Transmigrasi spontan di Bandarlampung : Proses dan karakteristik sosial ekonominya : Studi kasus di Way Kandis Kedaton
R. Rijanta, Dr. Ida Bagoes Mantra
1986 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANWay Kandis merupakan pemukiman transmigran spontan di sebelah Timur Laut Kota Bandarlampung. Pemukiman ini dirintis oleh pelarian kolonis Metro dan Pringsewu dasawarsa 1950 an. Akhir tahun 1985 jumlah penduduknya mencapai 2559 jiwa dengan kepadatan penduduk mencapai 467 jiwa/km. Tekanan penduduk atas lahan pertanian sudah mencapai 2,26 artinya daerah ini sudah kritis dan daya dukung lingkungan sebenarnya sudah terlampaui. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses dan karakteristik sosial ekonomi transmigran spontan. Sasaran penelitian adalah transmigran spontan generasi I yang dipilih dengan sampel sistematik dari populasi yang ditentukan secara purposive. Analisa dilakukan dengan diskripsi tabel frekuensi, tabulasi silang dan uji Kai Kuadrat. Proses transmigrasi spontan didahului dengan kontak tidak langsung (57,346) secara individual dalam suatu ikatan kekerabatan yang kuat. Transmigran spontan di daerah tujuan menentukan arah perpindahan transmigran spontan sedaerah asal sesudahnya. Di daerah tujuan, mereka hanya tergantung penampungan sementara dari sanak saudara (51,36), sedangkan di dalam jaminan hidup hampir semuanya (94%) transmigran spontan menyatakan tak tergantung bantuan kepada siapapun. Dalam suatu kelompok masyarakat transmigran spontan yang menetap di suatu daerah terjadi seleksi yang cenderung semakin ketat bagi transmigran spontan yang dating berikutnya. Sifat kekerabatan yang tinggi mampu menumbuhkan daerah transmigrasi spontan relatif cepat. Sifat kekerabatan yang dilihat dari menonjolnya peranan sanak saudara dalam proses transmigrasi spontan, ternyata membawa kemunduran pula dalam taraf hidup mereka. Hanya dalam waktu kurang dari 40 tahun sejak daerah ini dibuka, sudah 45,398 rumahtangga transmigran spontan berada di dalam taraf hidup miskin menurut kriteria Sayogyo. Kemiskinan ini berkaitan dengan latar belakang pemilikan lahan yang sudah sempit dan sudah menurun kesuburannya, pertumbuhan alami yang tinggi, orientasi tanam yang terbatas pada tanaman pangan serta belum berkembangnya mata pencaharian di luar pertanian, Suatu hal yang dapat dianggap sebagai respon atas situasi yang semakin buruk ini antara lain adanya mobilitas penduduk bermotif ekonomi, baik mobilitas permanen maupun non permanen. Migrasi untuk merintis daerah baru di Lampung Utara dan Selatan banyak dilakukan oleh keluarga pecahan transmigran spontan generasi I. Sedangkan bagi mereka yang belum berkeluarga biasanya melakukan sirkulasi atau commuting untuk melakukan pekerjaan di luar pertanian.
-
Kata Kunci : Transmigrasi,Bandarlampung,Transmigran,Kecamatan Kedaton,Lampung