Laporkan Masalah

Deteksi penyakit Taura Syndrome pada Udang Putih (Penaeus vannamei) dengan metode RT-PCR dan histopatologi di Balai Karantina Ikan Soekarno-Hatta

WIDAYATI, Rini, drh. Kurniasih, MV.Sc.,Ph.D

2004 | Tesis | S2 Sain Veteriner

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit Taura Syndrome pada udang putih (Penaeus vannamei) Spesific Pathogen Free (SPF) yang masuk melalui Bandara Soekarno-Hatta dan anakannya yang dibudidayakan setelah masa karantina di wilayah Kalianda (Lampung), Serang (Banten) , Cirebon (Jawa Barat), Kendal (Jawa tengah) dan Kulon Progo (Yogyakarta) serta Situbondo (Jawa Timur). Sampel induk udang putih diambil dari importir dengan ukuran panjang antara 15,2 – 18,6 cm, sedang sampel anakannya dengan ukuran panjang 7 - 12 cm. Sampel tersebut diperiksa gejala klinis, perubahan patologi serta Reverse Transcriptase PCR menggunakan dua macam primer yaitu one step dan double step nested RT-PCR. Sampel diambil pada bagian insang, uropod, pleopod dan karapas untuk ekstraksi RNA virus menggunakan TRIzol reagent dan pemeriksaan histopatologi. Sampel anakan dari Kendal (Jawa Tengah) dan Situbondo (Jawa Timur) yang menunjukkan hasil positif terinfeksi TSV dengan fragment sebesar 284 bp berdasarkan double step nested RT-PCR. Gejala klinis uda ng putih yang terinfeksi TSV uropod kemerahan, ekspansi kromatofor merah. Secara histopatologi terlihat nekrosis sel epitel kutikula dan adanya badan inklusi intrasitoplasmik berwarna eosinofilik pada sub epitel kutikula dan sel lamela primer insang.

The aim of research was to detect Taura Syndrome Virus infection on white shrimp (Penaeus vannamei) Specific Pathogen Free (SPF) imported through Soekarno-Hatta Airport and stocked as juvenile cultures after quarantine period in Kalianda (Lampung), Serang (Banten), Cirebon (West Java), Kendal (Center Java), Kulon Progo (Yogyakarta) and Situbondo (East Java). Shrimp (15,2 – 18,6 cm of length) and juvenile stocks (7 – 12 cm of length) were collected from importer. The observation included clinical symptom, pathological changes and RT-PCR with two kind of primer: one step and double step nested RT-PCR. Gills, pleopod, uropod and carapace were used as a total RNA extraction with TRIzol reagent and histopathological examination. Sample from Kendal and Situbondo showed positif band by double step nested RT-PCR at 284 bp. Clinical sign showed a reddish uropod, expanded chromatophores. Histopathology changes were a necrosis of epithelial cell of cuticula, intracytoplasmic inclusion body on cell sub cuticula and lamella primary cells.

Kata Kunci : Udang putih (Penaeus vannamei), Taura syndrome virus, white shrimp (Penaeus vannamei), Taura syndrome virus


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.