Pengaruh frekuensi penyiraman terhadap produktivitas generatif alfalfa tropik (Kacang Ratu BW)
Safarina Ilan Nuril Amri, Prof. Ir. Bambang Suwignyo, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
2025 | Skripsi | ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan frekuensi penyiraman terhadap produktivitas generatif alfalfa tropik (Medicago sativa cv. Kacang Ratu BW). Tanaman yang digunakan yaitu alfalfa tropik regrowth ke-6 umur 10 bulan. Penelitian ini dilakukan selama 30 hari setelah defoliasi dan dilaksanakan di Lahan Penelitian Hijauan dan Laboratorium Hijauan Makanan Ternak dan Pastura, Departemen Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada. Faktor dalam penelitian ini yaitu frekuensi penyiraman yang mempengaruhi respons tanaman terhadap cekaman kekeringan. Penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan yaitu intensitas penyiraman setiap hari (P0), 2 hari sekali (P1), 4 hari sekali (P2), dan 6 hari sekali (P3). Setiap perlakuan terdapat 3 replikasi dan masing-masing terdapat 3 tanaman secara acak yang ditanam pada plot berukuran 6 m x 1 m dengan total 8 plot dan jarak antar plot yaitu 40 cm. Pengamatan terhadap produktivitas generatif alfalfa mencakup waktu pertama muncul bunga, waktu pertama bunga mekar, waktu pertama bunga mekar runtuh mahkotanya dan muncul calon polong, waktu pertama terbentuk polong padat sempurna dan waktu pertama muncul polong masak. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi frekuensi penyiraman tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap produktivitas generatif alfalfa tropik (Medicago sativa cv. Kacang Ratu BW). Dapat disimpulkan bahwa alfalfa tropik memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan interval penyiraman dan tetap mengikuti pola perkembangan reproduktif yang stabil.
This study aims to determine the effect of differences in watering frequency on the generative productivity of tropical alfalfa (Medicago sativa cv. Kacang Ratu BW). The plants used are the 6th regrowth tropical alfalfa aged 10 months. This research was conducted for 30 days after defoliation and was carried out at the Forage Research Field and Laboratory of Forage and Pasture, Department of Nutrition and Animal Food, Faculty of Animal Husbandry, Gadjah Mada University. The factor in this study is the frequency of watering which affects the plant's response to drought stress. This study consisted of 4 treatments, namely watering intensity every day (P0), every 2 days (P1), every 4 days (P2), and every 6 days (P3). Each treatment has 3 replications and each has 3 plants randomly planted on a plot measuring 6 m x 1 m with a total of 8 plots and the distance between plots is 40 cm. Observations of alfalfa generative productivity include the first time flowers appear, the first time flowers bloom, the first time the blooming flower collapses its crown and prospective pods appear, the first time perfect solid pods are formed and the first time ripe pods appear. The data obtained were analyzed using a completely randomized design (CRD) unidirectional pattern. The results showed that variations in watering frequency did not have a significant effect on the generative productivity of tropical alfalfa (Medicago sativa cv. Kacang Ratu BW). It can be concluded that tropical alfalfa has a high tolerance to differences in watering intervals and still follows a stable reproductive development pattern.
Kata Kunci : Alfalfa, Cekaman kekeringan, Frekuensi penyiraman, Produktivitas generatif/Alfalfa, Drought stress, Watering frequency, Generative productivity