Art and Transport: Enhancing Passengers' Experience with Historical Station Buildings in Java, Indonesia
Fadhila Dhaneswara Primasiwi, Prof. Ir. Sigit Priyanto, M.Sc., Ph.D.; Prof. Dr. Techn. Ir. Danang Parikesit, M.Sc., IPU., ASEAN.Eng
2025 | Tesis | S2 Mag. S. & T.Transportasi
Pertumbuhan penduduk dan peningkatan perjalanan antarkota telah menyebabkan perlunya transportasi umum yang lebih baik. Saat ini, kereta api telah menjadi moda transportasi yang paling berkelanjutan dibandingkan moda lainnya dan diperkirakan akan menjadi tulang punggung utama mobilitas transportasi di masa depan. Di Pulau Jawa, Indonesia, terdapat banyak bangunan stasiun bersejarah yang dibangun oleh pemerintah Belanda pada masa kolonial. Stasiun-stasiun tua ini dioperasikan dan dimiliki oleh perusahaan milik negara yang bernama PT Kereta Api Indonesia (PT. KAI). Selain itu, bangunan-bangunan ini telah ditetapkan sebagai situs warisan budaya dan tidak dapat direnovasi tanpa persetujuan dari pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengidentifikasi bagaimana cara meningkatkan pengalaman para penumpang dengan bangunan stasiun tua tersebut.
Terdapat empat tujuan dalam studi ini, yaitu: mengidentifikasi pelestarian warisan stasiun kereta api secara global; mengidentifikasi trade-off antara pelestarian warisan dan pemeliharaan sehari-hari dari sudut pandang PT. KAI dalam menjaga bangunan stasiun bersejarah di Pulau Jawa, Indonesia; mengkaji trade-off pelestarian warisan dari sudut pandang penumpang antarprovinsi terhadap stasiun-stasiun bersejarah di Pulau Jawa, Indonesia; serta mengidentifikasi bagaimana dan faktor apa saja dari bangunan bersejarah yang dapat meningkatkan pengalaman penumpang dari sudut pandang pengguna jasa di Stasiun Tugu yang bersejarah. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dan pencarian daring untuk tujuan pertama, kemudian wawancara mendalam dengan penyedia dan pengguna layanan untuk menjawab tujuan lainnya.
Hasil dari studi ini mengungkapkan bahwa: 1) terdapat pendekatan yang berbeda dalam pelestarian stasiun tua, seperti mempertahankan material asli sebanyak mungkin atau membangun ulang stasiun dengan material baru; 2) tujuan PT. KAI dalam melestarikan bangunan tua adalah sebagai upaya untuk menjaga citra dan reputasi perusahaan serta memberikan nilai-nilai tak berwujud yang berkaitan dengan identitas, budaya, dan nilai historis dari sejarah perkeretaapian di Indonesia; 3) lebih dari setengah responden yang mengisi kuesioner daring tidak mengetahui status warisan budaya dari stasiun-stasiun di Jawa. Secara mengejutkan, faktor arsitektur hanya mendapat 14%; ini merupakan faktor terendah yang memengaruhi pengalaman responden; 4) responden merasa puas dengan kondisi Stasiun Tugu saat ini. Namun, terdapat satu aspek yang tampaknya perlu ditingkatkan, misalnya desain atau tata letak stasiun. Selain itu, penumpang memberikan beberapa saran untuk meningkatkan bangunan tua yang ada dengan menambahkan aroma khas yang merepresentasikan budaya Kota Jogja.
The growth of the population and the growth of intercity trips have led to the need for better public transportation. Nowadays, railways have become the most sustainable transport compared to other modes and are expected to become the main backbone of future transport mobility. In Java Island, Indonesia, there are a lot of historical station buildings that were built by the Netherlands government during colonialism. These old stations are operated and owned by a state-owned company called Indonesia Railway Company (PT. KAI). Moreover, it is designated as a cultural heritage site and cannot be renovated without government approval. Therefore, there is a need to identify how to enhance travelers’ experience with these old station buildings.
There are four objectives of this study such as identify the heritage preservation of railway stations globally, identify the trade-off between heritage preservation and day-to-day maintenance from the perspective of the Indonesia Railway Company (PT. KAI) in preserving the historical station buildings in Java, Indonesia, examine the trade-off of heritage preservation between passengers’ perspectives from one province to another province on the historical stations in Java, Indonesia, and identify how and what factors of the historical building can improve travelers’ experience from the perspective of passengers at historical Tugu Station. The methods used are literature review and online searching for the first objective and then in-depth interviews with service providers and service users to address the other objectives.
The result of this study reveals: 1) there are different approaches to preserving the old stations, keeping the original materials as much as possible or rebuilding the stations with new materials; 2) PT. KAI’s purpose in preserving the old building is one of the ways to keep its image and reputation as well as providing intangible values related to the identity, culture, and historical values of railway history in Indonesia; 3) more than half of the respondents who filled out the online questionnaire do not know the heritage status of Java Stations. Surprisingly, the architecture factors reached 14%; it was the lowest factor that affected the respondents’ experience; 4) respondents were satisfied with the current condition of Tugu Station. However, there is one aspect that seems to need to be upgraded, for instance, the design/layout of the station. Moreover, passengers have some advice to improve the current old building with special characteristics scent that represents the culture of Jogja City.
Kata Kunci : Indonesia railway station, heritage station, railway preservation