Laporkan Masalah

Representasi Gangguan Spektrum Autisme dan Stres Pasca-Trauma pada Tokoh Mun Sang-tae dalam drama "It's Okay to Not Be Okay" (Saikojiman Gwaenchana): Kajian Psikologi Sastra.

Hersinta Ayu Pratiwi, Alfiana Rosyadi. S.S., M.A.

2025 | Skripsi | BAHASA KOREA

Penelitian ini membahas mengenai representasi gangguan spektrum autisme dan wujud stres pasca-trauma yang dialami oleh tokoh Mun Sang-tae dalam drama Korea yang berjudul “It’s Okay to Not Be Okay” (????? ???) melalui pendekatan psikologi sastra. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gangguan autisme pada tokoh utama dan wujud pasca-trauma yang dapat memperkuat gejala autisme tokoh tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif, berdasarkan teori gangguan spektrum autisme Hallahan dan Kauffman (2014) dan teori stres pasca-trauma Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM V).

Hasil penelitian ini menemukan bahwa Mun Sang-tae dalam drama ‘"t’s Okay to Not Be Okay’" menunjukkan berbagai gejala gangguan spektrum autisme dan stres pasca-trauma, yang saling berhubungan dan mempengaruhi kesehatan emosionalnya. Sang-tae mengalami kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku karena gangguan spektrum autisme. Ia sangat patuh terhadap rutinitas, sering mengalami kesulitan dalam memahami ekspresi emosional orang lain, dan berbicara dengan cara yang kaku dan berulang. Namun, kondisinya semakin diperparah dengan trauma yang dialaminya semasa kecil setelah menyaksikan secara langsung kejadian tragis yang menimpa ibunya. Memori traumatis masa kecilnya ini terus menghantuinya dalam bentuk ingatan yang muncul secara berulang dan tidak disengaja, reaksi panik ketika dihadapkan pada situasi yang mengingatkannya pada kejadian tersebut, dan ketakutan yang mendalam pada kupu kupu yang melambangkan traumanya. Selain itu, ia menunjukkan berbagai tanda stres pasca-trauma, seperti ketidakstabilan emosi, kemarahan yang meledak-ledak secara tiba-tiba, dan kesulitan untuk menjalin hubungan yang lebih dalam dengan orang-orang disekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa trauma yang belum terselesaikan dapat memperburuk gangguan mental lainnya dan bagaimana emosi seseorang dapat diekspresikan dengan berbagai cara, baik verbal maupun nonverbal.

This study examines the representation of autism spectrum disorder (ASD) and the role of post-traumatic stress experienced by the character Mun Sang-tae in the Korean drama called It’s Okay to Not Be Okay (????? ???) through a literary psychology approach. The aim of this study is to identify the characteristics of autism spectrum disorder in the main character and examine the role of trauma in provoking these symptoms. The research applies a qualitative descriptive method, referring to the autism spectrum disorder theory proposed by Hallahan and Kauffman (2014) and the post-traumatic stress disorder theory outlined in the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM V).

This study found that Mun Sang-tae in this drama ‘It’s Okay to Not Be Okay’ exhibits various symptoms of autism spectrum disorder and post-traumatic stress, which are correlated and affect his emotional health. Sang-tae has difficulties in social interaction, communication, and behavior due to autism spectrum disorder. He was very routine-oriented, often had difficulty in understanding the emotional expressions of others, and spoke in a rigid and repetitive manner. However, his condition was further worsened by the trauma he experienced as a child after witnessing firsthand the tragic events that befell his mother. This traumatic memory continued to haunt him in the form of recurrent and involuntary memories, panic reactions when faced with situations that reminded him of the incident, and a deep fear of butterflies that symbolized his trauma. In addition, he showed signs of post traumatic stress, such as emotional instability, sudden outbursts of anger, and difficulty in establishing deeper relationships with those around him. This shows that unresolved trauma can worsen other mental disorders and how one’s emotions can be shown in many ways, both verbal and nonverbal.

Kata Kunci : psikologi sastra, gangguan autisme, stres pasca-trauma, drama, It’s Okay to Not Be Okay

  1. S1-2025-480047-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480047-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480047-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480047-title.pdf