Penanganan kemarahan pada situasi konflik dalam keluarga Batak
MINAULI, Irna, Prof.Dr. Sri Rahayu Partosuwido
2004 | Tesis | S2 PsikologiPenelitian lintas budaya mengenai masalah penanganan kemarahan biasanya hanya mengambil suku Jawa sebagai representasi Indonesia. Padahal, Indonesia sangat kaya ragam budayanya. Salah satu budaya yang masih belum tergali adalah budaya Batak. Dalam masalah penanganan kemarahannya, mereka dikenal lebih spontan dan ekspresif. Akan tetapi, antara subsuku Mandailing- Angkola dan Toba juga diketahui terdapat perbedaan-perbedaan. Oleh karenanya, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) perbedaan pola penanganan kemarahan antara suku Batak Mandailing-Angkola dan Toba (2) sumber konflik dalam keluarga (3) apa yang dilakukan dan apa yang dipikirkan ketika konflik terjadi dengan pemicu kemarahan yang berbeda, yaitu bapak, ibu, kakak, abang, adik perempuan dan adik laki-laki (4) pemahaman tentang nilainilai budaya Batak (5) dan melakukan pengujian vignette dari Weber yang dimodifikasi oleh Dahme (1999). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan Diskusi Kelompok Terarah (Focus Group Discussion) guna mengeksplor masalah-masalah yang belum tergali sebelumnya, khususnya dalam literatur ilmiah. Subjek penelitian adalah laki-laki yang terdiri dari 12 mahasiswa Mandailing-Angkola dan 8 mahasiswa Toba di Medan. Hasilnya menunjukkan bahwa (1) penanganan kemarahan Mandailing- Angkola terlihat lebih damai dibandingkan Toba (2) penanganan kemarahan terhadap ibu terlihat lebih damai dibandingkan dengan bapak, kakak, abang, adik perempuan dan adik laki-laki (3) apa yang dipikirkan juga lebih damai dibandingkan dengan apa yang mereka lakukan (4) persaingan antar saudara kandung lebih banyak dialami dengan saudara yang sejenis kelamin, khususnya dengan adik laki-laki (5) sumber-sumber konflik dan pola penanganan kemarahan dengan kakak memiliki banyak kesamaan dengan ibu (6) pemahaman tentang nilai-nilai budaya Batak agak menurun di kalangan generasi muda (7) keinginan untuk menikah dengan pariban sudah tidak terlihat (8) subsuku Batak Toba masih sangat mentabukan perkawinan semarga sedangkan subsuku Mandailing-Angkola sudah lebih longgar dalam masalah ini (9) vignette mengenai masalah konser dan membuatkan hadiah merupakan situasi yang tidak pernah dialami peserta sehingga perlu diubah.
Cross-cultural studies on handling-anger usually used Java as representatives of Indonesia. In fact, Indonesia is a big country with diverse cultures. One of them is Batak. They are known as spontaneous and expressive people in handling their anger. Although within that tribes there are some differentiations too, especially between Mandailing-Angkola and Toba. The aims of this study are to know (1) differences on handling-anger pattern within Mandailing-Angkola’s and Toba’s (2) sources of conflict within family (3) what are they doing and what are they thinking about anger-instigator, especially if the anger-instigator is father, mother, and siblings (older sister, older brother, younger sister, and younger brother) (4) their knowledge about Batak’s values (5) and to evaluate Weber’s vignette which modified by Dahme (1999). This study is a qualitative study, using Focus Group Discussion to explore the problems those are not well known before, especially in literatures. The subjects were 12 Mandailing-Angkola’s and 8 Toba’s undergraduate male students in Medan. The results show those (1) handling-anger within Mandailing-Angkola is more peaceful than Toba’s (2) handling-anger to mother as anger-instigator is more peaceful compared with father and siblings (3) what are they thinking is more peaceful than what are they doing (4) siblings rivalry is more often between their brothers, especially with their younger brother (5) they have the same sources of conflict and handling-anger pattern between mother and older sister (6) the understanding of cultural values tend to decrease within Batak’s young generation (7) they tend not to married with their own pariban (8) in Batak Toba they still keep the belief not to marry people from the same marga while in Mandailing-Angkola they can receive this (9) the vignette about concert and make their own present are two conditions that they never been experienced before, that need to be reevaluated.
Kata Kunci : Psikologi,Kemarahan,Konflik Keluarga Batak, Mandailing-Angkola, Toba, handling-anger pattern, anger-instigator, Focus Group Discussion, marga, pariban