Laporkan Masalah

Perlawanan wanita terhadap dominasi Patriarti dalam teks Tarling Cirebon :: Sebuah analisis semiotika Riffatere

SALAM, Chaerul, Prof.Dra. Siti Chamamah Suratno

2004 | Tesis | S2 Sastra

Penelitian berjudul “Perlawanan Wanita terhadap Dominasi Patriarki dalam Teks Tarling Cirebon: Sebuah Analisis Semiotika Riffatere” ini bertujuan untuk dapat memaknai citra sosok wanita di dalamnya. Kesenian tarling adalah kesenian khas wilayah Cirebon. Berbentuk seni pertunjukan dengan dua bentuk sajian, lakon dan lagu-lagu. Di dalam lakon dan lagu-lagu tersebut terdapat “teks”. Teks tarling yang diteliti dalam penelitian ini adalah teks (lirik) lagu-lagu. Teks tarling yang diteliti berjumlah empat judul, berasal dari tiga puluh dua judul data populasi lagu-lagu tarling paling digemari masyarakat melalui acara tangga lagulagu tarling terpopuler di dua stasiun radio Cirebon FM Cirebon dan MG FM Indramayu. Empat teks tarling tersebut, (1) Aja Melang ciptaan Papa Irma (2) Bandara Soekarno Hatta ciptaan Eddi Bentar, (3) Darwijem ciptaan Ipang Supandi, dan Milih Mantu ciptaan Hj Uun Kurniasih. Dengan menggunakan perspektif kritik sastra feminis, dan dengan menggunakan teori semiotika Riffatere, keempat teks tarling tersebut dianalisis sosok wanita di dalamnya. Penelitian ini bersifat kualitatif, mengingat posisi teks tarling yang sangat akrab di tengah kehidupan masyarakat Cirebon dan sekitarnya. Teks-teks itu menjadi dialektika yang terus menerus antara masyarakat dengan teks-teks itu sendiri, yang kemudian melahirkan transendensi, persepsi, pemikiran, dan kemauan, sehingga kemudian teks menjadi sebuah fenomena. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis itulah yang pada akhirnya didapat 4 kebenaran, (1) kebenaran empirik sensual, (2) logika, (3) etika, dan (4) transendental. Dengan metode semiotika empat teks tarling dianalisis melalui dua tahap pembacaan, yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Selanjutnya teks-teks tersebut diidentifikasi matriks, model, dan variannya, serta dicari hubungan intertekstualnya. Setelah itu juga dilakukan analisis citra wanita di dalam teks-teks tersebut. Dari hasil penelitian didapat gambaran umum citra sosok wanita di dalam empat teks tarling yang menjadi sampel penelitian. Gambaran tersebut sebagai berikut, (1) sosok wanita di dalam teks tarling adalah sosok yang tersubordinasi patriarki, yang terkalahkan dalam dominasi kaum lelaki di sekitarnya, (2) sosok wanita di dalam teks tarling adalah sosok yang (meski sedang berada dalam kekalahan) ia melakukan perlawanan terhadap dominasi patriarki, dengan memperlihatkan ketegasan sikap terhadapnya. Teks (1) Aja Melang mengisahkan sosok wanita yang setia total hingga ke nereka sekalipun, dan oleh karenanya ia menuntut kesetiaan pula kepada kekasihnya. Ia bersikap cinta dan tidak mungkin tergoda oleh siapapun. Sikap ini mengimplikasikan makna oposisional kepada kekasihnya yang tidak setia dan mudah tergoda. Teks (2) Bandara Soekarno- Hatta mengisahkan tentang wanita yang yang setia menanti kembalinya sang kekasih dari perantauan di negeri seberang, tetapi akhirnya ia dikhianati dengan putusan kekasihnya yang mengawini wanita lain di negeri seberang itu. Ia kemudian melawan dengan cara menisbikan perkawinan kjekasihnya itu, yang, ‘sudahlah...’. Teks (3) Darwijem, tentang wanita lugu yang terperosok ke dunia warung remang hingga akhirnya ia hamil di luar pernikahan. Kepergiannya ke warung remang-remang itu adalah perlawanan atas kemiskinan yang menghimpit, juga kehamilan dan tuduhannya kepada sembarang orang adalah bentuk perlawanan kepada masyarakat yang mencampakkannya ke dalam dunia remangremang itu. Teks (4) adalah tentang sosok istri yang teraniaya oleh kekerasan suaminya meski ia sudah bersabar dan setia kepadanya. Wanita itu kemudian menuntutnya bercerai dan kembali kepada orang tuanya. Teks-teks tarling dengan gambaran wanita-wanita yang berkeras hati melawan kesewenangan itu, berhipogram dengan dua teks kuno Cirebon Carita Purwaka Caruban Nagari dan Babad Cirebon. Dua naskah tersebut berisi kisah Nyimas Rarasantang dan Nyimas Gandasari yang melawan dominasi kaum lelaki dengan cara-caranya.

The research entitled “The Fight of Woman Toward the Domination of Patriarchy in the Tarling Cirebon Text A Riffatere Semiotic Review” was aimed to give meaning to the woman in the text. Tarling is a Cirebon’s special art. It’s a type art performance with two types of gift, play and song. In play and songs there is a “text”. Tarling text, the lyric in the song of tarling Cirebon culture observed were four titles, coming from thirty two population data titels of tarling song most wanted by the society through the program of the most famous tarling song in two radio station Cirebon FM Cirebon and MG FM Indramayu. The four texts of tarling culture were, (1) Aja Melang created by Papa Irma, (2) Bandara Soekarno-Hatta by Eddi Bentar, (3) Darwijem by Ipang Supandi, and (4) Milih Mantu by Hj Uun Kurniasih. Ausing the perspective of feminism literature critique and using the Riffatere semiotic theory, the four texkts of tarling were analyzed om the woman in it. This was a qualitative study, in the light of the position of the tarling text, wich strongly born in the society of Cirebon and the surrounding. The texts became continuous dialect between the society and the texts, wich then deliver transcendence, perception, thought and will. Then, this made text became a phenomenon. Finaly, the qualitative research methode using the phenomenological approach obtained four truths (1) sensual empiric truth, (2) logic, (3) ethic, and (4) trancendental. Using semiotic method, the four texts of tarling were analyzed throught two reading steps, heuristic and hermeneutic reading. Subsequently, the texts were identified on the matrix, model, and the variant, and found out the intertextual relation. Besides, it was also carried out the analysis of the woman iamge in the texts. From the result of the study, it was obtained several general views about the woman image in the four texts of tarling becoming the sample of the study. The views were, (1) the woman in the tarling texts was patriarchy subordinat person defeated by the domination of men around her, (2) the woman in the the tarling text (although being defeated) she fought toward the patriarchy domination, bya showing her stretness toward it. Tex (1) Aja Melang told about a totaly loyal woman until even in the hell, and therefore she demanded loyalty from her lover. She was full of love and hardly possibly being attemted by anyone. This caracter implicated the opositional mening to her lover, who did not loyal and easily interested to other people. Text (2) Bandara Soekarno – Hatta told about a betrayed by the decision of her lover, who was married with other woman in that country. Then, she fought by fading the marriege, wich “that’s it...”. Text (3) Darwijem , told about a plain woman slipped into obscure stall so that finally she was pregnant out of marriage. Her leaving to the obscure stall was a kind of fight against the society taking her into the obscure world. Text (4) was about a wife abused by her husband, altthough she had enough patient and layalty to him. Then, the woman prosecuted her husband for devorce and back to her parents. The tarling texts with stubborn women view against the harrassment had a hypogram relation with two ancient texts of Cirebon, Carita Purwaka Caruban Nagari and Babad Cirebon. The two texts contained the story about Nyimas Rarasantang and Nyimas Gandasari fouht against the domination of men with their ways.

Kata Kunci : semiotik, heuristik, hermeneutik, matriks, model, varian, hipogram, perlawanan, semiotic, heuristic, hermeneutic, matrix, model, variant, intertextual relationsehip, faight


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.