Merarik-Beseang :: Studi tentang kawin cerai dan implikasinya pada masyarakat Sasak di Desa Gelanggang, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur
APRIYANI, Tristanti, Dra. Tuty Gandarsih MRS., M.S
2004 | Tesis | S2 AntropologiTujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari dan menganalisis proses pemberian makna yang dilakukan Masyarakat Sasak yang tinggal di Desa Gelanggang, Kecamatan Sakra Timur, Kabupaten Lombok Timur, terhadap dunia dan perilaku kawin cerai. Dengan demikian dapat dihasilkan gambaran dan pemahaman tentang perilaku kawin cerai dan persoalan yang ditimbulkan akibat perilaku tersebut terhadap berbagai aspek kehidupan. Secara singkat penelitian ini dilakukan dengan metode observasi untuk memahami kondisi dan karakteristik masyarakat yang diteliti dan wawancara mendalam untuk memahami berbagai aspek kehidupan dan tingkah laku orang Sasak terutama yang berkaitan dengan perilaku kawin cerai. Analisis terhadap data dilakukan secara deskriptif analitis, dengan menggunakan data kualitatif sebagai dasar deskripsi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan bagi Masyarakat Sasak merupakan pintu simbolik bagi masuknya laki-laki dan perempuan untuk diakui sebagai anggota masyarakat. Sehubungan dengan pandangan tersebut, seseorang akan diakui sebagai anggota masyarakat jika ia sudah menikah. Adanya pengakuan ini menyebabkan status, kewajiban dan hak seseorang dalam masyarakat dapat didefinisikan secara jelas. Bagi kelompok ekonominya kuat, perkawinan telah digunakan sebagai simbol penegasan status sosial atau mobilitas sosial seseorang. Selain itu, perkawinan dan perceraian juga dapat dijadikan legitimasi atas hegemoni laki-laki atas perempuan. Secara fisik maupun psikologis, perempuan dalam perkawinan dan perceraian selalu dikondisikan dalam posisi yang lemah. Bagi kaum perempuan itu sendiri, perkawinan tidak hanya berfungsi sebagai identitas sosial, melainkan juga jaminan hidup. Ketergantungan akan jaminan hidup dalam perkawinan membuat istri menerima apa pun risiko yang terjadi dalam perkawinannya, baik dimadu maupun diceraikan. Perkawinan dan perceraian oleh Masyarakat Sasak di Desa Gelanggang dipandang sebagai suatu yang telah digariskan Tuhan. Dalam hal ini agama, hukum adat, dan hukum negara, telah menjadi kekuatan untuk melembagakan kawin dan cerai dalam Masyarakat Sasak. Oleh karena itu dalam Kebudayaan Sasak poligami dan perceraian dilihat bukan sebagai pelanggaran terhadap nilai budaya. Intensitas kawin cerai yang tinggi akan mengandung implikasi dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam perekonomian rumahtangga. Dalam perceraian, perempuan lebih berisiko memikul penderitaan. Akibat ketergantungan yang tinggi kepada suami karena isteri bukan merupakan pencari nafkah utama, menjadikan perempuan yang diceraikan kehilangan jaminan hidup. Terlebih merekalah yang biasanya diserahi tugas mengasuh dan membesarkan anak. Perilaku kawin cerai pun ikut berimplikasi kepada kehidupan anak-anak. Anak-anak yang orang tuanya bercerai, mengalami gangguan kesejahteraan fisik, materi dan emosional atau rohani.
This study was an effort to understand and analysis the process of symbolical meaning in Sasak community, especially in Gelanggang village, East Sakra sub-district, eastern Lombok regarding the marital and divorce behaviors. This study was also done to understand its impact on their lifecycles. Participant observation and dept interview are employed as the method used to understand the Sasak community behaviors related to marriage and divorce phenomena. Descriptive method used to data analysis considered able to support data analysis maximally. This research shows, that marriage is a sign to declare the Sasakness male and female to be a members of the community. Based on this point of view, a man will be accepted as a member of the community when he or she was been a marriage. The declaration of the new members cause their status, responsible and their right in the community can be defined clearly. In another case, marriage can be a symbol for social status or social mobility, specifically in some groups with stronger economic status. Marriage and divorce also can be legitimating for male dominated. In other side, marriage for female is symbol for social identity and also for living insurance. The high female dependencies in marital institution make them accept all of the marital risk, including divorce and polygamy. Sasak community in Gelanggang village, understand that marriage as a responsible to the God. In this case, religion, tradition rule, and the formal rule (state rule) has become a frame to support the institution of marriage and divorce in the whole of Sasak community. So, the phenomena of marriage and divorce can’t be seen as a deviant in the value of Sasak culture. The high intensity of divorce will affecting to the life aspects, mainly in household economy. In a divorce, female more risky to suffer as an excess of high dependency to their husband as the main economic responsibility. Female only has responsible to keep their own children growing. Divorce behaviors, therefore, will affecting the physical, emotional, psychological, and the economic welfare of the children.
Kata Kunci : merarik, beseang, kawin cerai, Masyarakat Sasak, marriage divorce, Sasak community