Laporkan Masalah

TEMPORAL AND SEASONAL TRENDS OF TYPHOID AND PARATYPHOID FEVER IN INDONESIA: A SECONDARY ANALYSIS OF HEALTH INSURANCE DATA

Nazla Kamila Fauziah, dr. Vicka Oktaria, M.P.H., Ph.D., FRSPH; Rizka Dinari, S.Gz., MPH

2026 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang: Demam tifoid dan paratifoid masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di negara berpendapatan rendah dan menengah (Low- and Middle-Income Countries/LMIC), termasuk Indonesia. Namun, bukti pada tingkat nasional mengenai pola musiman penyakit ini masih terbatas. Data Sampel Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan memberikan peluang untuk mengkaji pola tersebut pada tingkat populasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren temporal demam tifoid dan paratifoid di Indonesia serta menilai hubungan penyakit tersebut dengan faktor meteorologi, meliputi kelembapan relatif, suhu, dan curah hujan, menggunakan data dari Copernicus Climate Data Store (CDS).

Metode: Penelitian ini menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2015–2023 dengan fokus pada insidensi bulanan tingkat nasional. Pola musiman diidentifikasi menggunakan Autocorrelation Function (ACF) dan Partial Autocorrelation Function (PACF). Hubungan antarvariabel dianalisis menggunakan korelasi Spearman dan Cross-Correlation Function (CCF), sedangkan besaran efek dan interaksi diestimasi menggunakan regresi binomial negatif multivariat.

Hasil: Insidensi demam tifoid dan paratifoid menunjukkan pola musiman tahunan yang jelas. Kelembapan relatif berhubungan dengan insidensi penyakit pada beberapa periode lag, dengan efek terkuat ditemukan pada lag 0 (IRR = 1,183; CI 95%: 1,091–1,285; p < 0 xss=removed> 0,05). Analisis CCF menunjukkan adanya efek tertunda kelembapan relatif pada lag ?3, yang mengindikasikan peningkatan risiko sekitar tiga bulan setelah paparan. Selain itu, ditemukan interaksi yang signifikan antara kelembapan relatif, suhu, dan curah hujan pada lag 0 (IRR = 1,063; CI 95%: 1,001–1,128; p < 0>

Kesimpulan: Insidensi demam tifoid dan paratifoid di Indonesia menunjukkan pola musiman tahunan yang terutama dipengaruhi oleh kelembapan relatif dan curah hujan. Temuan ini menegaskan potensi pemanfaatan sistem peringatan dini berbasis iklim untuk mendukung intervensi kesehatan masyarakat yang lebih tepat waktu.

Background: Typhoid and paratyphoid fevers remain important public health concern in low- and middle-income countries (LMIC), including Indonesia. However, national level evidence regarding seasonal patterns are limited. Indonesia’s National Health Insurance (BPJS Kesehatan) sample data offers an opportunity to examine these patterns at a population level. This study aims to analyze the temporal trends of typhoid and paratyphoid fever in Indonesia and assess their association with meteorological factors, including relative humidity, temperature, and precipitation using data from the Copernicus Climate Data Store (CDS).

Methods: This study utilized the BPJS Kesehatan Sample Data (2015-2023), focusing on national monthly incidence. Seasonal pattern were identified using Autocorrelation Function (ACF) and Partial Autocorrelation Function (PACF). Associations were analyzed through Spearman correlation and Cross-Correlation Function (CCF), while the magnitude of the effect and interaction were estimated using multivariate negative binomial regression.

Results: The incidence of typhoid and paratyphoid fever exhibited a distinct annual seasonal pattern. Relative humidity associated with disease incidence across multiple lags periods, with the strongest effect observed at lag 0 (IRR = 1.183; 95% CI: 1.091–1.285; p < 0 xss=removed> 0.05). CCF analysis indicated a delayed effect of relative humidity at lag ?3, suggesting increased risk approximately three months after exposure. Notably, a significant interaction between relative humidity, temperature, and precipitation was observed at lag 0 (IRR = 1.063; 95% CI: 1.001–1.128; p < 0>

Conclusion: Typhoid and paratyphoid incidence in Indonesia demonstrates annual seasonality, primarily influenced by relative humidity and precipitation. These findings highlight the potential for climate-informed early warning systems to support timely public health interventions.

Kata Kunci : Typhoid fever, Paratyphoid fever, Indonesia, BPJS Kesehatan, Meteorological factors

  1. S2-2026-548629-abstract.pdf  
  2. S2-2026-548629-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-548629-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-548629-title.pdf