Laporkan Masalah

Evaluasi Klinis dan Faktor Risiko Kanker Payudara di Sub Unit Radioterapi RSUP DR. Sardjito 15 Agustus 1994 – 15 Desember 1994

Hendro Pratomo Setyo, dr. J.B.Soebroto

1995 | Skripsi | S1 KEDOKTERAN

Intisari kanker payudara di Indonesia adalah 18,3% dan menempati urutan ke-2 terbanyak diantara 10 Jenis kanker utama pada wanita di Indonesia (Marwoto, 1989 cit Soenarto, 1990). Kebanyakan penderita datang ke rumah sakit dalam keadaan terlambat penyakit sudah berjalan lanjut. Penelitian ini merupakan survei diskriptif yang bertujuan untuk memperoleh gambaran klinis dan gambaran paparan faktor risiko penderita kanker payudara. Dari penelitian ini diharapkan akan memberi sumbangan informasi untuk peningkatan penatalaksanaan kanker payudara baik dalam skripsi maupaun informasi kepada masyarakat sehingga mereka lebih waspada, sekaligus mencegah sikap karsinofobi yang tidak proporsional. Subyek penelitian adalah penderita kanker payudara yang sedang mengalami radioterapi di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta sejak 15 Agustus 1994 sampai 15 Desember 1994. Dari 115 penderita kanker payudara yang menjalani radioterapi dalam jangka waktu itu, dapat ditemui dan dilakukan wawancara terhadap 91 penderita kanker payudara., Dalam penelitian ini didapatkan 47,3% penderita berada dalam stadium IlIA, 28,6% yang berada pada stadium lanjut yaitu stadium IIIB dan IV. Hanya 13,2% yang berada dalam stadium I dan II. Pada kanker payudara stadium lanjut dijumpai 88,5% berpendidikan rendah dan 73,1% memeriksakan diri ke dokter setelah lebih dari satu tahun sejak pertama kali mengetahui adanya kelainan pada payudara. Pada kanker payudara stadium awal mereka yang berpendidikan rendah 59% dan 67,9% memeriksakan diri dalam waktu kurang dari 1 tahun sejak pertamamengetahui adanya kelainan pada payudara. Sebanyak 93,4% dari penderita kanker payudara tersebut tidak pernah melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) karena mereka memang belum pernah mendengar tentang SADARI. Jenis histopatologis terbanyak adalah karsinoma duktal infiltratif, yaitu sebanyak 87,9%. Faktor risiko yang paling nampak adalah usia, dimana 80,2% penderita berusia diatas 35 tahun, atau 67,9% berusia diatas 40 tahun. Sebanyak 93,4% dari penderita kanker payudara tersebut paling tidak terpapar satu faktor risiko 'dan sebanyak 79,1% terpapar lebih dari satu faktor risiko. Dengan melihat hasil tersebut maka perlu disebarluaskan SADARI sebagai metode deteksi dini kanker payudara dan dicari bentuk penyuluhan yang tepat untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus mencegah sikap karsinofobi yang tidak proporsional. Bagi mereka yang tepapar faktor risiko diharapkan untuk lebih waspada.

Kata Kunci : Kanker payudara, radioterapi, penyuluhan


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.