Laporkan Masalah

PAJAK MINUMAN BERPEMANIS DALAM KEMASAN (MBDK): SIMULASI DAMPAK TERHADAP KONSUMSI MBDK RUMAH TANGGA

Rizky Amalya, Dr. Evi Noor Afifah, S.E., M.S.E; Wisnu Setiadi Nugroho, S.E., M.Sc., M.A., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 Magister Ek.Pembangunan

Penelitian ini  bertujuan untuk melakukan estimasi dampak penerapan  pajak  pada minuman manis dalam kemasan (MBDK) di Indonesia. Dampak yang diukur menurut  perubahan konsumsi dan tingkat kesejahteraan rumah tangga. model Quadratic Almost Ideal Demand System (QUAIDS) dengan censoring  digunakan untuk memprediksi perubahan konsumsi akibat penerapan kebijakan.  Kemudian compensating variation digunakan untuk melihat variasi kompensasi yang ditanggung rumah tangga  sebagai evaluasi dampak terhadap tingkat kesejahteraan rumah tangga. Analisis dilakukan dalam dua skenario, yaitu pajak ad valorem 10?n 20% sesuai dengan rekomendasi WHO.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pajak 10?ektif menurunkan konsumsi  MBDK rumah tangga tanpa memberi beban kompensasi yang  besar bagi rumah tangga. Sementara  pada pajak 20% diperkirakan mampu mengurangi konsumsi rumah tangga lebih besar terutama pada kelompok  berpenghasilan rendah. Akan tetapi, di saat yang bersamaan menimbulkan beban kompensasi yang lebih besar. Temuan ini memberikan wawasan  perumus kebijakan dalam rangka merancang kebijakan pangan yang efektif dalam  mengatasi obesitas dan  meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia. 

?

This study estimates the potential impact of imposing a tax on sugar-sweetened beverages (SSBs) in Indonesia, focusing on its effects on household consumption and welfare. To simulate different tax schemes and consumption patterns were measured using the Censored Quadratic Almost Ideal Demand System (QUAIDS), while the Compensating Variation (CV) method is employed to assess the household’s economic burden. Two tax scenarios are analyzed: a 10? valorem tax as a moderate policy intervention and a 20% tax as recommended by the World Health Organization (WHO). The findings suggest that first scenario effectively reduces SSB consumption without imposing significant financial burden, making it a viable option. However, a 20% tax leads to a more substantial decline in consumption but gives a heavier economic burden, particularly on low-income households. These results offer valuable insights for policymakers in designing an optimal food and fiscal policy that balances public health improvements with economic sustainability.


Kata Kunci : Minuman Berpemanis dalam Kemasan (MBDK), Kesejahteraan Rumah Tangga, Kebijakan Pajak, Kebijakan Pangan, Censored QUAIDS.

  1. S2-2025-524790-abstract.pdf  
  2. S2-2025-524790-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-524790-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-524790-title.pdf