Aliansi Strategis - Kerja Sama Operasi (KSO) Studi Kasus pada PT Waskita Karya (Persero) Tbk
Muhammad Fachri Nasution, Prof. Amin Wibowo, S.E., M.B.A., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Manajemen
PT Waskita Karya (Persero) Tbk mengalami puncak pertumbuhan pada tahun 2016 yang didorong oleh diversifikasi entitas anak usaha jalan tol, tetapi disertai risiko ketidaksesuaian pendanaan internal dibandingkan beban proyek yang harus ditangani. Hal ini mengakibatkan permasalahan likuiditas yang semakin memburuk pada tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 2020 hingga 2022, kondisi likuiditas diperparah oleh dampak pandemi, penundaan proyek, perubahan prioritas pemerintah, serta peningkatan beban administrasi dan bunga bank. Meskipun divestasi jalan tol belum memberikan hasil optimal, Waskita tetap kompetitif di Industri Konstruksi Indonesia dengan memanfaatkan Aliansi Strategis melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO) sebagai alternatif pertumbuhan anorganik. Penelitian ini mengidentifikasi sejumlah temuan penting terkait keberhasilan implementasi KSO yang dipengaruhi oleh lima motivasi utama, yaitu legitimasi pasar, hubungan, sosial, investasi, dan aliansi. Selain itu, penerapan indikator KSO efektif yang terdiri dari relation-specific assets, knowledge sharing routines, complementary resources/capabilities, dan effective governance. Komitmen KSO juga diidentifikasi sebagai faktor penting, termasuk pengakuan kebutuhan kemitraan, pengembangan tujuan realistis, kepastian komitmen, pemeliharaan kepercayaan, pengaturan kemitraan yang kuat, dan evaluasi pembelajaran kemitraan. Temuan ini memberikan wawasan strategis bagi Waskita untuk meningkatkan kinerja operasional, daya saing, efisiensi, dan keberlanjutan kolaborasi di tengah tantangan likuiditas.
PT Waskita Karya (Persero) Tbk reached its peak growth
in 2016, driven by the diversification of toll road subsidiaries. However, this
growth was accompanied by financial mismatches between internal funding and the
burden of projects to be handled, leading to worsening liquidity issues in
subsequent years. From 2020 to 2022, liquidity conditions were further
aggravated by the pandemic, project delays, shifting government priorities, and
increasing administrative and interest expenses. Although toll road divestments
have yet to yield optimal results, Waskita remains competitive in Indonesia's
construction industry by leveraging strategic alliances through the Joint
Operation (JO) scheme as an alternative for inorganic growth. This study
identifies several key findings related to Joint Operation implementation. The success
of Joint Operation is influenced by five main motivations: market legitimacy,
relational legitimacy, social legitimacy, investment legitimacy, and alliance
legitimacy. Furthermore, effective Joint Operation is guided by indicators,
including relation-specific assets, knowledge sharing routines, complementary
resources/capabilities, and effective governance. Commitment to Joint Operation
is also crucial, encompassing the recognition of partnership needs, the
development of realistic goals, commitment assurance, trust-building, robust partnership
arrangements, and partnership evaluation and learning. These findings provide strategic
insights for Waskita to enhance operational performance, competitiveness,
efficiency, and the sustainability of collaborations amid liquidity challenges.
Kata Kunci : Likuiditas, Pertumbuhan Anorganik, Kerja Sama Operasi, Aliansi Strategis