ANALISIS MODE DAN EFEK KEGAGALAN PADA PROSES PENGISIAN DAN PENUTUPAN COCA-COLA 295 ML GUNA MENGURANGI TINGKAT KEGAGALAN PRODUK (STUDI KASUS DI PT. COCA-COLA BOTTLING INDONESIA UNIT JAWA TENGAH)
Chrahitta Rumaris A. R, Prof. Ir. Jamasri, Ph.D., IPU., ASEAN Eng
2008 | Skripsi | S1 TEKNIK INDUSTRIKegagalan dapat dikatakan sebagai sebuah fenomena natural dari produk atau proses apapun. Kemunculan kegagalan terkadang sulit untuk dapat diprediksi, sementara sering sekali dampak yang diakibatkan oleh kegagalan bersangkutan dengan performansi produk atau proses. Begitu pula yang terjadi di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Unit Jawa Tengah yang dalam proses produksinya tidak luput dari kegagalan. Penelitian Tugas Akhir ini membahas mengenai mode dan efek kegagalan pada proses pengisian dan penutupan Coca-Cola 295 ml guna mengurangi tingkat kegagalan produk di PT. Coca-Cola Bottling Indonesia Unit Jawa Tengah. Tujuan yang ingin dicapai adalah mengetahui mode kegagalan yang paling beresiko pada proses pengisian dan penutupan produk Coca-Cola 295 ml, mengetahui efek dan penyebab dari mode kegagalan yang paling beresiko tersebut, serta merekomendasikan tindakan yang dapat diambil untuk mengurangi tingkat kegagalan produk. Metode yang digunakan adalah FMEA (Failure Mode and Effects Analysis) yaitu dengan mengidentifikasi kegagalan yang mungkin terjadi, memberi skala prioritas dari setiap jenis kegagalan, menentukan tindakan perbaikan, dan pada akhirnya dapat mengurangi terjadinya kegagalan. Dalam proses pengisian dan penutupan Coca-Cola 295 ml, mode kegagalan yang paling beresiko adalah yang memiliki RPN tertinggi yaitu filling height baik pada tahap filling maupun snifting. Tindakan yang direkomendasikan untuk menanggulangi mode kegagalan filling height pada tahap filling diantaranya adalah dengan melakukan pengecekan guna memastikan kondisi vent tube, rubber seal, snift valve dan tupper flange setiap awal shift kerja atau setiap gejala abnormal mulai terlihat, meluruskan atau bersihkan vent tube, mengganti vent tube, rubber seal, snift valve dan tupper flange bila diperlukan, memberikan pelatihan terhadap operator tentang cara setting vent tube yang benar, dan memberikan penandaan (marking) pada area setting vent tube. Sedangkan tindakan yang direkomendasikan untuk menanggulangi mode kegagalan filling height pada tahap snifting adalah dengan melakukan pengecekan guna memastikan kondisi snift valve setiap awal shift kerja atau setiap gejala abnormal mulai terlihat dan mengganti snift valve yang bocor.
Kata Kunci : FMEA, RPN, mode kegagalan, efek kegagalan, penyebab kegagalan, dan rekomendasi tindakan