Laporkan Masalah

Penaksiran Nilai Ekonomi Hutan Mangrove Sebagai Fungsi Pemijahan Biota Laut di Desa Golo Sepang Kabupaten Manggarai Barat

Ni Nyoman S. Tri Wulandari, Agus Affianto, S.Hut., M.Si

2025 | Skripsi | KEHUTANAN

Hutan mangrove memiliki peran penting secara ekologis dan ekonomis, khususnya bagi masyarakat pesisir. Salah satu manfaat tidak langsung ekosistem mangrove adalah sebagai fungsi pemijahan biota laut. Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, memiliki kawasan mangrove seluas 372,794 ha, terbesar di wilayah tersebut. Namun, pemanfaatan dan perlindungan ekosistem ini belum optimal akibat kurangnya pemahaman terhadap nilai manfaat tidak langsung yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik penerima manfaat serta menghitung nilai ekonomi tidak langsung hutan mangrove di Desa Golo Sepang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling pada 56 responden melalui wawancara langsung menggunakan interview guide. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode effect on production untuk mengestimasi nilai ekonomi ekosistem mangrove sebagai fungsi pemijahan biota laut.
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik nelayan perikanan tangkap di Desa Golo Sepang mayoritas berada di usia produktif dan sudah berpengalaman lebih dari 15 tahun. Rata-rata nelayan memiliki tanggungan sebanyak 3–5 orang. Dalam sehari, rata-rata nelayan melaut selama 7–12 jam, menempuh jarak sekitar 5–8 Km. Dengan alat tangkap yang paling umum digunakan adalah perangkap kepiting. Rata-rata pendapatan bersih setiap nelayan perahu kecil yang memanfaatkan hutan mangrove di Desa Golo Sepang adalah Rp71.955.301/tahun. Sementara itu, nilai ekonomi total ekosistem hutan mangrove di Desa Golo Sepang mencapai Rp 179.775.154.393/tahun, atau setara dengan Rp 482.237.253/ha/tahun

Mangrove forests play a vital ecological and economic role, particularly for coastal communities. One of the indirect benefits of mangrove ecosystems is their function as spawning and nursery grounds for marine lifes. Golo Sepang Village, located in Boleng District, West Manggarai Regency, has a mangrove area of 372.794 hectares, the largest in the region. However, the utilization and protection of this ecosystem remain suboptimal due to a lack of understanding regarding its indirect economic value. This study aims to identify the characteristics of the beneficiaries and to estimate the indirect economic value of mangrove forests in Golo Sepang Village.
This research employs a quantitative approach with accidental sampling techniques, involving 56 respondents who were interviewed using a structured interview guide. The analysis was conducted using the Effect on Production method to estimate the economic value of mangrove ecosystems in their role as spawning grounds for marine life.
The results indicate that the majority of fishermen in Golo Sepang Village are within productive age and have over 15 years of fishing experience. On average, they support 3–5 dependents. Daily fishing activities typically last 7–12 hours, covering distances of approximately 5–8 kilometers. With the most commonly used fishing gear is the crab trap. The average annual net income of small-boat fishermen who utilize the mangrove areas is Rp71,955,301. Meanwhile, the total estimated economic value of the mangrove ecosystem in Golo Sepang Village reaches Rp179,775,154,393 per year, equivalent to Rp482,237,253 per hectare per year.

Kata Kunci : Effect on Production, Pemijahan, Biota Laut, Nilai Ekonomi, Hutan Mangrove, Golo Sepang; Effect on Production, Spawning Ground, Marine Life, Economic value, Mangrove, Golo Sepang

  1. S1-2025-474753-abstract.pdf  
  2. S1-2025-474753-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-474753-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-474753-title.pdf