Laporkan Masalah

Kesempatan kerja wanita dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Daerah Istimewa Yogyakarta : Analsis data susenas kor 1995

Asto Widihantoro, Prof. Dr. Ida Bagoes Mantra

1998 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai karakteristik yang khas mengenai ketenagakedaan wanita. Penelitian tentang "Kesempatan Kerja Wanita Di Daerah Istimewa Yogyakarta Analisis Data SUSENAS KOR 1995" bertujuan untuk mengetahui (1) Kesempatan kerja bagi wanita menurut lapangan,status dan jenis pekerjaan di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada empat kabupaten dan kotamadya Yogyakarta (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi kesempatan kerja berdasarkan kondisi demografi dan sosial ekonomi (3) pemanfaatan pekerja wanita di DIY menurut jam kerja berdasarkan status pekerjaan dan status perkawinan. Data yang digunakan berupa"raw data" SUSENAS KOR 1995 yang diperoleh dari Biro Pusat Statistik, sampel yang digunakan 5.522 record wanita berupa 10 tahun keatas. Analisis data dilakukan dengan tabel silang dan deskripsi serta analisis kai kuadrat (Chi Square) untuk membuktikan hubungan variabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kualitas angkatan kerja wanita masih di DIY rendah. Terbukti dengan masih dominannya angkatan kerja wanita yang terserap di sektor pertanian, tertinggi di Kabupaten Gunung Kidul (83,4 persen) dan terendah di Kotamadya Yogyakarta (0,8 persen) dengan status bekerja banyak di sektor informal, tertinggi di Kabupaten Gunung Kidul (95,6 persen) dan terendah di Kotamadya Yogyakarta (46,3 persen) dan masih berkonsentrasi pada jenis pekerjaan kasar terutama untuk Kabupaten Gunung Kidul (86,4 persen), sedangkan Kotamadya Yogyakarta penyerapan angkatan kerja wanita sudah mulai bergeser jenis pekerjaan semi terampil (61,5 persen) dan hanya 17,3 persen sebagai pekerja kasar. Variasi antar kabupaten (kecuali Kotamadya Yogyakarta), Kab. Sleman kondisi ketenagakerjaan wanita lebih baik dari tiga kabupaten lainnya. Hal itu ditandai dengan pendidikan tinggi paling banyak persentasenya (17,0 persen), lapangan usaha banyak bekerja di sektor jasa (47,2 persen), status formal lebih banyak (36,6 persen). Faktor yang sangat mempengaruhi wanita masuk dalam dnnia kerja adalah pendidikan, semakin tinggi pendidikan proporsi yang dapat terserap kedalam jenis pekerjaan terampil dan sektor formal semakin tinggi. Sedangkan sektor pertanian didominasi oleh pendidikan rendah. Faktor umur dan status perkawinan pengaruhnya tidak nyata bahkan persentase terbesar yang memasuki kerja adalah pekerja wanita dengan status kawin yang persentasenya lebih besar dari 50 persen kecuali Kotamadya Yogyakarta (48,0 persen), dan jumlah anak balita tampaknya tidak terlalu mempengaruhi. Tingkat pemanfaatan pekerja wanita di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan bahwa pada sektor informal cenderung kurang dimanfaatkan atau di bawah jam kerja normal (<35 jam/minggu) karena tidak terikat jam kerja dan sangat bervariasinya sektor ini, dan bila dilihat status kawin pekerja wanita ternyata tidak mempengaruhi jumlah jam kerja mereka, terlihat antara status lajang/belum kawin, kawin dan cerai hidup/mati clalam pemanfaatan jam kerja penuh dan jam kerja kurang masih dalam proporsi persentase yang berimbang, pada wanita status kawin dengan jumlah anak 2 atau lebih menunjukkan persentase pakerja wanita yang dimanfaatkan penuh jauh lebih besar daripada pekerja wanita yang kurang dimanfaatkan, kecuali untuk Kabupaten Kulon Progo (43,5 persen) dan kabupaten Gunung Kidul (34,5 persen) tetapi dalam proporsi seimbang.

-

Kata Kunci : Kesempatan kerja wanita,DIY

  1. S1-1998-84931-Asto_Widihantoro-abstract.pdf  
  2. S1-1998-84931-Asto_Widihantoro-bibliography.pdf  
  3. S1-1998-84931-Asto_Widihantoro-tableofcontent.pdf  
  4. S1-1998-84931-Asto_Widihantoro-title1.pdf