Penerapan congestion pricing di kawasan Malioboro ditinjau dari segi kemauan membayar pengendara kendaraan bermotor
ARYZA, Laisyna Astivani, Dr.Ir. Danang Parikesit, MSc
2004 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik TransportasiKawasan Malioboro merupakan aset penting bagi kota Yogyakarta dan Propinsi D.I.Yogyakarta baik sektor formal maupun informal terutama dari segi pariwisata dan perdagangan eceran. Berbagai kepentingan yang ada pada kawasan Malioboro saling bertolak belakang. Di satu pihak, tingginya animo masyarakat untuk mengunjungi kawasan Malioboro, akan tetapi bercampurnya berbagai kepentingan dan komunitas telah membuat kawasan Malioboro semakin semrawut. Pada dasarnya, masalah yang timbul pada kawasan ini diakibatkan oleh permasalahan lalulintas yaitu : pemakaian fungsi jalan yang berlebihan, lalu lintas jalan yang semrawut dan kemacetan jalan. Berbagai perkembangan ini membutuhkan penanganan pengelolaan lalulintas yang terencana dengan tetap memperhatikan fungsi Malioboro sebagai ruang publik di pusat kota dengan perimbangan fungsi ekonomi formal dan informal serta interaksi sosial yang manusiawi dan berkarakter budaya. Salah satu cara untuk menangani permasalahan lalu lintas adalah penerapan congestion pricing. Tujuan penelitian yaitu : mengetahui willingness-to-pay pengendara kendaraan bermotor yang memasuki kawasan Malioboro jika diterapkan suatu congestion pricing, membuat model matematis, serta merumuskan suatu kebijakan tentang congestion pricing kawasan Malioboro. Penelitian ini menggunakan metoda stated preference yaitu contingent valuation method berupa kuesioner yang diberikan kepada responden pengunjung Malioboro pengguna kendaraan bermotor. Data survei kemudian diolah menggunakan program SPSS v10.0 untuk mendapatkan persamaan regresi linear berganda yang merupakan model matematis dari kemauan membayar responden, kemudian dilakukan perumusan kebijakan tentang congestion pricing kawasan Malioboro. Hasil penelitian menunjukkan skenario 3 (bea masuk Rp 1.000,00 ; jarak tempat parkir 0 – 100 meter ; kepastian mendapatkan ruang parkir ; tarif parkir Rp 1.000,00/ mobil dan Rp 400,00/ sepeda motor) adalah skenario paling banyak dipilih responden. Faktor menentukan willingness-to-pay responden adalah faktor ketersediaan ruang parkir dan jenis kendaraan yang digunakan responden. Persamaan model menunjukkan semua responden bersedia untuk membayar lebih tinggi dari bea masuk yang ditawarkan. Penerapan bea masuk berdasarkan peak dan off-peak day lebih efektif untuk bea masuk Rp 1.000,00 karena dapat mereduksi jumlah kendaraan bermotor menjadi ± 50% dibandingkan dengan penerapan bea masuk berdasarkan jenis kendaraan bermotor (hanya mereduksi menjadi ± 85%). Jika bea masuk Rp 2.000,00, kedua sistem penerapan tersebut memiliki tingkat keefektifan yang hampir sama dalam menghasilkan penurunan jumlah kendaraan bermotor sampai ± 50% (penerapan bea masuk berdasarkan jenis kendaraan bermotor lebih efektif dalam mengontrol jumlah kendaraan bermotor untuk bea masuk Rp 2.000,00). Rekomendasi kebijakan yang diajukan kepada pemerintah tentang congestion pricing di kawasan Malioboro adalah penggunaan penerapan bea masuk berdasarkan jenis kendaraan karena penerapan bea masuk berdasarkan jenis kendaraan bermotor dengan bea masuk lebih dari Rp 1.000,00 ternyata dapat mengontrol jumlah kendaraan bermotor yang memasuki kawasan Malioboro menjadi ± 60%. Selain itu manfaat dari segi finansial yang didapatkan dengan menerapkan bea masuk lebih dari Rp 1.000,00 akan lebih besar, sehingga akan dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan fasilitas kawasan Malioboro.
Malioboro is an important asset for Yogyakarta, either for formal or informal sectors specially tourism and retail trade. Many interests in Malioboro are different from each other. On the one hand, public interest to visit Malioboro Area are increasing, but on the other hand blended interests and communities are making Malioboro Area more disorganized. Basically, problems in this area are caused by traffic problems such as over concentrated function, over crowded motorized traffic and congested road. Various improvements cause a planned traffic management necessity in Malioboro Area which is still observed the function of Malioboro as a public space in central city, with equalized formal and informal economical function and humanized social interaction and cultural character. One of way to handle traffic problems is congestion pricing application. The aim of the research are to identify respondent’s willingness-to-pay who came to Malioboro by motorized vehicle if congestion pricing applied, to formulate mathematical models, and to formulate congestion pricing policies for Malioboro Area. This research used stated preference method which was contingent valuation method in form of questionnaire given to respondent who came to Malioboro by motorized vehicle. Obtained data afterwards analyzed with SPSS v10.0 to obtain multiple linear regression equations which were mathematical models of respondent’s willingness-to-pay. After obtaining respondent’s willingness-to-pay, then formulated them into congestion pricing policies recommendation for Malioboro Area. The research output showed that scenario 3 (toll fare Rp 1,000.00 ; parking lot distance from jl. Malioboro 0 – 100 meters ; insurance in getting a parking lot ; parking fare Rp 1,000.00 per car and Rp 400.00 per motorcycle) is the most preferable by respondent. The most influence factors in determining the amount of respondent’s willingness-to-pay are availability of parking spot and type of vehicle used by respondent to go to Malioboro. The produced models can be applied to identify the amount of respondent’s willingness-topay. All respondents are willing to pay more than the amount of offered congestion pricing. The application of congestion pricing based on type of motorized vehicle is less effective than the application based on peak and off-peak day, especially for congestion pricing Rp 1.000,00. Because the application based on peak day can reduces ± 50% the amount of motorized vehicle, while the other application can only reduces ± 85%. But for congestion pricing Rp 2.000,00, the application based on type of motorized vehicle is more effective than the other one. The congestion pricing policies recommended for Malioboro Area is the application of congestion pricing based on type of motorized vehicle, because with much higher congestion pricing fare (more than Rp 1.000,00), this application can reduces ± 60% of motorized vehicle. It means more gained money for improving the quality and facilities of Malioboro Area.
Kata Kunci : Lalulintas,Kawasan Malioboro,Congestion Pricing, congestion pricing, Malioboro, willingness-to-pay