Laporkan Masalah

Di Balik Kebijakan Industri Wisata Berbasis Demand Internasional: Ketidakmampuan Masyarakat Kawasan Mandalika dalam Menahan Displacement.

Jasen Fransiscus, Dr. Nunuk Dwi Retnandari, M.Si.

2025 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)

Dorongan agar industri wisata memenuhi demand internasional kian terasa di sejumlah negara. Beberapa negara, seperti Australia, Vietnam, negara-negara Karibia, bahkan Indonesia telah memilih langkah untuk membangun industri pariwisatanya dengan berlandaskan pada demand internasional. Hal tersebut dapat terlihat melalui Kebijakan Destinasi Super Prioritas yang diterapkan di 5 wilayah di Indonesia, salah satunya Mandalika. Di dalam tatanan praktik, model pembangunan seperti ini diyakini akan menghasilkan displacement. Melalui penelitian ini, dapat terlihat sejumlah proses serta bentuk dari adanya displacement yang muncul di balik Destinasi Super Prioritas di Mandalika. Dalam mendapatkan data tersebut, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pemanfaatan data primer dan sekunder yang didapatkan melalui wawancara, observasi, dan studi Pustaka untuk mengetahui secara langsung proses yang terjadi dalam pembangunan industry wisata di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika (KEK Mandalika). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan industri wisata di KEK Mandalika tidak berdampak secara siginifikan terhadap pertumbuhan, baik itu ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Hal tersebut dapat terlihat dengan terciptanya kondisi yang justru merugikan melalui praktik peminggiran yang dialami masyarakat lokal KEK Mandalika. Kesimpulan dari penelitian ini menyoroti pentingnya pengkajian lebih mendalam dalam pemilihan model kebijakan industri pariwisata untuk kemudian lebih menghadirkan pemberdayaan dan penguatan potensi lokal tanpa harus meminggirkan.

The push for the tourism industry to meet international demand is increasingly felt in several countries. Some countries, such as Australia, Vietnam, Caribbean nations, and even Indonesia, have chosen to develop their tourism industries based on international demand. This can be seen through the implementation of the Super Priority Destinations policy in five regions of Indonesia, one of which is Mandalika. In practice, this development model is believed to result in gentrification. This research reveals a number of processes and forms of gentrification that arise behind the Super Priority Destination in Mandalika. In this study, the author uses a qualitative method with primary and secondary data obtained through interviews, observations, and literature studies to directly understand the processes occurring in the development of the tourism industry in the Mandalika Special Economic Zone (KEK Mandalika). The research results show that the development of the tourism industry in KEK Mandalika has not had a significant impact on growth, whether economic, social, or environmental. This can be seen in the creation of conditions that are detrimental and marginalize the local community of KEK Mandalika. The conclusion of this study emphasizes the importance of a more in-depth examination in selecting the tourism industry policy model to better bring about empowerment and strengthening of local potential without marginalizing it.

Kata Kunci : pariwisata internasional, relokasi, masyarakat lokal

  1. S1-2025-482410-abstract.pdf  
  2. S1-2025-482410-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-482410-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-482410-title.pdf