Laporkan Masalah

Analisis Perbandingan Logistik Peternakan Sapi di Indonesia dan Australia

Cahyo Bintoro Aryoseno, Prof. Ir. Suryo Hapsoro Tri Utomo, Ph.D., IPU., ASEAN.Eng.

2025 | Skripsi | TEKNIK SIPIL

Di Indonesia, praktik peternakan masih didominasi oleh sistem tradisional dan peternak skala kecil, yang menyebabkan rantai pasokan menjadi lebih kompleks. Tantangan utama yang dihadapi meliputi kesulitan dalam standardisasi proses, ketertelusuran produk, serta faktor budaya dan agama yang berpengaruh dalam penanganan ternak, seperti persyaratan halal. Di sisi lain, Australia memiliki sistem peternakan yang lebih maju dengan infrastruktur yang lebih terstandarisasi dan efisien, memungkinkan rantai pasokan yang lebih terorganisir. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kesenjangan infrastruktur, memahami kompleksitas rantai pasokan, serta mengevaluasi penerapan teknologi dalam sistem logistik ternak di Indonesia dibandingkan dengan Australia. 

Penelitian ini berfokus pada analisis perbandingan logistik peternakan antara Indonesia dan Australia, dengan menyoroti tantangan yang dihadapi dalam rantai pasokan ternak di kedua negara Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah analisis komparatif terhadap berbagai aspek logistik, termasuk infrastruktur transportasi, penggunaan teknologi, serta kebijakan pemerintah yang berpengaruh terhadap distribusi ternak di kedua negara. Data dikumpulkan melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif, dengan data primer diperoleh dari observasi langsung, wawancara dengan pelaku industri, serta interaksi dengan penyedia jasa logistik. Selain itu, data sekunder dikumpulkan dari berbagai sumber, seperti literatur akademik, laporan industri, dan dokumen pemerintah yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan, wawancara mendalam, serta analisis dokumentasi untuk mendapatkan gambaran menyeluruh mengenai sistem logistik ternak di kedua negara. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Australia memiliki keunggulan dalam infrastruktur logistik dibandingkan Indonesia, baik dalam hal kualitas jalan maupun sistem transportasi yang lebih modern. Infrastruktur logistik di Australia dirancang dengan lebih baik, sehingga tingkat efisiensinya lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Selain itu, kondisi geografis di Indonesia yang lebih berbukit dan cenderung ekstrem menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan logistik ternak. Di sisi lain, Australia memiliki kondisi geografis yang lebih merata dan didukung oleh fasilitas penunjang yang lebih baik, termasuk sistem karantina dan kesejahteraan hewan yang lebih optimal, seperti yang terlihat pada fasilitas di Darwin dibandingkan dengan Jakarta. Perbedaan ini menunjukkan perlunya perbaikan infrastruktur dan teknologi logistik di Indonesia agar dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor peternakan nasional. 

Livestock farming in Indonesia remains largely dominated by traditional systems and small-scale producers, contributing to a highly complex supply chain. Major challenges include the lack of standardized processes, limited product traceability, and the influence of cultural and religious factors, such as halal requirements, in livestock handling. In contrast, Australia has developed a more advanced and standardized livestock industry infrastructure, resulting in a more organized and efficient supply chain. This study aims to identify infrastructure gaps, examine supply chain complexity, and assess the adoption of technology in livestock logistics systems in Indonesia compared to Australia. 

A comparative analysis approach is employed, focusing on key logistical components including transportation infrastructure, technological integration, and government policies affecting livestock distribution. Data were obtained through both qualitative and quantitative methods. Primary data collection involved field observations, in-depth interviews with industry stakeholders, and interactions with logistics service providers. Secondary data were sourced from academic literature, industry reports, and relevant government documents. Data collection techniques included field surveys, structured interviews, and document analysis to construct a comprehensive overview of livestock logistics systems in both countries. 

The findings indicate that Australia possesses superior logistical infrastructure compared to Indonesia, characterized by higher road quality and a more modern transport system. The Australian system demonstrates greater efficiency, supported by favorable geographic conditions and advanced supporting facilities, such as optimized quarantine and animal welfare systems—exemplified by infrastructure in Darwin relative to Jakarta. Conversely, Indonesia's challenging topography exacerbates logistical inefficiencies. These findings underscore the critical need for Indonesia to improve its logistics infrastructure and technological capabilities in order to enhance the efficiency and global competitiveness of its livestock sector. 

Kata Kunci : Peternakan, Logistik, Pangan, Infrastruktur, Industri,Livestock, Logistics, Supply Chain, Infrastructure, Comparative Study

  1. S1-2025-431342-abstract.pdf  
  2. S1-2025-431342-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-431342-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-431342-title.pdf