Laporkan Masalah

Jaringan ekowisata desa :: Tradisionalisasi diri orang Bali di tengah modernisasi

KURNIANINGSIH, Ambarwati, Prof.Dr. Sumijati Atmosudiro

2004 | Tesis | S2 Antropologi

Bali merupakan pulau yang sebagian besar dihuni oleh para seniman (Covarubias, 1973). Mendukung pernyataan tersebut, Geertz (2000) juga melihat bahwa Bali merupakan sebuah Negara Teater yang di dalamnya raja-raja dan para pangeran adalah impresario-impresario, para pendetanya sebagai sutradara, dan para petaninya sebagai aktor pendukung dan penata panggung yang sekaligus berperan sebagai penonton. Kemudian Hobart (2003) juga melihat bahwa apa yang terjadi di Bali merupakan satu bentuk hyporeality, lebih nyata daripada yang nyata, namun bukan sebuah realita. Sampai saat ini kehidupan orang Bali masih merupakan simulacra, panggung sandiwara, yang diciptakan untuk kepentingan mereka, seperti yang terjadi pada orang-orang yang tergabung dalam Jaringan Ekowisata Desa. Bahkan saat ini para penontonnya bukan hanya para petani, tetapi terutama para turis yang diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi para pemain, penata panggung, sutradara, dan penulis skenario. Tulisan ini bertujuan untuk mengevaluasi keberadaan Jaringan Ekowisata Desa atau JED, sebuah jaringan yang direncanakan, dibangun, serta dimiliki oleh empat desa dan satu lembaga swadaya masyarakat di Bali. Pembentukan jaringan ditujukan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat desa, mengelola sumberdaya alam secara berkelanjutan, serta menguatkan kerjasama antardesa berdasar nilai keadilan, transparan, dan demokratis. Dalam tulisan ini JED dilihat sebagai sebuah simulacrum, yang diciptakan oleh sekelompok orang untuk mendapatkan keuntungan ekonomi melalui kegiatan ekowisata yang identik dengan nuansa alam dan tradisionalisme. Melalui Desa Adat Tenganan Pegringsingan, salah satu desa ‘pencipta’ JED, kita dapat mengetahui bahwa orang Tenganan telah melakukan simulakra jauh sebelum JED diciptakan, yaitu sejak pariwisata dijadikan sumber pendapatan pada tahun 1960-an. Menciptakan simulacra untuk mendapatkan keuntungan, seperti yang dikatakan Obeyesekere (2003) dan Friedman (1990) bukanlah merupakan satu hal yang perlu dicela, apalagi jika tidak hanya bersifat teknis namun ideological (Hobsbawm, 1985). Sayangnya sandiwara yang dimainkan JED selama ini belum dapat dikatakan berhasil, sesuai dengan tujuan penciptaannya. Kebelumberhasilan tersebut disebabkan oleh tiga hal. Pertama adalah pihak yang berkepentingan untuk mendapatkan keuntungan dalam simulasi yang diciptakan semakin banyak, kedua adalah kesalahan penafsiran terhadap keinginan turis sebagai penonton, serta ketiga adalah JED dan orang-orang di dalamnya masih bersifat ambigu.

Bali is an island of artists (Covarrubias, 1973). Geertz (2000) states that Bali is a theatre state in which kings and princesses take role as impresarios; priests as directors; and peasants as supporting actors, stage crews, and audiences, as well. Hobart (2003), examining the lives in Bali, views Bali as a hyporeality, not a reality. The life of Balinese is still regarded as simulacra, a stage, which is created to meet the interests of groups of people, particularly those who are associated in Villages Ecotourism Network. Recently, the facts indicate that peasants are not the only audience, yet tourists are the expected audience that hopefully will provide profit for the actors, stage crews, directors, and the playwrights. This writing is meant to evaluate the Villages Ecotourism Network, a network designed and set up under the control of four villages and one non government organization in Bali. The purposes of this network are to increase the economic level of the society of the villages, to manage the natural sources simultaneously, and to strengthen the villages cooperation that is based on justice value, transparency, and democracy. In this writing, the Villages Ecotourism Network is viewed as a simulacrum created by a group of people to gain economic advantages, by conducting ecotourism activities that are identical to natural nuances and traditionalism. By examining Desa Adat Tenganan Pegringsingan, one of the founders of the Villages Ecotourism Network, it is found that people of Tenganan have already had simulacra before the network is formed. The simulacra has been set up since tourism became the source of income in 1960s. Obeyesekere (2003) and Friedman (1990) state that creating simulacra to gain profit is acceptable, moreover, it would gain the expected result if it is conducted both technically and ideologically (Hobsbawn, 1985). However, considering the result expected, the play performed by the Villages Ecotourism Network has not been yet categorized as a successful one. The examination indicates that the failure of the network is caused by the following factors: (1) the increasing number of participants to gain profit in this simulation, (2) the false interpretation of the Villages Ecotourism Network toward the interest of tourists, and (3) the ambiguous purpose of the network.

Kata Kunci : Simulacra,Tradisionalisasi Diri,Jaringan Ekowisata Desa, self traditionalization – simulacra – ecoturism


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.