Peningkatan Produktivitas Proses Bisnis Electronic Traffic Law Enforcement Menggunakan COBIT 2019 dan Lean Six Sigma: Studi Kasus Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah di Indonesia
Dewa Ketut Wira Wahyu Mahendra, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc, Ph.D., IPU, ASEAN Eng.;Dr. Ir. Guntur Dharma Putra, S.T., M.Sc.
2025 | Tesis | S2 Teknologi Informasi
Meningkatnya tren pelanggaran lalu lintas menuntut kinerja yang andal dari Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Namun, rangkaian aktivitas penegakan hukum dalam proses bisnis ETLE masih kesulitan menangani volume pelanggaran yang terus bertambah, dengan capaian penindakan tahunan dalam studi kasus ini berkisar antara 0,51% hingga 3,01%, menyebabkan lebih dari 95% data pelanggaran tidak diproses. Capaian ini lebih rendah dibandingkan penegakan hukum lalu lintas konvensional yang mencapai 10%. Situasi ini menekankan perlunya perbaikan dalam sistem ETLE, khususnya pada proses bisnisnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan proses bisnis penegakan hukum lalu lintas berbasis ETLE yang sedang berjalan serta meningkatkan efisiensinya melalui peningkatan produktivitas proses validasi. Evaluasi dilakukan menggunakan kerangka kerja COBIT 2019, dengan fokus pada proses DSS01, yang diintegrasikan dengan process mining dan graph similarity. Hasil evaluasi menunjukkan adanya kesenjangan antara tingkat kapabilitas proses saat ini dan yang diharapkan. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa proses bisnis ETLE yang didukung DSS01 belum sepenuhnya berjalan secara optimal.
Tahap Define, Measure, Analyze, Improve dalam Lean Six Sigma diterapkan untuk mengidentifikasi faktor penyebab terjadinya bottleneck pada proses validasi dan mengevaluasi skenario perbaikan. Perbaikan proses mencakup 12 skenario yang berfokus pada penyesuaian sumber daya dan mekanisme validasi, yang keduanya mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan melalui peningkatan jumlah pelanggaran yang ditindaklanjuti, peningkatan pembayaran PNBP, serta pengurangan waste dan pemanfaatan sumber daya yang lebih optimal sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi proses.
Skenario dalam model penyesuaian sumber daya mencapai peningkatan produktivitas tertinggi sebesar 7,06% dengan pertumbuhan 205,02%, disertai peningkatan pembayaran PNBP sebesar 8,73% serta pengurangan waste dan total waktu masing-masing 4,86% dan 35,97%. Skenario dengan perpanjangan periode validasi menunjukkan hasil yang lebih signifikan, dengan produktivitas validasi meningkat 433,89%, capaian validasi mencapai 12,36%, serta pertumbuhan pembayaran PNBP sebesar 88,87% dan penurunan waste sebesar 10,28%. Sementara itu, skenario dengan validasi berbasis tingkat risiko yang dikombinasikan dengan perpanjangan periode validasi menunjukkan peningkatan produktivitas mencapai 10,37% dengan pertumbuhan 347,91%, disertai kenaikan pembayaran PNBP hingga 68,80% serta pengurangan waste sebesar 8,24%.
The increasing trend in traffic violations requires a reliable performance of Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). However, the set of off-site enforcement activities in the ETLE business process struggles to handle the growing volume of violations, with the annual validation rate in this case study of 0,51% to 3,01%, leaving more than 95% of violation data unprocessed. This rate was lower than on-site enforcement, reaching 10%. This situation emphasizes the need for improvements in ETLE, particularly its business processes.
The study aims to evaluate the implementation of the ETLE-based traffic law enforcement business process and enhance its efficiency by improving validation process productivity. The evaluation phase implemented COBIT 2019 framework, focusing on the DSS01 process, integrating with process mining and graph similarity. The results show a gap between the current and target capability levels of DSS01 process. This gap demonstrates that the ETLE business process, supported by DSS01, has not achieved optimal performance yet.
For Define, Measure, Analyze, Improve (DMAIC) phase of the Lean Six Sigma methodology, transition time analysis, cause-effect diagrams, and discrete-event simulation were applied to identify potential bottlenecks in the validation process and simulate several improvement scenarios. The improvement phase included 12 scenarios focusing on resource adjustment and validation mechanisms, which significantly increased productivity through more validated violations, increased non-tax state revenue (PNBP) payments, and reduced waste and optimizing resource utilization as part of efforts to improve process efficiency.
The resource adjustment model achieved the highest productivity increase of 7,06%, with a growth of 205,02%, accompanied by a 8,73% increase in PNBP payments and reductions in waste and the total time violations spent in the system by 4,86% and 35,97%, respectively. The extended validation period scenario experienced more significant results, with validation productivity increasing by 433,89%, a validation rate of 12,36%, a 88,87% increase in PNBP payments, and a 10,28% reduction in waste. Meanwhile, the scenario with risk-based validation combined with an extended validation period achieved a productivity increase of 10,37% with a growth of 347,91%, accompanied by an increase in PNBP payments of up to 68,80% and a waste reduction of 8.24%.
Kata Kunci : Arena, COBIT 2019, DES, discrete-event, DSS01, ETLE, lean six sigma, minitab, penegakan hukum lalu lintas, polisi, process mining, simulasi