Pengaruh Pekerjaan Ibu terhadap Kesehatan Jiwa di Kabupaten Sleman, Yogyakarta Tahun 2019-2021; Analisis Data HDSS Sleman
Brian Arianto Tanuwidjaja, Dr. dr. Prima Dhewi Ratrikaningtyas, M.Biotech.; dr. Risalia Reni Arisanti, MPH
2024 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
Latar Belakang: Masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan global
yang secara tidak proporsional mempengaruhi perempuan, khususnya ibu yang
bekerja dengan tanggung jawab ganda. Di Sleman, Provinsi DIY, prevalensi
kesehatan jiwa meningkat signifikan selama pandemi COVID-19 di tahun 2019-2021.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara
pekerjaan ibu dan kesehatan jiwa pada ibu di Sleman sebelum dan selama pandemi
COVID-19 (2019–2021).
Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional
dengan analisis data sekunder dari Health and Demographic Surveillance
System (HDSS) Sleman siklus 5 hingga 7 (tahun 2019-2021). Kriteria inklusi
meliputi ibu yang berusia 24–64 tahun dan mengisi kuesioner skrining kesehatan
jiwa SRQ-20 (Self Reporting Questionnaire-20). Analisis statistik meliputi
uji univariat dan bivariat menggunakan logistic regression untuk
variabel kesehatan jiwa, pekerjaan, usia, pendidikan, kepemilikan asuransi,
jumlah anak, jumlah anggota keluarga, keberadaan asisten rumah tangga, status
ekonomi dan sosial.
Hasil: Gangguan
kesehatan jiwa pada ibu yang berusia 24-64 tahun meningkat pada 2020 (20,73%)
dibandingkan 2019 (10,77%) dan menurun pada 2021 (17,89%). Pekerjaan ibu pada
tahun 2019 memiliki hubungan signifikan dengan kesehatan jiwa dan mampu
menurunkan risiko mengalami gangguan jiwa emosional atau distres sebesar 55,7%
(OR: 0,443, 95% CI: 0,232–0,847, p = 0,014). Selain pekerjaan, jumlah anggota
keluarga lebih dari 2 orang di tahun 2019 memiliki hubungan signifikan dan
mampu menurunkan risiko ibu mengalami gangguan jiwa emosional atau distres sebesar
85,4% (OR: 0,146, 95% CI: 0,043–0,494, p = 0,002). Hal yang sama juga ditemukan
pada variabel umur ibu di tahun 2020 (OR: 0,814, 95% CI: 0,672-0,986, p =
0,036). Status Ekonomi Sosial (SES) tahun 2021 juga berhubungan signifikan dan
berperan sebagai faktor protektif kesehatan jiwa ibu dengan menurunkan risiko
ibu mengalami gangguan jiwa emosional atau distres sebesar 18,6%. Sebaliknya,
pendidikan ibu menjadi faktor yang meningkatkan terjadinya gangguan jiwa
emosional atau distress sebesar 56,3% (OR: 1,563, 95% CI: 0,996-2,453, p =
0,052), meskipun tidak berhubungan secara signifikan dengan kesehatan jiwa ibu.
Kesimpulan: Pekerjaan dan usia ibu mempengaruhi kesehatan jiwa, khususnya selama krisis seperti pandemi. Temuan ini menekankan pentingnya intervensi kesehatan jiwa yang ditujukan pada ibu bekerja serta sistem dukungan yang lebih baik. Salah satunya adalah program RECHARGE yakni Rest, Free Time, Exercise, Mindfulness, Breathing, Visualization, Positive Thinking yang pernah dilakukan di negara Switzerland pada bulan Agustus 2020 hingga Mei 2021.
Background: Mental health issues remain a global challenge,
disproportionately affecting women, especially working mothers balancing dual
responsibilities. In Sleman, Yogyakarta, mental health prevalence has risen
significantly during COVID-19 pandemic in 2019-2021.
Objective: This study aims to analyze the relationship between
maternal employment and mental health among mothers in Sleman before and during
the COVID-19 pandemic (2019-2021).
Method: The study used a cross-sectional design with secondary
data analysis from the Sleman Health and Demographic Surveillance System (HDSS)
cycle 5 to 7 (2019-2021), with inclusion criteria, namely mothers aged 24-64
years and filling out the SRQ-20 mental health questionnaire (Self-Reporting
Questionnaire-20). Furthermore, statistical analysis was carried out including
univariate and bivariate tests using logistic regression for health variables,
occupation, age, education, insurance ownership, number of children, number of
family members, presence of household assistants, and economic and social
status.
Results: Mental health disorders in mothers aged 24-64 years
increased in 2020 (20.73%) compared to 2019 (10.77%) and decreased in 2021
(17.89%). Maternal employment in 2019 had a significant relationship with
mental health and was able to reduce the risk of experiencing emotional mental
disorders or distress by 55.7% (OR: 0.443, 95% CI: 0.232–0.847, p = 0.014).
Apart from work, having more than 2 family members in 2019 had a significant
relationship and was able to reduce the risk of the mother experiencing
emotional mental disorders or distress by 85.4% (OR: 0.146, 95% CI:
0.043–0.494, p = 0.002). The same thing was also found in the maternal age
variable in 2020 (OR: 0.814, 95% CI: 0.672-0.986, p = 0.036). Social Economic
Status (SES) in 2021 is also significantly related and acts as a protective
factor for maternal mental health by reducing the risk of mothers experiencing
emotional mental disorders or distress by 18.6%. On the other hand, maternal
education is a factor that increases the occurrence of emotional mental
disorders or distress by 56.3% (OR: 1.563, 95% CI: 0.996-2.453, p = 0.052),
although it is not significantly related to maternal mental health.
Conclusion: Maternal employment and maternal age affect mental health, especially during a crisis such as a pandemic. This conclusion highlights the importance of mental health interventions aimed at working mothers and better support systems.
Kata Kunci : pekerjaan ibu, kesehatan jiwa, COVID-19, Sleman, HDSS, SRQ-20.