100 unit usaha). Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan bantuan kuesioner. Vaniabel¬variabel yang diteliti adalah nilai produksi, nilai investasi, kapasitas/ jumlah produksi, jumlah tenaga kerja, jangkauan daerah/ luasan daerah pemasaran dan asal bahan balm sebagai variabel level industri serta jumlah unit usaha per kelurahan/ desa, kepadatan penduduk, kepadatan jaringan jalan, jumlah rumah tangga pelanggan listrik dan jumlah fasilitas toko sebagai variabel level wilayah. Data diolah dengan menggunakan program SPSS v.10 under window. Teknik analisis yang digunakan antara lain Teknik Korelasi Product Moment dan Pearson dengan signifikansi antara 0,01 dan 0,05; Indeks Diversifikasi dan Teknik Chi Square dengan batas kemaknaan alpha (0c) 0,05. Adapun untuk tampilan peta, pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Program Arcview versi 3.2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebagian besar unit usaha bordir yang terkonsentrasi di daerah penelitian merupakan industri skala kecil dan rumah tangga yang rata-rata memerlukan investasi usaha kecil (< 200 juta rupaih) serta penggunaan tenaga kerja/ pengrajin relatif sedikit (1-19 orang). Secara spasial daerah yang memiliki rata-rata nilai produksi paling tinggi adalah Kelurahan Gununggede (22 unit usaha) dengan nilai produksi per tahunnya rata-rata Rp. 249.446.591,00 sedangkan daerah yang memiliki rata-rata nilai produksi per tahun paling rendah adalah Kelurahan Talagasari (197 unit usaha) dengan nilai produksi per tahun rata-rata Rp. 124.024.568,00. Besar kecilnya nilai produksi industri bordir di daerah penelitian tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi seperti faktor investasi (mesin dan modal usaha), jumlah tenaga kerja/ pengrajin, dan faktor kapasitas/ jumlah produksi yang mampu dihasilkan oleh setiap unit usaha. lndustri kerajinan bordir di Kecamatan Kawalu memiliki keterkaitan produksi dengan daerah lain cukup luas baik dengan daerah tingkat lokal, regional, nasional, maupun tingkat internasional terutama dengan Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya dalam pemenuhan input produksi dan daerah Jakarta (Tanah Abang), serta Negara Malaysia dalam memasarkan produknya. Adapun faktor-faktor wilayah penunjang industri seperti kepadatan penduduk dan jaringan jalan beraspal serta keberadaan fasilitas toko, tidak berpengaruh terhadap pola persebaran industri bordir yang ada. Hal itu dikarenakan karakter industri kerajinan bordir yang bersifat footlose atau berdiri sendiri dan mudah didirikan di daerah yang telah tersedia fasilitas pelayanan listrik. In general, this research "Karakteristik Produksi dan Distribusi Spasial Industri Kecil Bordir di Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya" has 3 objectives, as followed : (1) looking for spatial variety of embroidery production in villages including the factors affect it, (2) looking for correlation of production spatial between area chosen and the other areas (3) to explain the pattern of spatial distribution of embroidery industry in the research area, and (4) looking for factors of region that affect the pattern of spatial distribution of embroidery industry in the research area. Type of research is survey research using descriptive — analitic method based on 2 types data. First is secondary data which was taken from some related agencies. The other one is primary data which was obtained from active respondens who have less than Rp 200 million on investment, and also located in high level area of production (more than 100 units). Main data were collected by structured interview technique (questionary). Statistical variables examined are the production value, investment value, production capacity, labors, marketing area, and material as statistical variable industry, including the amount production units per villages, eletricity user, and the number of shop facilities as level variable area. The data were processed by using program SPSS v.10 under window. Analysis technique used was Correlation Technique of Product moment by Pearson with significancy between 0,01 and 0,05 ; Diversivication Index and Chi Square Technique with the meaningful limit (a) 0,05. Data processing was done by using program Arcview version 3.2 for map performance. The result shows that most of these industries which are consentrated in those areas are small industries that need small investment (< Rp. 200 million) in average, and also require 1 — 19 men in work. Spatially, areas which get the highest grade in production is Kelurahan Gununggede (22 units) by its production each year about Rp. 249.446.591,00 while the lowest is Kelurahan Talagasari (197 units) by its production about Rp. 124.024.568,00 per year. More less, it is influenced by the factors of investment (machines and financial capital), the number of labors, and capacity of production that can be gained by each unit. In Kecamatan Kawalu Tasikmalaya, this kind of industry has connection to another areas either local, regional, national, or international, especially Kecamatan Cihideung Tasikmalaya complying production input, Jakarta (Tanah Abang) and Malaysia in distributing the products. While the factors of region such as the factors of population and highway network density, also shop facility do not affecting to the pattern of spatial distribution of embroidery industry. It caused by the characteristic of embroidery industry which footlose and it easy to establish in the electricity service facility area. "> 100 unit usaha). Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan bantuan kuesioner. Vaniabel¬variabel yang diteliti adalah nilai produksi, nilai investasi, kapasitas/ jumlah produksi, jumlah tenaga kerja, jangkauan daerah/ luasan daerah pemasaran dan asal bahan balm sebagai variabel level industri serta jumlah unit usaha per kelurahan/ desa, kepadatan penduduk, kepadatan jaringan jalan, jumlah rumah tangga pelanggan listrik dan jumlah fasilitas toko sebagai variabel level wilayah. Data diolah dengan menggunakan program SPSS v.10 under window. Teknik analisis yang digunakan antara lain Teknik Korelasi Product Moment dan Pearson dengan signifikansi antara 0,01 dan 0,05; Indeks Diversifikasi dan Teknik Chi Square dengan batas kemaknaan alpha (0c) 0,05. Adapun untuk tampilan peta, pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Program Arcview versi 3.2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebagian besar unit usaha bordir yang terkonsentrasi di daerah penelitian merupakan industri skala kecil dan rumah tangga yang rata-rata memerlukan investasi usaha kecil (< 200 juta rupaih) serta penggunaan tenaga kerja/ pengrajin relatif sedikit (1-19 orang). Secara spasial daerah yang memiliki rata-rata nilai produksi paling tinggi adalah Kelurahan Gununggede (22 unit usaha) dengan nilai produksi per tahunnya rata-rata Rp. 249.446.591,00 sedangkan daerah yang memiliki rata-rata nilai produksi per tahun paling rendah adalah Kelurahan Talagasari (197 unit usaha) dengan nilai produksi per tahun rata-rata Rp. 124.024.568,00. Besar kecilnya nilai produksi industri bordir di daerah penelitian tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi seperti faktor investasi (mesin dan modal usaha), jumlah tenaga kerja/ pengrajin, dan faktor kapasitas/ jumlah produksi yang mampu dihasilkan oleh setiap unit usaha. lndustri kerajinan bordir di Kecamatan Kawalu memiliki keterkaitan produksi dengan daerah lain cukup luas baik dengan daerah tingkat lokal, regional, nasional, maupun tingkat internasional terutama dengan Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya dalam pemenuhan input produksi dan daerah Jakarta (Tanah Abang), serta Negara Malaysia dalam memasarkan produknya. Adapun faktor-faktor wilayah penunjang industri seperti kepadatan penduduk dan jaringan jalan beraspal serta keberadaan fasilitas toko, tidak berpengaruh terhadap pola persebaran industri bordir yang ada. Hal itu dikarenakan karakter industri kerajinan bordir yang bersifat footlose atau berdiri sendiri dan mudah didirikan di daerah yang telah tersedia fasilitas pelayanan listrik. In general, this research "Karakteristik Produksi dan Distribusi Spasial Industri Kecil Bordir di Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya" has 3 objectives, as followed : (1) looking for spatial variety of embroidery production in villages including the factors affect it, (2) looking for correlation of production spatial between area chosen and the other areas (3) to explain the pattern of spatial distribution of embroidery industry in the research area, and (4) looking for factors of region that affect the pattern of spatial distribution of embroidery industry in the research area. Type of research is survey research using descriptive — analitic method based on 2 types data. First is secondary data which was taken from some related agencies. The other one is primary data which was obtained from active respondens who have less than Rp 200 million on investment, and also located in high level area of production (more than 100 units). Main data were collected by structured interview technique (questionary). Statistical variables examined are the production value, investment value, production capacity, labors, marketing area, and material as statistical variable industry, including the amount production units per villages, eletricity user, and the number of shop facilities as level variable area. The data were processed by using program SPSS v.10 under window. Analysis technique used was Correlation Technique of Product moment by Pearson with significancy between 0,01 and 0,05 ; Diversivication Index and Chi Square Technique with the meaningful limit (a) 0,05. Data processing was done by using program Arcview version 3.2 for map performance. The result shows that most of these industries which are consentrated in those areas are small industries that need small investment (< Rp. 200 million) in average, and also require 1 — 19 men in work. Spatially, areas which get the highest grade in production is Kelurahan Gununggede (22 units) by its production each year about Rp. 249.446.591,00 while the lowest is Kelurahan Talagasari (197 units) by its production about Rp. 124.024.568,00 per year. More less, it is influenced by the factors of investment (machines and financial capital), the number of labors, and capacity of production that can be gained by each unit. In Kecamatan Kawalu Tasikmalaya, this kind of industry has connection to another areas either local, regional, national, or international, especially Kecamatan Cihideung Tasikmalaya complying production input, Jakarta (Tanah Abang) and Malaysia in distributing the products. While the factors of region such as the factors of population and highway network density, also shop facility do not affecting to the pattern of spatial distribution of embroidery industry. It caused by the characteristic of embroidery industry which footlose and it easy to establish in the electricity service facility area. ">
Laporkan Masalah

Karakteristik produksi dan distribusi spasial industri kecil bordir dikecamatan Kawalu kota Tasikmalaya

Emi Sulastri, Drs. R. Rijanta, M.Sc.; Luthfi Muta'ali, S.Si.,M.SP.

2004 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Secara umum penelitian yang berjudul "Karakteristik Produksi dan Distribusi Spasial Industri Kecil Bordir di Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya" ini bertujuan untuk : (1). Mengetahui variasi spasial nilai produksi industri kecil bordir tiap kelurahan/ desa yang ada di daerah penelitian serta faktor-faktor produksi yang mempengaruhinya, (2). Mengetahui kaitan spasial produksi industri bordir di daerah penelitian dengan wilayah lain, (3). Menjelaskan pola persebaran industri kecil bordir di daerah penelitian, dan (4). Mengetahui pengaruh faktor-faktor wilayah terhadap pola distribusi spasial industri bordir yang ada di daerah penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian survey dengan metode deskriptif-analitik, menggunakan 2 jenis data yaitu data sekunder yang diambil dan beberapa instansi terkait dan data primer yang diperoleh dari responden pengusaha bordir yang masih aktif dan memiliki investasi < 200 juta rupiah serta berada di daerah dengan tingkat konsentrasi unit usaha paling tinggi (>100 unit usaha). Data primer dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dengan bantuan kuesioner. Vaniabel¬variabel yang diteliti adalah nilai produksi, nilai investasi, kapasitas/ jumlah produksi, jumlah tenaga kerja, jangkauan daerah/ luasan daerah pemasaran dan asal bahan balm sebagai variabel level industri serta jumlah unit usaha per kelurahan/ desa, kepadatan penduduk, kepadatan jaringan jalan, jumlah rumah tangga pelanggan listrik dan jumlah fasilitas toko sebagai variabel level wilayah. Data diolah dengan menggunakan program SPSS v.10 under window. Teknik analisis yang digunakan antara lain Teknik Korelasi Product Moment dan Pearson dengan signifikansi antara 0,01 dan 0,05; Indeks Diversifikasi dan Teknik Chi Square dengan batas kemaknaan alpha (0c) 0,05. Adapun untuk tampilan peta, pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Program Arcview versi 3.2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sebagian besar unit usaha bordir yang terkonsentrasi di daerah penelitian merupakan industri skala kecil dan rumah tangga yang rata-rata memerlukan investasi usaha kecil (< 200 juta rupaih) serta penggunaan tenaga kerja/ pengrajin relatif sedikit (1-19 orang). Secara spasial daerah yang memiliki rata-rata nilai produksi paling tinggi adalah Kelurahan Gununggede (22 unit usaha) dengan nilai produksi per tahunnya rata-rata Rp. 249.446.591,00 sedangkan daerah yang memiliki rata-rata nilai produksi per tahun paling rendah adalah Kelurahan Talagasari (197 unit usaha) dengan nilai produksi per tahun rata-rata Rp. 124.024.568,00. Besar kecilnya nilai produksi industri bordir di daerah penelitian tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi seperti faktor investasi (mesin dan modal usaha), jumlah tenaga kerja/ pengrajin, dan faktor kapasitas/ jumlah produksi yang mampu dihasilkan oleh setiap unit usaha. lndustri kerajinan bordir di Kecamatan Kawalu memiliki keterkaitan produksi dengan daerah lain cukup luas baik dengan daerah tingkat lokal, regional, nasional, maupun tingkat internasional terutama dengan Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya dalam pemenuhan input produksi dan daerah Jakarta (Tanah Abang), serta Negara Malaysia dalam memasarkan produknya. Adapun faktor-faktor wilayah penunjang industri seperti kepadatan penduduk dan jaringan jalan beraspal serta keberadaan fasilitas toko, tidak berpengaruh terhadap pola persebaran industri bordir yang ada. Hal itu dikarenakan karakter industri kerajinan bordir yang bersifat footlose atau berdiri sendiri dan mudah didirikan di daerah yang telah tersedia fasilitas pelayanan listrik.

In general, this research "Karakteristik Produksi dan Distribusi Spasial Industri Kecil Bordir di Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya" has 3 objectives, as followed : (1) looking for spatial variety of embroidery production in villages including the factors affect it, (2) looking for correlation of production spatial between area chosen and the other areas (3) to explain the pattern of spatial distribution of embroidery industry in the research area, and (4) looking for factors of region that affect the pattern of spatial distribution of embroidery industry in the research area. Type of research is survey research using descriptive — analitic method based on 2 types data. First is secondary data which was taken from some related agencies. The other one is primary data which was obtained from active respondens who have less than Rp 200 million on investment, and also located in high level area of production (more than 100 units). Main data were collected by structured interview technique (questionary). Statistical variables examined are the production value, investment value, production capacity, labors, marketing area, and material as statistical variable industry, including the amount production units per villages, eletricity user, and the number of shop facilities as level variable area. The data were processed by using program SPSS v.10 under window. Analysis technique used was Correlation Technique of Product moment by Pearson with significancy between 0,01 and 0,05 ; Diversivication Index and Chi Square Technique with the meaningful limit (a) 0,05. Data processing was done by using program Arcview version 3.2 for map performance. The result shows that most of these industries which are consentrated in those areas are small industries that need small investment (< Rp. 200 million) in average, and also require 1 — 19 men in work. Spatially, areas which get the highest grade in production is Kelurahan Gununggede (22 units) by its production each year about Rp. 249.446.591,00 while the lowest is Kelurahan Talagasari (197 units) by its production about Rp. 124.024.568,00 per year. More less, it is influenced by the factors of investment (machines and financial capital), the number of labors, and capacity of production that can be gained by each unit. In Kecamatan Kawalu Tasikmalaya, this kind of industry has connection to another areas either local, regional, national, or international, especially Kecamatan Cihideung Tasikmalaya complying production input, Jakarta (Tanah Abang) and Malaysia in distributing the products. While the factors of region such as the factors of population and highway network density, also shop facility do not affecting to the pattern of spatial distribution of embroidery industry. It caused by the characteristic of embroidery industry which footlose and it easy to establish in the electricity service facility area.

Kata Kunci : Distribusi spasial,Industri kecil,Kawalu,Kota Tasik Malaya,Jawa Barat

  1. S1-2004-129939-Emi_Sulastri-abstract.pdf  
  2. S1-2004-129939-Emi_Sulastri-bibliography.pdf  
  3. S1-2004-129939-Emi_Sulastri-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2004-129939-Emi_Sulastri-title.pdf