Manajemen pemeliharaan jembatan :: Studi kasus bagian proyek pemeliharaan jembatan Provinsi Sulawesi Selatan
HAMZAH, Nasjuadil, Dr.Ir. Iman Satyarno, ME
2004 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik TransportasiPemeliharaan jembatan perlu diprogramkan secara baik untuk mempertahankan kondisi jembatan sampai umur layanan teknis dengan kondisi yang layak dan dengan biaya yang optimal. Dengan alternatif metode analisa Base Case dapat ditentukan waktu yang paling tepat dalam melaksanakan rehabilitasi jembatan pada siklus pelayanan optimum dan berapa lama penangan rehabilitasi jembatan dapat ditunda. Penelitian ini dilaksanakan pada jembatan Sungai Paku, Sungai Maros dan Sungai Pangkajene yang merupakan lingkup kerja Bagian Proyek Pemeliharaan Jembatan Provinsi Sulawesi selatan, dengan mengadakan pemeriksaan kerusakan elemen bangunan atas jembatan. Penilaian terhadap elemen meliputi : nilai struktur, nilai perkembangan , nilai kerusakan, nilai fungsi dan nilai pengaruh, setiap perubahan elemen-elemen dicatat dan diberi nilai 0 atau 1 untuk mendapatkan nilai kondisi. Hasil dari nilai kondisi dipergunakan untuk mendapatkan umur ekivalen elemen. Dengan dasar umur ekivalen suatu elemen dievaluasi dengan analisa Base Case untuk menentukan waktu pekerjaan rehabilitasi yang tepat. Dari analisa diperoleh hasil bahwa jembatan Sungai Paku, dengan nilai kondisi empat pada level 3-4 mempunyai umur ekivalen 47,7 tahun dan waktu pekerjaan rehabilitasi elemen lantai lebih menguntungkan dilaksanakan pada tahun ketiga. Jembatan Sungai Maros, dengan nilai kondisi empat pada level 3-4 mempunyai umur ekivalen 47,7 tahun dan waktu pekerjaan rehabilitasielemen lantai lebih menguntungkan dilaksanakan pada tahun acuan, karena besarnya biaya pengalihan kendaraan. Jembatan Sungai Pangkajene, dengan nilai kondisi tiga pada level 3-4 mempunyai umur ekivalen 41 tahun dan waktu pekerjaan rehabilitasi elemen lantai lebih menguntungkan dilaksanakan pada tahun kesembilan
Bridge maintenance has to be well-programmed to maintain bridge condition to reach adequate technical service duration with good condition and optimal cost. By alternative method of Base Case analysis, it can be determined an appropriate time in which do bridge rehabilitation at optimum service cycles and delay duration to handle bridge rehabilitation. This research has conducted at the Bridge of Paku River, Maros River, and Pangkajene River which are work areas of the Project Division of Bridge Maintenance in South Sulawesi Province, by examining the element damage of the main part of bridge. The elements assessment consist of the structure value, the development value, the damage value, the function value, and the effect value, thus each change of elements was recorded and given value of 0 or 1 to perform the condition value. The result of the condition value was employed to find out the age of element equivalent. It was evaluated based on Base Case analysis to determine an appropriate time for bridge rehabilitation. According to analysis, the results were; the bridge of Paku River with fourth condition value at 3 – 4 levels had equivalent age 47.7 years and at the third years was more beneficial time for bridge rehabilitation particularly floor element, the bridge of Maros River with fourth condition value at 3 – 4 levels had equivalent age 47.7 years and the beneficial time for bridge rehabilitation at the reference year due to the amount cost for vehicle change. Latest, the bridge of Pangkajene River with third condition value at 3 – 4 levels had equivalent age 41 years and at the ninth years was more beneficial time for floor element of bridge rehabilitation.
Kata Kunci : Manajemen Transportasi,Pemeliharaan Jembatan, condition value, equivalent age, Base Case analysis