The Dynamic of Aerotropolis Concept and Plan at the Heritage Agriculture Practice of 'Sawah Surjan': A case study of at the Yogyakarta International Airport, Kulon Progo
Ratna Kusumawati, Dr. Erda Rindrasih, S.Si., M.U.R.P.
2025 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)
Banyak negara yang telah memanfaatkan posisi bandara untuk mengembangkan jaringan ekonomi global dengan menerapkan konsep aerotropolis. Sebagai negara berkembang, Indonesia telah meningkatkan infrastruktur penghubung terhadap bandara dan menerapkan konsep aerotropolis yang menggabungkan daerah sekitarnya. Namun, pengembangan aerotropolis dapat berdampak pada penggunaan lahan dan praktik mata pencaharian berbasis warisan budaya yang ada salah satunya pada agricultural areas. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana dampak konsep aerotropolis terhadap kawasan pertanian dan bagaimana tanggapan kelompok lokal yang disebut Gapoktan terhadap kebijakan tersebut. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan studi kasus, penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gapoktan memiliki peran yang lemah dalam menjaga eksistensi kearifan lokal sawah surjan dalam artian bahwa Gapoktan sulit beradaptasi dengan smart agriculture, rendahnya awareness terhadap warisan budaya, pengaruh money talks, dan kemunculan role ambiguity. Maka, tulisan ini memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk fokus dalam mengkaji ulang proyek pembangunan agar kearifan lokal tetap terjaga dan membantu perluasan pasar, khususnya produk hortikultura sawah surjan.
Many countries have utilized airports infrastructure to develop global economic networks by implementing the aerotropolis concept. As a developing country, Indonesia has boost its connecting infrastructure such as airport and implement the aerotroplis concept incorporating surrounding areas. However, the development of aerotropolis could impact the existing landuse and heritage livelihood practices such as agricultural areas. It raises a question on how does the impact of aerotropolis concept for agriculture areas and how does the local groups called Gapoktan respons to the policy. By using a qualitative descriptive and case study approach, this study aims to address those emergin question. The results showed that Gapoktan has a weak role in maintaining the existence of the local wisdom of sawah surjan as Gapoktan’s could not adapt to smart agriculture, low awareness of cultural heritage, the influence of money talks, and the emergence of role ambiguity. This paper suggests that the government focuses on reviewing development projects so that local wisdom remains sustainable and helps expand the market, especially for sawah surjan horticultural products.
Kata Kunci : Urban Development, Aerotropolis, Sustainable Agriculture, Sawah Surjan, Farmer Groups.