Laporkan Masalah

Peran PUSPAGA Dalam Penanganan Pernikahan Anak: Studi Pada PUSPAGA Bahagia di Kabupaten Pati

Tamara Orchida Zelsydelina, Nurhadi, S. Sos, M. Si, Ph.D

2025 | Skripsi | ILMU SOSIATRI

Pernikahan anak adalah permasalahan sosial yang sering ditemui di negara berkembang seperti Indonesia. Fenomena ini muncul akibat dari permasalahan kemiskinan dan kenaikan jumlah penduduk, terutama di Pulau Jawa. Pernikahan anak dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia sebab mereka yang menikah di usia anak belum memiliki kesiapan secara batin dan fisik. Anak-anak cenderung berisiko mengalami berbagai dampak buruk seperti putus sekolah, kekurangan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, perceraian dan lain-lain. Untuk mengurangi angka pernikahan anak, pemerintah membentuk unit layanan PUSPAGA. Layanan PUSPAGA menyediakan layanan konseling untuk meningkatkan kapasitas keluarga sehingga orang tua dapat melindungi hak-hak anak. 

Namun, penelitian tentang peran PUSPAGA dalam menangani kasus pernikahan anak masih terbatas. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk peran PUSPAGA secara pencegahan dan penanganan dalam menangani kasus pernikahan anak di Kabupaten Pati. Penelitian ini Bowen Family System Theory,  teori struktural fungsional oleh Talcott Parsons, dan Teori Institusional sebagai pisau analisis dalam mengkaji masalah penelitian. 

Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif untuk mendapatkan sudut pandang PUSPAGA Bahagia dalam menangani kasus pernikahan anak atas pelayanan yang mereka sediakan. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode wawancara mendalam bersama informan secara tatap muka. Peneliti mewawancarai empat pelaksana layanan PUSPAGA, satu pegawai Dinas Sosial P3AKB, dan dua pegawai pemerintah desa. Data yang didapatkan didukung dengan studi pustaka berupa artikel, laporan, jurnal, dan media sosial. 

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran PUSPAGA Bahagia dibagi menjadi program pencegahan dan program penanganan. Program pencegahan berfokus pada penguatan kemampuan dan keterampilan keluarga sedangkan program penanganan berfokus pada pemahaman pengambilan keputusan, manajemen kasus, pemantauan, evaluasi, dan lain-lain. PUSPAGA tersusun dari unsur terkait seperti sistem, stakeholder, dan strategi. Stakeholder yang berelasi dengan PUSPAGA adalah klien, masyarakat, dan pemerintah desa. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, PUSPAGA menghadapi berbagai tantangan mulai dari pemahaman masyarakat terhadap pernikahan anak, pemahaman masyarakat terhadap peran PUSPAGA, dan keterbatasan sumber daya. Dari data catin yang mengajukan rekomendasi pernikahan anak di tahun 2024 menunjukkan penurunan yang cukup signifikan daripada tahun 2023.



Child marriage is a common social problem in developing countries like Indonesia. This phenomenon arises as a result of poverty and population increase, especially in Java. Child marriage is considered a violation of human rights because those who marry at a young age are not yet mentally and physically ready. Children tend to be at risk of experiencing various adverse impacts such as school dropouts, economic deprivation, domestic violence, divorce and others. To reduce the number of child marriages, the government established the PUSPAGA service unit. PUSPAGA services provide counseling services to increase family capacity so that parents can protect children's rights. 

However, research on the role of PUSPAGA in handling child marriage cases is limited. The main objective of this study is to describe the preventive and mitigating roles of PUSPAGA in handling child marriage cases in Pati Regency. This research uses the Bowen Family System Theory, The Functional Structural Theory by Talcott Parsons, and Institutional Theory  as an analytical tool in examining the research problem. 


The researcher used descriptive qualitative research method to obtain PUSPAGA Bahagia's perspective in handling child marriage cases for the services they provide. Data collection was carried out using the in-depth interview method with informants face-to-face. The researcher interviewed four PUSPAGA service providers, one P3AKB Social Agency employee, and two village government employees. The data obtained was supported by literature studies in the form of articles, reports, journals, and social media. The data obtained by the researcher was re-analyzed and then tested using source triangulation. 


The results of this study show that the role of PUSPAGA Bahagia is divided into prevention programs and treatment programs. The prevention program focuses on strengthening family abilities and skills while the treatment program focuses on understanding decision-making, case management, monitoring, evaluation, and others. PUSPAGA is composed of related elements such as systems, stakeholders, and strategies. Stakeholders related to PUSPAGA are clients, the community, and the village government. In providing services to the community, PUSPAGA faces various challenges ranging from community understanding of child marriage, community understanding of the role of PUSPAGA, and limited resources. Data from who submitted child marriage recommendations in 2024 showed a significant decrease compared to 2023.




Kata Kunci : Pernikahan anak, PUSPAGA, bentuk dan dinamika peran

  1. S1-2025-473357-abstract.pdf  
  2. S1-2025-473357-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-473357-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-473357-title.pdf