Laporkan Masalah

Pola Pergerakan Naja sputatrix Boie, 1827 Pasca-Translokasi di Kawasan kampung Satwa, Daerah Istimewa Yogyakarta

Intan Luthfianawati, Dr. Rury Eprilurahman, S.Si., M.Sc.; Dr. Syahfitri Anita, M.Si.

2025 | Skripsi | BIOLOGI

Transfomasi habitat alami menjadi wilayah agrikultur dan pemukiman membuat spesies di dalamnya harus beradaptasi dengan kehadiran manusia untuk bertahan hidup. Gesekan aktivitas ini memunculkan potensi konflik ular-manusia dan meningkatkan risiko yang merugikan kedua belah pihak. Upaya mitigasi konflik ular-manusia yang umum dilakukan adalah translokasi ular. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan terhadap tiga individu Naja sputatrix pasca translokasi di kawasan Kampung Satwa. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Radiotelemetri dengan implantasi transmitter pada ular. Ular yang telah diimplantasi dengan transmitter dilepaskan di kawasan Kampung Satwa untuk diamati pergerakannya. Pelacakan pergerakan ular dilakukan dengan perangkat Radiotelemetri dari bulan September hingga November 2024. Data koordinat pergerakan ular kemudian dianalisis menggunakan Minimum Convex Polygon untuk mendapatkan data area dan Point to Path untuk mendapatkan data temporal. Hasil analisis menunjukkan bahwa individu Naja 1 dari translokasi jarak jauh memiliki area jelajah yang lebih luas yaitu 751,57 m2 daripada individu Naja 2 dari translokasi jarak jauh yaitu 205,96 m2. Individu Naja 3 dari translokasi jarak jauh memiliki area jelajah paling luas yaitu 3947,89 m2 karena menjauhi aktivitas manusia saat masa pengamatan. Analisis korelasi parameter lingkungan dengan pola pergerakan dilakukan dengan Uji Normalisasi Shapiro Wilk dilanjutkan dengan Uji Korelasi Spearman, hasil analisis menunjukkan tidak adanya korelasi signifikan antara suhu dan kelembaban dengan pola pergerakan ular.

The transformation of natural habitats into agricultural and residential areas requires species to adapt to human presence in order to survive. The friction of these activities raises the potential for snake-human conflict and increases the risk of bites that are detrimental to both parties. A standard method to mitigate snake-human conflict is snake translocation. In this study, observations were made on three post-release Naja sputatrix individuals that were translocated to the Kampung Satwa area. This study used the Radiotelemetry method by implanting transmitters in snakes. Snakes that had been implanted with transmitters were released in Kampung Satwa to observe their movements. We tracked snake movements using Radiotelemetry devices from September to November 2024. Snake movement coordinate data was then analyzed using Minimum Convex Polygon to obtain area data and Point to Path to obtain temporal data. The results of the analysis showed that Naja 1 individual from long-distance translocations had a larger area of 751.57 m2 than Naja 2 individual from long-distance translocations, which was 205.96 m2. The Naja 3 individual from long-distance translocations had the largest area, at 3947.89 m2, because it avoided human activities during the observation period. Correlation analysis of environmental parameters with movement patterns was carried out using the Shapiro-Wilk Normalization Test, followed by the Spearman Correlation Test. The analysis results showed no significant correlation between temperature and humidity and snake movement patterns.

Kata Kunci : Wilayah Jelajah, Naja sputatrix, Radiotelemetri, Perilaku

  1. S1-2025-476839-abstract.pdf  
  2. S1-2025-476839-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-476839-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-476839-title.pdf