Pengaruh Ekstrak Kayu Caesalpinia sappan Terhadap Ekspresi Spesies Oksigen Reaktif Pada Fibroblas yang Dipajan Sinar Biru
Farisa Anggreana, Prof. Dr. dr. Yohanes Widodo Wirohadidjojo, Sp.D.V.E, Subsp.O.B.K; dr. Arief Budiyanto, Ph.D., Sp.D.V.E, Subsp.O.B.K
2025 | Tesis-Spesialis | S2 Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Latar Belakang: Sinar biru merupakan bagian dari spektrum sinar tampak dengan panjang
gelombang 400-500 nm yang berasal dari sinar matahari dan perangkat elektronik.
Pajanan sinar biru dapat menembus lapisan dermis dan memicu pembentukan spesies
oksigen reaktif (SOR) yang dapat mengganggu fungsi fibroblas dan menyebabkan photoaging.
Caesalpinia sappan (C. sappan) atau secang merupakan tumbuhan
yang mengandung brazilin. Brazilin dikatakan memiliki aktivitas antioksidan
untuk mengatasi efek negatif pajanan sinar biru.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ekstrak kayu C.
sappan terhadap ekspresi SOR pada biakan fibroblas dermis manusia yang dipajan
sinar biru.
Metode: Penelitian eksperimental in vitro dilakukan menggunakan biakan
fibroblas dermis yang diambil dari kulit wajah manusia sehat (usia kurang dari 30
tahun) dengan subkultur pasase 3. Sampel dibagi menjadi kelompok yang diberi
perlakuan ekstrak kayu C. sappan dengan variasi konsentrasi (3,9 µg/ml,
7,8 µg/ml, 15,6 µg/ml, dan 31,2 µg/ml) disertai kelompok kontrol yang dipajan
sinar biru dan tanpa sinar biru. Sinar biru diberikan dengan dosis 28 J/cm²
selama 84 menit. Ekspresi SOR masing-masing kelompok diukur menggunakan uji Dichlorohydrofluoresin
diacetate (DCFDA)
dan flow cytometry, lalu dilakukan perbandingan hasil antar kelompok.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinar biru dengan dosis 28 J/cm²
secara signifikan meningkatkan ekspresi SOR pada biakan fibroblas (p=0,005).
Ekstrak kayu C. sappan berhasil menurunkan ekspresi SOR pada konsentrasi
7,8 µg/ml, 15,6 µg/ml, dan 31,2 µg/ml (p=0,028; p=0,009; p=0,028). Konsentrasi
7,8 µg/ml, 15,6 µg/ml, dan 31,2 µg/ml mampu menekan ekspresi SOR hingga
mendekati level biakan fibroblas tanpa pajanan sinar biru.
Pembahasan: Penelitian ini menunjukkan adanya mekanisme protektif dari ekstrak kayu C.
sappan terhadap kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh sinar biru.
Brazilin yang merupakan bagian dari flavonoid (isoflavonoid) pada ekstrak kayu C.
sappan diduga berperan sebagai antioksidan yang efektif dalam menekan
pembentukan SOR. Pada penelitian ini didapatkan adanya hubungan yang signifikan
antara konsentrasi ekstrak dan kemampuan antioksidannya dengan konsentrasi
efektif pada 7,8 µg/ml., 15,6 µg/ml, dan 31,2 µg/ml.
Kesimpulan: Ekstrak kayu C. sappan terbukti dapat menurunkan ekspresi SOR
pada biakan fibroblas dermis manusia yang dipajan sinar biru, terutama pada
konsentrasi 7,8 µg/ml, 15,6 µg/ml, dan 31,2 µg/ml. Temuan ini menunjukkan
potensi ekstrak kayu C. sappan sebagai agen protektif terhadap kerusakan
kulit akibat pajanan sinar biru.
Kata Kunci: Sinar biru, Caesalpinia sappan, spesies oksigen reaktif, ribroblas,
photoaging
Background: Blue light is a part of the
visible light spectrum with wavelengths of 400-500 nm that comes from sunlight
and electronic devices. Blue light exposure can penetrate the dermis layer and
trigger the formation of reactive oxygen species (ROS), which can impair
fibroblast function and cause photoaging. Caesalpinia sappan L. (C. sappan L.) or
sappan wood is a plant that contains brazilin. Brazilin is reported to possess
antioxidant activity to counteract the negative effects of blue light exposure.
Objective: This study aimed to evaluate
the effect of C. sappan L. extract on ROS expression in human dermal
fibroblast cultures exposed to blue light.
Methods: This experimental in vitro
study was conducted using dermal fibroblast cultures obtained from healthy
human facial skin (age less than 30 years old) with passage 3 subculture.
Samples were divided into groups treated with C. sappan L. extract at various
concentrations (3,9 µg/ml, 7,8 µg/ml, 15,6 µg/ml, and 31,2 µg/ml) along with
control groups exposed to blue light and without blue light exposure. Blue
light was administered at a dose of 28 J/cm² for 84 minutes. Reactive oxygen
species expression in each group was measured using the Dichlorohydrofluoresin
diacetate (DCFDA) assay and flow cytometry, followed by comparison of results
between groups.
Results: The results showed that blue
light at a dose of 28 J/cm² significantly increased ROS expression in
fibroblast cultures (p=0,005). Caesalpinia sappan L. extract successfully
reduced ROS expression at concentrations of 7,8 µg/ml, 15,6 µg/ml, and 31,2
µg/ml (p=0,028; p=0,009; p=0,028). Concentrations of 7,8 µg/ml, 15,6 µg/ml, and
31,2 µg/ml were able to suppress ROS expression to levels approaching
fibroblast cultures without blue light exposure.
Discussion: This study demonstrates the
protective mechanism of C. sappan L. extract against oxidative damage caused
by blue light. Brazilin, which is part of the flavonoid (isoflavonoid) in C.
sappan L. extract, is presumed to act as an effective antioxidant in
suppressing ROS formation. This study found a significant relationship between
extract concentration and its antioxidant capacity with effective
concentrations at 7,8 µg/ml, 15,6 µg/ml, and 31,2 µg/ml.
Conclusion: Caesalpinia sappan L. extract is proven to reduce ROS expression in human dermal fibroblast cultures
exposed to blue light, especially at concentrations of 7,8 µg/ml, 15,6 µg/ml,
and 31,2 µg/ml. These findings indicate the potential of C. sappan L. extract
as a protective agent against skin damage due to blue light exposure.
Keywords: Blue light, Caesalpinia
sappan L., reactive oxygen species, fibroblasts, photoaging
Kata Kunci : sinar biru, Caesalpinia sappan L., spesies oksigen reaktif, ribroblas, photoaging