Laporkan Masalah

Pengaruh konversi lahan pertanian terhadap keberhasilan strategi kelangsungan hidup petani didaerah pinggiran kota

Anton Martopo, Drs. Su Ritohardoyo, M.A.

2004 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Kecamatan Ngaglik secara administasi termasuk dalam wilayah Kabupaten Sleman. Secara geografis, Kecamatan Ngaglik terletak di bagian selatan dari Kabupaten Sleman dan berada di daerah pinggiran Kota Yogyakarta. Perkembangan Kota Yogyakarta yang lebih cenderung ke arah utara telah mengakibatkan terjadinya konversi atau perubahan dari lahan pertanian menjadi lahan non pertanian di daerah pinggiran kota Yogyakarta. Konversi lahan pertanian ke non pertanian terluas di daerah pinggiran kota terjadi di wilayah Kecamatan Ngaglik. Penelitian ini mengambil desa-desa di wilayah Kecamatan Ngaglik yang mengalami konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian paling luas antara tahum 1996-2001 yaitu Desa Sariharjo dan Sinduharjo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji persepsi rumahtangga petani terhadap fenomena konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian, jumlah,ragam, serta keberhasilan dari strategi kelangsungan hidup rumahtangga petani, dan orientasi pemanfaatan hasil dari konversi dan penjualan lahan pertanian. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei, yaitu metode pengumpulan informasi dan data dengan menggunakan kuesioner. Responden dalam penelitian ini adalah rumahtangga petani pemilik dan non pemilik lahan pertanian karena mereka adalah pelaku utama di sektor pertanian. Penentuan jumlah responden ditetapkan dengan prinsip quota sampling sebanyak 100 responden yang terbagi merata, di dua desa berdasarkan perbedaan perilaku. Teknik analisa yang digunakan terdiri atas analisa deskriptif kualitatif dan analisa kuantitatif. Teknik analisa kuantitatif yang digunakan adalah statistika Korelasi Product Moment clan label frelruensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara status sosial ekonomi dengan persepsi rumahtangga petani terhadap konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian. Semakin tinggi status sosial ekonomi rumahtangga petani maka semakin tinggi pula persepsinya. Namun status sosial ekonomi rumahtangga petani ini tidak mempunyai hubungan negatif dengan jurnlah ragam strategi yang diterapkan. Rumahtangga petani tanpa mengenal status sosial ekonominya berusaha untuk memanfaatkan setiap peluang ekonomi dan jaringan sosial yang ada sesuai dengan kreativitas dan keuletan mereka. Keberhasilan strategi kelangsungan hidup rumahtangga petani yang didasarkan pada nilai kebutuhan hidup minimum sebesar Rp 360.000,00. Konversi lahan pertanian mempengaruhi keberhasilan strategi kelangsungan hidup yang diterapkan oleh rumahtangga petani. Orientasi pemanfaatan hasil dari konversi dan penjualan lahan pertanian oleh pemilik lahan pertanian digunakan untuk tujuan sosial dan produksi.

Ngaglik district administratively is included in Sleman regency. Geographically, it's located in south of Sleman regency and urban fringe of Yogyakarta. The development of Yogyakarta town tending to northward has result in conversion of agricultural area to non-agricultural area in urban fringe of Yogyakarta. The most conversions occurred in villages of Ngaglik district. The study was done in villages of Ngaglik district having most wide conversion of agricultural area to non-agricultural area in 1996-2001, that is Sariharjo and Sinduharjo villages. The study aimed to review perception of peasant households on the conversion phenomenon, amount, type, and successfulness of survival strategy as well as usage orientation of result of conversion and agricultural area sale. Study method used in this study was survey research, that is information and data was collected using questioner. Respondents in this study are having area and non-having land peasant household because they are major actors in agricultural sector. Amount of respondents are defined using quota sampling principle that result in 100 respondents distributed evenly in the two villages based on behavior difference. Analytical technique used consisted of qualitative descriptive analysis and quantitative analysis. Statistical analysis technique used was Product Moment correlation and table of Frequency. Result of the study indicated that there was association between social economic status and perception of peasant household on conversion of agricultural area to non-agricultural area. Higher and higher the social economic status, higher their perception. Peasant households without recognizing social economic status effort to every economic opportunity and social network according to creativity and resilient of them. Successfulness of survival strategy of peasant households that relied on value requirement of minimum life Rp 360.000,00. Conversion of agricultural area to non agricultural area to influence succesfulness of survival strategy of peasant households. As to usage orientation of conversion result and sale of agricultural area by their owners, they used it to social and production aim.

Kata Kunci : Konversi lahan pertanian,Strategi kelangsungan hidup,Ngaglik,Sleman,DIY

  1. S1-2004-130173-Anton_Martopo-abstract.pdf  
  2. S1-2004-130173-Anton_Martopo-bibliography.pdf  
  3. S1-2004-130173-Anton_Martopo-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2004-130173-Anton_Martopo-title.pdf