Laporkan Masalah

Pemanfaatan pekerja buruh/karnyawan di Sumatra Utara, Jawa Tengah dan Nusa tenggara Timur berdasarkan sakernas 1987

Nima Sulina Singarimbun, Drs. Tukiran, M.A.

1989 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemanfaatan buruh/karyawan di Sumatera Utara, Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur, menurut tempat tinggal (desa dan kota). Selain itu juga dibedakan menurut karakteristik pekerja yang meliputi umur, jenis kelamin, pendidikan dan lapangan pekerjaan. Sumber data pokok yang digunakan adalah Survel Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) 1987 yang merupakan data ketenagakerjaan terbaru. Disamping itu beberapa sumber data lain terbitan Biro Pusat Statistik (BPS) dan Kantor Statistik Provinsi juga digunakan sebagai tambahan informasi. Pendekatan yang digunakan dalam analisis adalah pendekatan pemanfaatan angkatan kerja (labor utilization approach) yang mula-mula dikenalkan oleh Hauser (1974) yang membedakan angkatan kerja menjadi pemanfaatan sepenuhnya dan pemanfaatan tidak sepenuhnya. Pemanfaatan tidak sepenuhnya dapat disebabkan karena menganggur, jam kerja, pendapatan dan ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan. Di dalam analisis, pemanfaatan buruh/karyawan ditinjau dari segi jam kerja dan upah. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskripsi dengan tabulasi silang data SAKERNAS 1987 yang tidak diterbitkan yakni berupa computer print-out. Dilihat dari aspek keruangan, hasilnya adalah pemanfaatan sepenuhnya lebih rendah di Jawa Tengah bila dibandingkan dengan Sumatera Utara dan Nusa Tenggara Timur. Hal ini disebabkan karena penawaran pekerja di Jawa Tengah jauh lebih tinggi dan persaingan lebih ketat daripada kedua propinsi tersebut, sehingga banyak yang terpaksa bekerja dengan jam kerja yang relatif tidak stabil dan upah yang rendah. Bila dibedakan menurut tempat tinggal (desa dan kota), pemanfaatan sepenuhnya lebih tinggi pada pekerja di perkotaan daripada pedesaan. Dilihat dari karakteristik pekerja, tidak ada vari- asi keruangan dalam pemanfaatan pekerja berdasarkan jam kerja dan upah. Menurut karakteristik umur, pemanfaatan kurang maupun berlebih tidak mempunyai pola tertentu. Pemanfaatan kurang, cenderung lebih tinggi pada pekerja perempuan dan mereka yang berpendidikan rendah. Sebaliknya pemanfaatan sepenuhnya cenderung lebih tinggi pada pekerja berumur menengah, pekerja laki-laki dan mereka berpendidikan tinggi. Berdasarkan lapangan pekerjaan, pemanfaatan pekerja sepenuhnya terdapat pada sektor jasa. Kemungkinan pekerja dalam kelompok ini kebanyakan pegawai negeri. Hal ini sesuai dengan penelitian Manning (1984) yang mengungkapkan bahwa pegawai negeri mempunyai ciri khas dalam segi stabilitas upah dan jam kerja, sehingga bila dibandingkan dengan status pekerja yang lain, pemanfaat- an sepenuhnya pada pegawai negeri lebih tinggi. Pemanfaatan pekerja di sektor industri dilihat dari segi jam kerja adalah tinggi, tetapi dari segi upah rendah. Hal ini mencerminkan bahwa masih banyak pengusaha yang belum menerapkan upah minimum, sehingga banyak buruh yang upahnya kurang dari Kebutuhan Fisik Minimum (KFM). Namun demikian para buruh dapat me langsungkan kehidupan dengan upah yang rendah. Hasil penelitian Wolf (1986) mengungkapkan bahwa buruh wanita yang upahnya rendah mendapat bantuan dari keluarga. Pada sektor pertanian bila dibandingkan antara ketiga propinsi, persentase tertinggi pemanfaatan kurang terdapat pada pekerja di Jawa Tengah. Hal ini terlihat baik dari segi jam kerja maupun upah. Namun dalam kenyataannya mereka bekerja dengan jam kerja yang panjang. Sajogyo (1978) menyatakan bahwa buruh tani pada umumnya mempunyai pola nafkah berganda. Keadaan demikian juga banyak dilakukan oleh buruh/karyawan pada sektor lain, sehingga untuk melihat pemanfaatan pekerja berdasarkan pendapatan tidak bisa dilakukan dengan individu sebagai unit analisis. Namun harus dilihat berdasarkan kesatuan rumah tangga. Hal ini merupakan salah satu kelemahan data SAKERNAS untuk mengukur pemanfaatan buruh/karyawan berdasarkan pendapatan. Dari uraian tersebut, diharapkan penelitian ini dapat menjadi titik tolak untuk penelitian tentang pemanfaatan pekerja buruh/karyawan, terutama dari segi pendapatan dengan unit analisis rumah tangga. Selain itu diusulkan supaya untuk pelaksanaan SAKERNAS yang akan datang, keluarga dapat dibuat sebagai unit analisis untuk pendapatan.

-

Kata Kunci : Pekerja,Buruh,Jawa Tengah,Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur

  1. S1-1989-2539-Nima_Sulina_Singarimbun-abstract.pdf  
  2. S1-1989-2539-Nima_Sulina_Singarimbun-bibliography.pdf  
  3. S1-1989-2539-Nima_Sulina_Singarimbun-tableofcontent.pdf  
  4. S1-1989-2539-Nima_Sulina_Singarimbun-title.pdf