Kesiapsiagaan Manajemen Destinasi Pariwisata dalam Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan Tsunami
Liza Margaret, Prof. Dr.-Phil. Janianton Damanik, M.Si.; Yulia Arisnani Widyaningsih, M.B.A., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Magister Kajian Pariwisata
Pariwisata adalah salah satu sektor yang berkontribusi terhadap pendapatan nasional, namun sangat rentan terhadap bencana alam. Pantai Parangtritis, sebagai salah satu destinasi wisata terpopuler di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Kabupaten Bantul, memiliki risiko tinggi terhadap bencana gempa bumi dan tsunami karena lokasinya yang berada pada zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Indo Eurasia. Risiko ini mengancam keselamatan pengunjung dan masyarakat setempat. Oleh karena itu, destinasi pariwisata yang rentan perlu menerapkan tindakan kesiapsiagaan yang dilakukan oleh pemangku kepentingan sebagai bagian dari manajemen destinasi pariwisata dalam menghadapi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tindakan kesiapsiagaan yang diterapkan oleh pemangku kepentingan di Pantai Parangtritis, Kabupaten Bantul, serta tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaanya.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi, dengan data sekunder yang diperoleh dari dokumen dan laporan terkait kebencanaan dan pariwisata. Proses analisis dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi, serta pengujian keabsahan data.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pantai Parangtritis telah menerapkan beberapa tindakan kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami, antara lain berupa pelatihan, simulasi, sosialisasi dan penyebaran informasi, sistem peringatan, dan rencana kontinjensi. Namun, penerapan langkah-langkah ini belum sepenuhnya optimal karena terdapat tantangan, seperti perbedaan kepentingan di antara pemangku kepentingan, minimnya budaya ketangguhan di masyarakat, dan keragaman wisatawan.
Tourism is one of the sectors that contributes to national income, but is highly vulnerable to natural disasters. Parangtritis Beach, as one of the most popular tourist destinations in Yogyakarta Province and Bantul Regency, has a high risk of earthquake and tsunami disasters due to its location in the collision zone between the Indo-Australian Plate and the Indo Eurasian Plate. This risk threatens the safety of visitors and local communities. Therefore, vulnerable tourism destinations need to implement preparedness measures carried out by stakeholders as part of tourism destination management in the face of disasters. This research aims to examine the preparedness measures implemented by stakeholders in Parangtritis Beach, Bantul Regency, as well as the challenges faced in its implementation.
The research method used is qualitative with a case study approach. Data collection techniques were conducted through in-depth interviews and documentation studies, with secondary data obtained from documents and reports related to disaster and tourism. The analysis process was carried out through several stages, namely data reduction, data presentation, conclusion drawing/verification, and data validity testing.
The results showed that Parangtritis Beach has implemented several preparedness measures to deal with earthquake and tsunami disasters, including training, simulation, socialization and information dissemination, warning systems, and contingency plans. However, the implementation of these measures has not been fully optimized because there are challenges, such as differences in interests among stakeholders, the lack of a culture of resilience in the community, and the diversity of tourists.
Kata Kunci : kesiapsiagaan, manajemen destinasi, gempa bumi, tsunami, pantai parangtritis