American Hegemony in Puteri Indonesia Contest
Aprilia Nilham, Achmad Munjid, M.A., Ph.D
2025 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN AMERIKA
Idealnya, perwakilan Indonesia di ajang Miss
Universe harus benar-benar menunjukkan jati diri budaya bangsa kepada dunia.
Namun, meskipun sering dianggap sebagai ajang pertukaran budaya, kontes
kecantikan sering kali berfungsi sebagai sarana hegemoni budaya, khususnya oleh
negara adikuasa global seperti Amerika Serikat. Dalam praktiknya, kontes
kecantikan ini berfungsi sebagai media bagi AS untuk menyebarkan nilai-nilai
dan norma budayanya. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji hegemoni Amerika
atas negara-negara lain, sebagaimana tercermin dalam kontes Puteri Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi bagaimana hegemoni budaya Amerika terwujud dalam kontes Puteri
Indonesia dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadapnya. Salah satu cara
Amerika memberikan pengaruh budayanya di Indonesia adalah melalui kontes
kecantikan global, khususnya Miss Universe, yang menjadi rujukan bagi Puteri
Indonesia. Penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif, dengan
mengacu pada Teori Hegemoni Antonio Gramsci. Kerangka teoritis ini akan
membantu menjelaskan bagaimana budaya Amerika tidak hanya diterima tetapi juga
direproduksi dalam kontes tersebut, yang mencerminkan bentuk hegemoni yang
halus dan berkelanjutan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hegemoni Amerika Serikat dalam ajang Puteri Indonesia beroperasi melalui mekanisme konsensus dan persetujuan. Hegemoni ini tidak dipaksakan melalui kekerasan atau paksaan, melainkan muncul secara sukarela dari kelas yang terhegemoni, yaitu Indonesia. Terdapat tiga tingkatan hegemoni dalam ajang Puteri Indonesia. Pertama, hegemoni yang terintegrasi terwujud dalam adopsi gaya hidup, mode, dan bahasa Amerika secara luas. Kedua, hegemoni yang berbenturan dengan budaya lokal Indonesia, seperti kontroversi penggunaan bikini, masuknya peserta transgender, dan keikutsertaan dalam acara yang diadakan di Israel. Ketiga, hegemoni Amerika Serikat yang minimal terhadap ajang Puteri Indonesia karena adanya pertukaran pemegang lisensi. Amerika Serikat juga memperkuat hegemoninya dari sektor ekonomi, dengan menerapkan sistem kerja sama yang memungkinkan mereka memperoleh keuntungan finansial yang signifikan. Keberhasilan hegemoni ini sebagian besar didorong oleh media, yang berperan dalam membentuk persepsi global untuk memperkuat hegemoni budaya Amerika dalam skala besar.
Ideally, Indonesia’s representative at the
beauty contest should authentically showcase the nation’s cultural identity to
the world. Despite often being perceived as a cultural exchange site, beauty
pageant frequently serves as a means of cultural hegemony by superpower
countries like the United States. This pageant functions as a medium for the
U.S. to propagate its values and cultural norms. Therefore, examining American
hegemony over other nations is essential, especially in Indonesia.
This study aims to identify how American
cultural hegemony manifests in the Puteri Indonesia pageant and the factors
that contribute to it. One of the ways America exerts its cultural influence in
Indonesia is through global beauty pageants, particularly Miss Universe, which
serves as a reference for Puteri Indonesia. This research will employ a
qualitative approach, drawing upon Antonio Gramsci’s Theory of Hegemony. This
theoretical framework will help explain how American culture is accepted and
reproduced within the pageant, reflecting a subtle and continuous form of hegemony.
The findings of this study reveal that
American hegemony in the Puteri Indonesia pageant operates through mechanisms
of consensus. This hegemony is not imposed through coercion but rather emerged voluntarily
by the hegemonized class that is Indonesia. There are three levels of hegemony
manifested in the Puteri Indonesia pageant. First, a deeply integrated hegemony
manifested in the widespread adoption of American lifestyles, fashion, and
language. Second, a hegemony that clashes with Indonesian local culture, such
as the controversy over the use of bikinis, the inclusion of transgender
participants, and the participation in events held in Israel. Third, a minimum
American hegemony toward Puteri Indonesia contest due to the exchange of
license holders. The United States also strengthens its hegemony in the
economic sector, by implementing a cooperation system that allows them to gain
significant financial benefits. The success of this hegemony is largely driven
by the media, which plays a role in shaping global perceptions to strengthen American
cultural hegemony on a large scale.
Kata Kunci : Puteri Indonesia, hegemony, Miss Universe, American