Owah Ora Malih, Malih Ora Owah, Malih: Makna Semiotika Di Balik Perubahan Arsitektur Pagelaran Karaton Yogyakarta Abad Ke-20
SRI SUNARTI, Prof.Ir. Sudaryono, M.Eng; Ph.D
2025 | Disertasi | S3 Teknik Arsitektur
Pagelaran Karaton Yogyakarta diyakini tidak
berubah, namun pada abad ke-20 Pagelaran berubah dengan munculnya
kebaruan arsitektur beserta elemennya yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Artikel penelitian tentang Karaton Yogyakarta sebagai
pusat studi budaya Jawa sudah banyak disampaikan.
Sedangkan penelitian makna dibalik berubahnya Pagelaran di abad ke-20 belum ada.
Peneliti bermaksud melakukan penelitian bertujuan
menemukan makna dibalik perubahan tersebut.
Penelitian ini disampaikan dalam bentuk narasi, hingga
diterapkan metode deskrispsi kualitatif dari mulai tahap awal sampai akhir. Tahap awal
penggalian data, dilakukan dengan metode pendekatan semiotika Triadik Charles Peirce dan dijelaskan lebih lanjut
oleh semiotika Diadik de Saussure. Tahap II
melakukan analisis sebagai dasar menyusun interpretasi, hingga memperoleh
temuan yang signifikan.
Kesimpulan penelitian ini menemukan terjadinya Dominasi visual
menggantikan spasial, Dominasi visual menggantikan pentingnya aktivitas, dan
Dominasi visual menunjukkan periode melalui perubahan owah ora malih-malih ora
owah-malih. Teori Peirce di dalam kajian ini membuktikan bahwa secara umum masih relevan tetapi mengalami perubahan
yang radikal terutama disisi representamennya
yang mengakibatkan interpretan juga harus dimaknai secara berbeda.
It is believed that the
Pagelaran Karaton Yogyakarta did not change, however, in the 20th century, the Pagelaran changed due to new architecture and its
elements that had never happened before. There have been research articles about the Yogyakarta
Karaton as a center for Javanese cultural studies. Research, meanwhile, on the meaning behind
the changes in the Pagelaran in the 20th century has not been carried on. Therefore, the
researcher intends to
conduct research to gain the meaning behind the changes.
This research was a
narrative form, until the qualitative descriptive method was applied from the beginning to the end. The initial stage of data collection was
conducted using Charles Peirce's Triadic semiotic approach method and further explained by de
Seassure's Dyadic semiotics. In stage II, analysis as a basis for compiling interpretations
was carried on, in order to obtain significant findings.
The research has
concluded found that isual dominance typo spasial, visual dominance typo the importance of activity, and visual dominance showed the period
through changes in owah ora malih-malih ora owah-malih. Peirce’s theory in this study proves
that in general it is still relevant but has experienced radical changes, especially in terms of
its representation, which results in the interpretant also having to be interpreted
differently.
Kata Kunci : Semiotika, Perubahan, Arsitektur