Laporkan Masalah

Karakteristik pekerja museum di Daerah Istimewa Yogyakarta

R.M. Donny Surya Megananda, Prof. Drs. Kasto, M.A.; Drs. Sujali, M.S.

2000 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Penelitian tentang Karakteristik Pekerja Museum Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini merupakan studi analisa karakteristik pekerja di 22 (duapuluh dua) museum yang terdapat di Propinsi DIY. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik demografi, sosial ekonomi, dan pemanfaatan pekerja museum serta mengetahui kondisi permuseuman di Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah penelitian meliputi Kotamadya Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, dikarenakan hampir seluruh museum di Propinsi DIY terletak pada kedua wilayah tersebut. Propinsi DIY dipilih karena sebagai daerah tujuan wisata utama di Indonesia, keberadaan lembaga permuseuman yang banyak jumlahnya memiliki peran penting dalam mendukung kepariwisataan. Penentuan jumlah responden mempergunakan Tabel Morgan yang berasal daftar nama pekerja museum dan diambil sebanyak 150 orang secara acak. Pengumpulan data primer melalui survei lapangan terhadap responden pekerja museum dengan mempergunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Data sekunder dikumpulkan dari berbagai instansi, diantaranya; Biro Pusat Statistik, Bidang Muskala Kanwil Depdiknas Propinsi DIY, Bappeda. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan metode analisa deskriptif tabel silang dengan dibantu uji statistik chi square serta analisa kualitatif dari hasil wawancara mendalam terhadap narasumber kunci (responden terpilih). Hasil penelitian ini yaitu bahwa di seluruh klasifikasi museum; baik museum budaya, perjuangan dan pendidikan, dari tingkatan kondisi umum baik, sedang maupun kurang; memperlihatkan bahwa karakteristik pekerja menurut status mobilitasnya, pekerja migran permanen proporsinya lebih besar dari pekerja penglaju dan pekerja non migran. Pekerja museum berpendidikan menengah (65) persen) dan berpendidikan tinggi (62,2 persen) termasuk pekerja migran permanen. Karakteristik pekerja menurut status kawin dan tingkat pendapatan diperoleh hasil, bahwa pekerja berpenghasilan di atas Rp. 350.000,00 sebagian besar (51,7 persen) berstatus kawin namun tidak ada perbedaan tingkat gaji pekerja lajang dengan berstatus kawin. Pekerja berpendidikan tinggi memiliki proporsi terbesar (64,9 persen) dalam mendapatkan tingkat pendapatan di atas Rp 350.000,00, sehingga pendidikan pekerja berkorelasi positip dengan pendapatan. Jenjang pekerjaan yang dibedakan antara karyawan dan pekerja lepas, menunjukkan bahwa pekerja berpendidikan tinggi (81,1 persen) menempati posisi karyawan, sedang pekerja. berpendidikan rendah (57,6 persen) bekerja sebagai pekerja lepas. Perbedaan jumlah jam kerja antara karyawan dengan pekerja lepas terbukti secara signifikan. Pekerja berstatus karyawan sebagian besar (68,2 persen) bekerja dengan jumlah jam kerja normal per minggu (35-44 jam). Tetapi, pekerja lepas museum sebagian besar (53,4 persen) justru bekerja lebih dari jumlah jam kerja normal per minggu (lebih dari 45 jam).

-

Kata Kunci : Karakteristik Pekerja, Kota Yogyakarta,Sleman,DIY

  1. S1-2000-84888-R_M__Donny_Surya_Megananda-abstract.PDF  
  2. S1-2000-84888-R_M__Donny_Surya_Megananda-bibliography.PDF  
  3. S1-2000-84888-R_M__Donny_Surya_Megananda-tableofcontent.PDF  
  4. S1-2000-84888-R_M__Donny_Surya_Megananda-title.PDF