Persepsi Tenaga Kesehatan Mengenai Otonomi Kekerabatan Dalam Pengambilan Keputusan Tindakan Medis Oleh Pasien Saat Pandemi Covid - 19
Nathan Agwin Khenda, Dr. Retna Siwi Padmawati, M.A ; Dr. C.B. Kusmaryanto, SCJ
2025 | Tesis | MAGISTER BIOETIKA
Latar belakang : Pandemi COVID-19 telah secara substansial mengubah norma-norma sosial global, terutama dalam sektor kesehatan. Para pembuat kebijakan telah bekerja tanpa lelah untuk mengelola peningkatan jumlah kasus secara efektif. Periode ini menuntut proses pengambilan keputusan medis yang cepat dan tegas. Konteks budaya secara signifikan memengaruhi keputusan-keputusan ini, dengan setiap budaya mengadopsi pendekatan yang unik. Studi ini mengeksplorasi peran kekerabatan dalam pengambilan keputusan medis selama pandemi berlangsung.
Tujuan : Tujuan penelitian untuk mengetahui persepsi tenaga kesehatan mengenai penerapan otonomi kekerabatan terhadap pengambilan keputusan tindakan medis pada masa pandemi COVID 19
Metode penelitian : Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif eksploratif, proses pengambilan data dengan in-depth interview.
Hasil : Informan penelitian merupakan, perawat dan dokter yang terlibat dalam penanganan pandemi COVID 19 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam penelitian ini ditemukan adanya penerapan otonomi kekerabatan ditunjukkan oleh proses pengambilan keputusan medis yang melibatkan pasien, keluarga mereka, tenaga kesehatan, dan pemimpin masyarakat.
Kesimpulan : Menghormati otonomi pasien berarti menghargai keputusan medis individu. Di Yogyakarta, menurut persepsi tenaga kesehatan konsep otonomi tidak hanya otonomi individu tetapi ada otonomi kekerabatan yang menekankan pengambilan keputusan medis bersama oleh keluarga, tenaga kesehatan dan orang disekitarnya. Faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan tindakan medis memiliki perbedaan ketika dilakukan oleh diri sendiri, keluarga, dan orang lain selain keluarga. Namun, hal ini dapat menimbulkan dilema etis bagi tenaga kesehatan, terutama ketika terjadi perbedaan pendapat. Dalam keadaan gawatdarurat otonomi tidak penting dan akan mengutamakan prinsip beneficience untuk menyelamatkan pasien.
Background: The COVID-19 pandemic has significantly altered global social norms, particularly in the healthcare sector. Policymakers have tirelessly worked to manage the increasing number of cases effectively. This period demands rapid and decisive medical decision-making. Cultural context significantly influences these decisions, with each culture adopting a unique approach. This study explores the role of kinship in medical decision-making during the pandemic
Objective: To understand perceptions of healthcare workers about the role of kekerabatan autonomy in medical decision-making during the COVID-19 pandemic.
Methods: This study utilized a qualitative exploratory design, leveraging in-depth interviews as the primary data collection technique..
Result: Participants of this study are nurses and doctors involved in managing the COVID-19 pandemic in the Special Region of Yogyakarta. The research found the application of kinship autonomy, demonstrated by the medical decision-making process involving patients, their families, healthcare professionals, and community leaders.
Conclusion: Respecting patient autonomy means valuing individual medical decisions. In Yogyakarta, the concept of autonomy extends beyond individual autonomy to include kekerabatan autonomy, which emphasizes collective medical decision-making by the family, healthcare workers and those around them. The factors influencing medical decision-making vary when decisions are made by oneself, by family members, or by others outside the family. However, this can create ethical dilemmas for healthcare professionals, especially when there are differences of opinion. In emergency situations, autonomy becomes less important, and the principle of beneficence is prioritized to save the patient.
Kata Kunci : Autonomy, COVID-19, Healthcare, Bioethics, Qualitative Research