Rethinking Refugee Protection: Towards a Second Protocol for Addressing the Plight of Ex-ISIS Women and Children in Syrian Refugee Camps
Balya Arung Segara, Dr. Atin Prabandari M.A.(IR)
2025 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional
Konvensi Pengungsi 1951 yang dirancang untuk melindungi orang-orang yang melarikan diri dari penganiayaan dan konflik, namun konvensi ini tidak memadai untuk menangani isu-isu kontemporer, seperti kasus pengungsi eks-ISIS di kamp-kamp pengungsian Suriah. Kemampuan Konvensi dalam menyeimbangkan antara visi kemanusiaan dan masalah keamanan kemudian diuji melalui kamp-kamp ini, di mana kamp-kamp ini menampung orang-orang dengan berbagai afiliasi, termasuk mereka yang berkaitan dengan organisasi ekstremis. Kerangka kerja Konvensi Pengungsi ini tidak memadai dalam membahas deradikalisasi, reintegrasi jangka panjang, dan pertanggungjawaban bagi mantan anggota teroris di antara kumpulan pengungsi. Tesis ini kemudian menganalisis kekurangan dari Konvensi Pengungsi 1951 dalam menangani skenario kontemporer, menyoroti perlunya protokol kedua untuk Konvensi Pengungsi yang dapat mendamaikan keharusan ganda antara keamanan dan hak-hak pengungsi di abad ke-21, dan mekanisme-mekanisme untuk membedakan korban dan pelaku dalam klasifikasi pengungsi, dengan menggunakan konsep Homo Sacer sebagai kerangka teori utama. Protokol kedua ini nantinya akan berguna untuk memperluas definisi pengungsi melalui gagasan Homo Sacer, dan akan memfasilitasi pengakuan terhadap individu-individu mantan ISIS sebagai pengungsi, karena kerangka hukum yang ada tidak mengakui mereka sebagai pengungsi.
The 1951 Refugee Convention was designed to protect people escaping persecution and conflict, however the case of ex-ISIS refugees in Syrian refugee camps shows how inadequate it is to handle contemporary issues. The Convention’s ability to strike a balance between humanitarian ideals and security concerns is put to the test by these camps, which host people with a variety of affiliations, including some associated with extremist organizations, and the Convention’s framework does not adequately address deradicalization, long-term reintegration, and accountability for former member of terrorist organizations among refugee populations. This thesis then analyzes the deficiencies of the 1951 Refugee Convention in addressing contemporary scenarios, highlighting the necessity for a second protocol to the Convention that can reconcile the dual imperatives of security and refugee rights in the 21st century by broadening the definition of refugee and the mechanisms to distinguish victims and perpetrators within this classification of refugees, utilizing the concept of Homo Sacer as the primary theoretical framework. The second protocol to broaden the definition of refugee through the notion of Homo Sacer will facilitate the recognition of ex-ISIS individuals as refugees, as the existing legal framework fails to acknowledge them as such.
Kata Kunci : The 1951 Refugee Convention, Second Protocol, Homo Sacer, Refugee, Ex-ISIS Refugees