Analisis Implementasi Kerja Sama Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru Dengan Rumah Sakit Umum Daerah Teluk Kuantan Dalam Pendirian Layanan Hemodialisis
GILANG, Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, M.A
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar belakang: Gagal Ginjal Kronis (GGK) merupakan salah satu penyakit yang membutuhkan biaya tinggi dengan prognosis yang buruk. Prevalensi dan insidensinya terus meningkat dari tahun ke tahun. Secara global, prevalensi GGK diketahui sebesar 13,4%. Di Indonesia, berdasarkan data BPJS Kesehatan diketahui bahwa GGK menempati peringkat kedua penyakit dengan pembiayaan terbesar setelah penyakit jantung. Berdasarkan data Riskesda, jumlah kasus GGK di Provinsi Riau cenderung meningkat setiap tahun. Sebagai contoh di Kabupaten Kuantan Singingi, lebih dari 200 pasien membutuhkan layanan Hemodialisis. Belum tersedianya layanan Hemodialisis di rumah sakit setempat mengakibatkan pasien harus dirujuk ke daerah lain. RS Awal Bros Pekanbaru dan RSUD Teluk Kuantan sepakat untuk membentuk suatu aliansi antar rumah sakit dengan melakukan kerja sama dalam pendirian layanan hemodialisis di RSUD Teluk Kuantan.
Tujuan: Menganalisis implementasi program kerja sama antara RS Awal Bros Pekanbaru dengan RSUD Teluk Kuantan dalam pendirian layanan hemodialisis, keuntungan yang didapatkan, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan serta kendala-kendala yang ditemukan dalam kerja sama tersebut.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus. Penelitian dilakukan di Kota Pekanbaru pada bulan Januari tahun 2025 dengan subjek penelitian berupa data sekunder yang terdiri dari Surat Perjanjian Kerja sama, data jumlah pasien, peraturan yang berlaku, serta penelitian terdahulu. Analisis data dilakukan dengan cara Content Analysis.
Hasil dan pembahasan: Berdasarkan analisis data sekunder, maka diketahui bahwa implementasi kerja sama antara Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru dengan Rumah Sakit Umum Daerah Teluk Kuantan menghabiskan waktu 904 hari. Kerja sama yang dilakukan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Ditemukan faktor-faktor pendukung keberhasilan serta kendala-kendala yang menghambat implemetasi kerja sama.
Kesimpulan: Dukungan dari stakeholder menjadi penentu terealisasinya kerja sama ini. Birokrasi, dinamika internal dan kepentingan politik menjadi kendala-kendala yang ditemukan.
Background: Chronic Kidney Failure (CKD) is a costly disease with a poor prognosis. Its prevalence and incidence continue to increase year by year. Globally, the prevalence of GGK is known to be 13.4%. In Indonesia, based on BPJS Health data, GGK is ranked as the second most costly disease after heart disease. Based on Riskesda data, the number of GGK cases in Riau Province tends to increase every year. For example, in Kuantan Singingi Regency, more than 200 patients require hemodialysis services. The unavailability of hemodialysis services at the local hospital has resulted in patients having to be referred to other areas. Awal Bros Hospital Pekanbaru and Teluk Kuantan Regional Hospital agreed to form an alliance between hospitals by collaborating in the establishment of hemodialysis services at Teluk Kuantan Regional Hospital.
Objectives: Analyzing the implementation of the cooperation program between Awal Bros Hospital Pekanbaru and Teluk Kuantan Regional Hospital in the establishment of hemodialysis services, the benefits obtained, the factors that influence success and the obstacles found in the cooperation.
Methods: This research is a qualitative research with a case study design. The research was conducted in Pekanbaru City in January 2025 with research subjects in the form of secondary data consisting of a Cooperation Agreement Letter, data on the number of patients, applicable regulations, and previous research. Data analysis was carried out by means of Content Analysis.
Result and Discussion: Based on secondary data analysis, it is known that the implementation of cooperation between Awal Bros Hospital Pekanbaru and Teluk Kuantan Regional General Hospital took 904 days. Cooperation provides benefits for both parties and also for the community. There are supporting factors for success as well as obstacles that hinder the implementation of cooperation.
Conclusion: Support from stakeholders has been crucial to the realization of this collaboration. Bureaucracy, internal dynamics and political interests are the obstacles found.
Kata Kunci : Implementasi kerja sama, Layanan Hemodialisis, Kerja sama antar rumah sakit, aliansi stratejic rumah sakit, Implementation of cooperation, Hemodialysis services, Inter-hospital cooperation, Strategic Hospital Alliance