Laporkan Masalah

Gambaran kegiatan kader dan partisipasi masyarakat setelah di laksanakannya revitalisasi Posyandu di Kabupaten Tanggamus Propinsi Lampung

PURHADI, dr. Kristiani, SU

2004 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia berdampak pemenuhan kebutuhan kesehatan, termasuk kegiatan posyandu. Upaya membangkitkan kembali kegiatan Posyandu Pemerintah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 411.3/1116/SJ tanggal 13 Juni 2001 tentang pedoman umum revitalisasi posyandu. Tingkat partisipasi masyarakat untuk datang ke posyandu (D/S) di Kabupaten Tanggamus masih rendah (47,9%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kegiatan kader dan partisipasi ilaksanakannya revitalisasi posyandu. masyarakat setelah dMetode Penelitian: Penelitian ini adalah Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dengan metode kuantitatif dan didukung dengan metode kualitatif. Variabel penelitian adalah Karakteristik kader, aktivitas kader, ketersediaan sarana, dukungan petugas dan peran serta masyarakat.Subjek penelitiannya adalah kader posyandu, koordinator kader, penanggung jawab posyandu dan kepala puskesmas. Hasil : Ada kenaikan cakupan D/S sesudah revitalisasi posyandu, baik di Margoyoso (D/S) tinggi maupun di Ambarawa (D/S rendah), namun rata-rata peningkatan D/S lebih tinggi di puskesmas Margoyoso. Karakteristik kader di Margoyoso D/S (tinggi) maupun di Ambarawa (D/S rendah) tidak ada perbedaan yang bermakna, kecuali lama menjadi kader yang bermakna secara statistik. Aktivitas kader Margoyoso lebih baik dibandingkan kader di Ambarawa, namun hanya perilaku kader yang bermakna secara statistik. Hasil observasi serta diskusi kelompok terarah dan wawancara mendalam didapatkan sarana Posyandu, dukungan puskesmas serta partisipasi masyarakat di Margoyoso ndingkan Posyandu di Ambarawa. lebih baik dibaKesimpulan : Hasil kegiatan Revitalisasi di Margoyoso (D/S) tinggi dengan di Ambarawa (D/S rendah) berbeda. Hal ini disebabkan oleh dukungan petugas dan peran serta masyarakat di Margoyoso lebih tinggi dibandingkan dengan Ambarawa

Background: Multidimensional crisis that occurred in Indonesia affected the fulfillment of health’s need including the activity of integrated service post (Posyandu). As an effort to rise up the activity of Posyandu, government issued a letter from the Ministry of Internal Affairs and Regional Autonomy with number of 411.3/116/SJ dated on the 13th of June 2001 regarding general guidance of Posyandu’s revitalization. Level of communities’ participation to come to the Posyandu (D/S) in the district of Tanggamus still low (47,9%). The aim of this research was to find out the description of cadre’s activity and communities’ participation after the implementation of Posyandu’s revitalization. Method: This was an observational research with cross sectional design and used quantitative method that was supported with qualitative method. Research variable was cadre’s characteristics, cadre’s activity, facility’s availability, officer’s support and communities’ participation. The subject of the research was Posyandu’s cadre, cadre’s coordinator, Posyandu’s in-charge person and of the Primary Health Care. Result: There was an increasing of D/S coverage after Posyandu’s revitalization in Primary Health Care of Margoyoso (D/S high) and in Ambarawa (D/S low), and the average improvement of D/S was higher in the Primary Health Care of Margoyoso. There was no significant difference between cadre’s characteristic (age, education, job, marital status) in Margoyoso (D/S high) and in Ambarawa (D/S low), except the length of becoming cadre that was statistically significant. Knowledge, attitude and behavior of cadre in Margoyoso was better than in Ambarawa, and yet only cadre’s behavior that was statistically different. The result of observation as well as focus group discussion and in depth interview showed that the facility of Posyandu, support from Primary Health Care as well as community’s participation in Margoyoso was better than Posyandu in Ambarawa. Conclusion: The impact of Posyandu’s revitalization activity in Margoyoso was better than in Ambarawa; this was caused by the role of cadre, as well as officers’ and communities’ support that was higher in Margoyoso than in Ambarawa

Kata Kunci : Perilaku Sehat,Posyandu,Partisipasi Masyarakat dan Kegiatan Kader


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.