Pola Wacana Ceramah Agama Islam Berbahasa Inggris
Tri Rina Budiwati, Dr. Amir Ma'ruf, M.Hum.; Dr. Tofan Dwi Hardjanto, M.A.
2025 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Analisis genre model CARS (Create a Research Space) rancangan
Swales yang pada awalnya lebih banyak dilakukan di ranah akademis sekarang
sudah meluas pada ranah yang lain, misalnya pada teks agama. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan (1) menjelaskan
rujukan ceramah agama
Islam yang menjadi panduan bagi penceramah; (2) merumuskan dan menjelaskan langkah retorika (rhetorical moves) yang mencerminkan
fungsi-fungsi komunikatif tersusun di dalam struktur dan pola
wacana dalam teks ceramah agama
Islam berbahasa Inggris; (3) mengkategorikan dan menganalisis penanda kebahasaan yang
digunakan pada langkah dan tahap ceramah untuk membangun fungsi sosial dan tujuan komunikasi
dalam teks ceramah agama Islam
berbahasa Inggris; dan (4) mengkategorikan dan menganalisis penanda
metawacana (metadiscourse markers) untuk melibatkan hadirin dan
mendukung strategi persuasif dalam
teks ceramah agama Islam berbahasa Inggris.
Penelitian
ini merupakan analisis genre berbasis korpus dengan alat bantu dalam bentuk software NVivo dan AntConc
digunakan untuk mengklasifikasi dan mengolah data kuantitatif dan kualitatif
secara bersamaan sebagai karakteristik penelitian campuran (mixed methods). Data
penelitian dalam penelitian adalah berupa satuan kata, frase, klausa, kalimat,
dan wacana dalam 15 transkrip rekaman video ceramah agama Islam berbahasa
Inggris yang dipilih dari YouTube yang diunggah antara tahun
2017 sampai 2020.
Penelitian ini menemukan beberapa hal. Pertama, tatacara ceramah dalam Islam sesuai tuntunan Nabi Muhammad saw berdasarkan rujukan tiga kitab karya Syeikh Al Albaani dan Syeikh Al Jauziyah meliputi mengucapkan salam (pembuka), membuka dengan hamdalah (sanjungan/pujian kepada Allah), mengucapkan syahadatain, mengucapkan shalawat, mengucapkan bacaan ayat-ayat taqwa, dan mengucapkan perkataan amma ba’d), mengisi ceramah dengan pesan taqwa dan menutup dengan doa penutup majelis. Semua penceramah, secara garis besar, mengikuti pola ceramah Nabi Muhammad saw tersebut. Secara struktur, ceramah YQ, MP, IP, dan OS yang paling mendekati struktur yang sesuai tuntunan Nabi Muhammad Saw karena memiliki minimal 3 tahap meskipun tidak urut. Kedua, dengan mengadopsi konsep Swales, penelitian ini menemukan pola wacana dan struktur langkah-tahap pada genre ceramah agama Islam berbahasa Inggris yang khas. Secara keseluruhan, terdapat 2 langkah wajib (obligatory moves), 1 tahap wajib (obligatory steps), 9 langkah prototipikal (prototypical moves), 41 tahap pilihan (optional steps), dan 2 subtahap pilihan (optional substeps). Masing-masing langkah (moves), tahap (steps), dan subtahap (substeps) memiliki fungsi komunikatif sesuai nama kodingnya. Pada bagian A (pembukaan ceramah) langkah yang paling banyak dilakukan adalah membuka ceramah dan tahap yang paling banyak dilakukan (80%) adalah mengucapkan salam pembuka yang memiliki fungsi komunikatif untuk menyapa hadirin dan memberikan doa kesejahteraan dan keberkahan kepada hadirin. Pada bagian B (isi ceramah) tahap yang paling banyak dilakukan (100%) adalah menjelaskan topik dengan didukung kutipan ayat-ayat Al Qur’an dan/atau Hadits Nabi yang memiliki fungsi komunikatif untuk menekankan pada hadirin bahwa topik atau masalah apapun terdapat rujukannya di dalam Al Qur’an dan Hadits sebagai pedoman umat Islam. Kemudian, pada bagian C (penutupan ceramah) tahap yang paling banyak dilakukan (100%) adalah menyatakan kesimpulan yang memiliki fungsi komuniatif untuk mengulang hal-hal penting yang menjadi inti dari ceramah sehingga isi ceramah dapat dengan mudah dipahami dan pesan kebaikan sampai kepada hadirin. Dari rumusan kedua ini juga ditemukan 15 model pola wacana yang membentuk struktur langkah dan tahap-subtahap dalam teks ceramah agama Islam berbahasa Inggris dalam bentuk bagan yang dibuat dalam bentuk skema koding struktur langkah-tahap. Ketiga, Dengan proses koding yang dibantu NVivo, penelitian ini menemukan 970 item (kata) dari 1999 referensi klausa/kalimat. Secara keseluruhan, NVivo menunjukkan bahwa penanda kebahasaan yang paling sering muncul adalah kata “Allah” (223 kali) dan diikuti dengan kata “prophet” (100 kali). Hal ini membuktikan bahwa fokus ceramah agama Islam adalah pada Allah sebagai pemberi risalah (semua hal yang mengatur kehidupan manusia untuk kebahagiaan dunia dan akhirat) dan Rasul sebagai utusan yang menyampaikan dan menjelaskan risalah kepada manusia. Pada bagian pembukaan ceramah, ungkapan-ungkapan yang mendominasi menunjukkan bahwa penceramah berusaha membangun suasana kondusif untuk memulai ceramhnya. Kemudian, penanda kebahasaan yang mendominasi pada bagian isi ceramah menunjukkan bahwa inti dari ceramah adalah ajaran dari Allah SWT dan teladan dari Nabi Muhammad saw. Selanjutnya, penanda kebahasaan yang mendominasi pada bagian penutupan ceramah menunjukkan bahwa dalam penutupan ceramah, penceramah berusaha menekankan pesan agama, memberikan doa dan harapan serta menutup ceramah dengan santun. Keempat, dengan konsep penanda metawacana model Hyland (2005), penelitian ini menemukan bahwa semua kategori (penanda interaktif dan interaksional) dan subkategori (penanda transisi, penanda bingkai, penanda endoforik, penanda pembuktian, penanda keterangan kode, pembentengan, penguat, penanda sikap, penanda penyebutan diri, dan penanda keterlibatan) digunakan oleh semua penceramah dengan frekuensi yang berbeda-beda. Dapat ditemukan bahwa metawacana interaksional (4.439) berjumlah 3 (tiga) kali lipat dari metawacana interaktif (1.372). Ini menjadi bukti bahwa penceramah menggunakan penanda metawacana interaksional untuk melibatkan hadirin dalam ceramah dan mendukung strategi persuasif sehingga tujuan penceramah untuk mempengaruhi hadirin melakukan kebaikan (taat kepada Allah dan Rasul) dapat tercapai.
This study is a corpus-based genre analysis with
tools in the form of NVivo and AntConc software used to classify and process
quantitative and qualitative data simultaneously as a characteristic of mixed
methods research. The research data in the study are in the form of word units,
phrases, clauses, sentences, and discourses in 15 transcripts of video
recordings of Islamic religious lectures in English selected from YouTube,
which were uploaded between 2017 and 2020.
This research found several things. First, lecture procedures in Islam according to the guidance of the Prophet Muhammad saw based on references to three books by Sheikh Al Albaani and Sheikh Al Jauziyah include saying greetings (opening), opening with hamdalah (praise/praise to Allah), saying syahadatain, saying shalawat, reciting taqwa verses, and saying the words amma ba'd), filling the lecture with a message of taqwa and closing with the closing prayer of the assembly. All the lecturers, in general, followed the pattern of the Prophet Muhammad's lectures. Structurally, the YQ, MP, IP, and OS lectures are closest to the structure according to the guidance of the Prophet Muhammad SAW because they have at least 3 stages, although they are not sequential. Second, by adopting Swales' concept, this study found discourse patterns and step-by-step structures in the genre of Islamic religious lectures in English that are typical. Overall, there are 2 obligatory moves, 1 obligatory step, 9 prototypical moves, 41 optional steps, and 2 optional sub steps. Each move, step, and sub step has a communicative function based on its coding name. In part A (opening the lecture), the most frequently performed step is opening the lecture and the most frequently performed step (80%) is saying an opening greeting which has a communicative function to greet the audience and give prayers for well-being and blessings to the audience. In part B (lecture content) the most frequently performed stage (100%) is explaining the topic supported by quotations of verses of the Qur'an and/or Hadith of the Prophet which have a communicative function to emphasize to the audience that any topic or problem has references in the Qur'an and Hadith as a guideline for Muslims. Then, in part C (closing the lecture) the most frequently performed stage (100%) is stating a conclusion which has a communicative function to repeat important things that are the core of the lecture so that the contents of the lecture can be easily understood and the message of goodness reaches the audience. From this second formulation, 15 models of discourse patterns were also found that form the structure of steps and sub-stages in the text of an Islamic religious lecture in English in the form of a chart made in the form of a coding scheme for the structure of steps. Third, with the coding process assisted by NVivo, this study found 970 items (words) from 1999 clause/sentence references. Overall, NVivo showed that the most frequently occurring linguistic markers were the word “Allah” (223 times) followed by the word “prophet” (100 times). This proves that the focus of Islamic religious lectures is on Allah as the giver of the message (all things that regulate human life for happiness in the world and the hereafter) and the Messenger as the messenger who conveys and explains the message to humans. In the opening part of the lecture, the dominant expressions indicate that the speaker tries to build a conducive atmosphere to start his lecture. Then, the dominant linguistic markers in the content of the lecture indicate that the core of the lecture is the teachings of Allah SWT and the example of the Prophet Muhammad SAW. Furthermore, the dominant linguistic markers in the closing part of the lecture indicate that in closing the lecture, the speaker tries to emphasize the religious message, give prayers and hopes and close the lecture politely. Fourth, with the concept of metadiscourse markers model Hyland (2005), this study found that all categories (interactive and interactional markers) and subcategories (transition markers, frame markers, endophoric markers, proof markers, code description markers, fortifications, reinforcers, attitude markers, self-mention markers, and involvement markers) were used by all speakers with varying frequencies. It can be found that interactional metadiscourse (4,439) is 3 (three) times more than interactive metadiscourse (1,372). This is evidence that speakers use interactional metadiscourse markers to involve the audience in the lecture and support persuasive strategies so that the speaker's goal of influencing the audience to do good (obey Allah and the Messenger) can be achieved.
Kata Kunci : ceramah agama Islam, langkah dan tahap, penanda kebahasaan dan metawacana, pola wacana