PENGETAHUAN, PENERIMAAN, DAN KEMAUAN MEMBAYAR TERHADAP VAKSIN HUMAN PAPILLOMA VIRUS (HPV) PADA MAHASISWI KLASTER NON MEDIKA UNIVERSITAS GADJAH MADA
Rizki Norma Wulandari, Dr. apt. Dwi Endarti, S.F., M.Sc.
2025 | Skripsi | FARMASI
Kanker serviks adalah kanker yang terjadi di leher rahim, umumnya disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus (HPV). Kanker ini menduduki urutan keempat kanker terbanyak di seluruh dunia. Sebagian besar kasus ini terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Upaya pencegahan kanker dapat dilakukan dengan vaksin HPV. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan, penerimaan, dan kemauan membayar (Willingness to Pay/WTP) terhadap vaksin HPV pada mahasiswi klaster non medika Universitas Gadjah Mada usia 18—26 tahun.
Dengan menggunakan desain cross-sectional, data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan secara daring menggunakan Google Form. Kuesioner mencakup variabel sosiodemografi, tingkat pengetahuan, penerimaan, serta kemauan membayar untuk vaksin HPV. Analisis data dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS untuk menguji hubungan antara variabel sosiodemografi dengan tingkat pengetahuan, penerimaan, dan WTP.
Dari total 118 responden, 66,1% di antaranya memiliki pengetahuan rendah. Penerimaan vaksin HPV sebesar 94,1%. Rata-rata (SD) dari kemauan membayar skenario pembayaran dengan uang sendiri sebesar Rp476.140 (±Rp558.929) atau dengan median (range) yaitu Rp300.000 (Rp50.000—Rp5.000.000). Sementara, persentase skenario pembayaran bersama dengan rata-rata (SD) sebesar 49,0% (±22,5) dengan median (range) yaitu 50% (10%—100%). Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan penerimaan terhadap kemauan membayar vaksin HPV. Terdapat hubungan signifikan antara jumlah uang saku per bulan (p=0,043), klaster dengan kemauan membayar skenario pembayaran bersama (p=0,003), tahun angkatan (p=0,012) dengan tingkat pengetahuan, juga kemauan membayar sebelum penawaran dengan jumlah uang saku per bulan (p=0,001). Selain itu, terdapat hubungan antara kelompok uang saku per bulan terhadap jumlah rata-rata kemauan membayar vaksin (p=0,011).
Cervical cancer is a cancer that occurs in the cervix, generally caused by infection with the Human Papillomavirus (HPV). This cancer is the fourth most common cancer worldwide. Most of these major cases occur in low and middle-ranking countries. Cancer prevention efforts can be done with the HPV vaccine. This study aims to disseminate the level of knowledge, acceptance, and willingness to pay (Willingness to Pay/WTP) for the HPV vaccine in non medical female students in Universitas Gadjah Mada aged 18-26 years.
Using a cross-sectional design, data were collected through questionnaires that were distributed boldly using Google Form. The questionnaire includes sociodemographic variables, level of knowledge, acceptance, and willingness to pay for the HPV vaccine. Data analysis was carried out using SPSS software to test the relationship between sociodemographic variables and levels of knowledge, acceptance, and WTP.
Of the total 118 respondents, 66.1% of them had low knowledge. Acceptance of the HPV vaccine was 94.1%. The average (SD) of the willingness to pay for the payment scenario with one's own money was IDR476,140 (±IDR558,929) or with a median (range) of IDR300,000 (IDR50,000—IDR5,000,000). Meanwhile, the percentage of joint payment scenarios with an average (SD) of 49.0% (±22.5) with a median (range) of 50% (10%—100%). There was no relationship between knowledge and acceptance of willingness to pay for HPV vaccine. There was a significant relationship between the amount of pocket money per month (p=0.043), clusters with the willingness to pay for joint payment scenarios (p=0.003), year of enrollment (p=0.012) with the level of knowledge, as well as the willingness to pay before the offer with the amount of pocket money per month (p=0.001). In addition, there was a relationship between the group of pocket money per month with the average amount of willingness to pay for the vaccine (p=0.011).
Kata Kunci : HPV, pengetahuan, penerimaan, kemauan membayar, mahasiswi non medika