AMBIVALENSI MORAL DALAM MASYARAKAT DIGITAL: TINJAUAN ETIKA DISKURSUS JÜRGEN HABERMAS
Ratri Ayu Bethari, Dr. Supartiningsih; Dr. Ridwan Ahmad Sukri
2025 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era digital telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dan memahami nilai-nilai moral. Masyarakat digital dihadapkan pada tantangan ambivalensi moral, yakni kondisi ketika individu mengalami kebingungan dalam menentukan nilai moral yang benar di tengah derasnya arus informasi dan perbedaan perspektif yang rasional namun bertentangan. Fenomena ini diperburuk oleh mekanisme media sosial yang lebih menekankan pada engagement daripada kebenaran, sehingga opini yang viral sering kali lebih memengaruhi masyarakat dibandingkan dengan diskursus berbasis rasionalitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis bagaimana ambivalensi moral muncul dalam masyarakat digital serta mengeksplorasi etika diskursus Jürgen Habermas sebagai alternatif konseptual dalam menghadapi fenomena ini.
Penelitian ini adalah penelitian filosofis yang bersifat kualitatif dengan model penelitian sistematis-reflektif yang mengkaji Ambivalensi Moral dalam Masyarakat Digital (objek material) yang kemudian ditinjau menurut pemikiran Etika Diskursus Jürgen Habermas. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang mengandalkan buku, artikel ilmiah, serta jenis literatur lain yang mendukung. Adapun unsur-unsur metodis yang digunakan yakni: interpretasi, induksi dan deduksi, koherensi intern, holistika, kesinambungan historis, deskripsi, dan heuristika.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pertama, ambivalensi moral yang dialami masyarakat digital tidak hanya berasal dari moralitas internal individu, melainkan juga dipengaruhi oleh ekosistem digital. Karakteristik internet dan media sosial, seperti anonimitas, filter bubble, dan echo chamber serta keberadaan influencer sebagai otoritas moral baru, rentan membuat individu mengalami kebingungan. Kedua, dalam era yang serba cepat ini, masyarakat tidak memiliki waktu untuk memapankan nilai dan membangun pengetahuan moral kolektif. Etika Diskursus yang digagas oleh Jürgen Habermas melalui prinsip Universalitas (U) akan menentukan prinsip moral yang sesuai bagi semua individu tanpa kontradiksi. Selanjutnya, prinsip Diskursus (D) akan menyaring dan memisahkan prinsip moral yang rasional dari opini yang tidak rasional, sehingga dapat menemukan nilai moral yang lebih sesuai dengan karakteristik masyarakat.
The development of information and communication technology in the digital era has transformed the way society interacts and perceives moral values. Digital society faces the challenge of moral ambivalence, a condition in which individuals experience confusion in determining the correct moral values amidst the rapid flow of information and conflicting yet rational perspectives. This phenomenon is exacerbated by social media mechanisms that prioritize engagement over truth, leading to viral opinions having a greater influence on society than rational discourse. This study aims to critically analyze how moral ambivalence emerges in digital society and explore Jürgen Habermas' discourse ethics as a conceptual alternative to addressing this phenomenon.
This research is a qualitative philosophical study using a systematic-reflective research model that examines moral ambivalence in digital society (material object) through the lens of Jürgen Habermas' discourse ethics. It employs a literature-based approach, relying on books, scholarly articles, and other relevant sources. The methodological elements used in this study include interpretation, induction and deduction, internal coherence, holism, historical continuity, description, and heuristics.
The findings reveal that, first, moral ambivalence experienced by digital society does not solely originate from an individual's internal morality but is also influenced by the digital ecosystem. The characteristics of the internet and social media—such as anonymity, filter bubbles, echo chambers, and the emergence of influencers as new moral authorities—make individuals more susceptible to moral confusion. Second, in this fast-paced era, society lacks the time to establish values and build collective moral knowledge. Habermas' discourse ethics, through the principle of Universality (U), determines moral principles that are valid for all individuals without contradiction. Furthermore, the principle of Discourse (D) filters and differentiates rational moral principles from irrational opinions, allowing for the discovery of moral values that better align with societal characteristics.
Kata Kunci : Ambivalensi Moral, Etika Diskursus, Masyarakat Digital, Ruang Publik