaction soil time for 0 hour, 1 hour, 2 hour, 3 hour. The physical and mechanical properties of mixed-soil is also tested to know how much change happened in those soil properties. The result shows that the clay from Kedungsari Wates village is anorganic soil with high plasticity, where the plasticity index is 42,19% and contains illite mineral. The unsoaked CBR value is 11,74% and the soaked CBR value is 3,51% with developing value 17,64%. On the delay compaction time 0 to 2 hours, the deviator stress value tend to increase, with the maximum deviator stress happened in mixed clay + 20% cement, that is = 690,80 kN/m2 where σ3 = 100 kN/m2, while on the delay compaction time to 3 hours, the deviator stress value tend to decrease for each mixed-soil percentage where σ3 = 100 kN/m2.

Kata Kunci : Teknik Sipil,Stabilisasi Tanah,Waktu Pemadatan, soil stabilization, cement, illite, mechanical and physical properties, delay compaction time


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.