Evaluasi program pengembangan kecamatan (PPK) di Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara
HIKAL, Abd, Dr. Yeremias T. Keban, MURP
2004 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahPenanggulangan kemiskinan dengan menitikberatkan pada pemberdayaan masyarakat sebagai pendekatan operasional, merupakan wujud komitmen pemerintah dalam merealisasikan kesejaheraan sosial bagi masyarakat. Program Pengembangan Kecamatan (PPK) merupakan salahsatu perwujudan nyata dari upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia. PPK fase pertama, yang merupakan kelanjutan dari program IDT dan P3DT, telah dimulai sejak 1998/1999 dan berakhir pada 2001, membiayai 50.000 kegiatan prasarana, ekonomi dan sosial dengan nilai sebesar USD 189 juta, di 986 kecamatan dan mencapai 15.000 desa. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan prasarana (76 %), kegiatan ekonomi (23 %) serta pendidikan dan kesehatan (1 %) yang dalam pelaksanaannya berhasil memenuhi seluruh target kinerja kesepakatan pinjaman Bank Dunia, kecuali yang berkaitan dengan pinjaman ekonomi dimana tingkat pengembalian masih rendah. Secara nasional PPK ini akan dilaksanakan dalam lima fase, oleh karena itulah evaluasi yang konstruktif guna perbaikan pelaksanaan pada fase-fase berikutnya mutlak diperlukan agar keberlanjutan program dapat terjaga dan dapat memberi manfaat kepada masyarakat yang lebih banyak. Program ini telah dilaksanakan di kabupaten Kolaka dengan menggunakan pendekatan pemberdayaan (empowerment) dalam rangka pembangunan masyarakat (capacity building). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji bagaimana tingkat sustainability Program PPK di Kabupaten Kolaka; dan (2) mengetahui faktor–faktor apa yang mempengaruhi keberlanjutan program tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif dengan teknik analisa kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara kuisioner, wawancara dan observasi. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kecamatan Wundulako. Jumlah populasi masyarakat dua desa/kelurahan penelitian adalah 750 KK, diambil 15 % sebagai sampel atau 112 KK responden, dengan teknik sampel acak sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa untuk keberlanjutan program sarana/prasarana PPK mempunyai tingkat sustainable yang rendah sampai sedang, hal ini dipengaruhi oleh faktor internal seperti sejarah pembangunan prasarana, SDA yang tersedia, kepemimpinan Aparat Kecamatan/Desa serta partisipasi masyarakat; sedangkan keberlanjutan bantuan modal usaha ekonomi produktif berada pada kategori tingkat sustainabel sangat tinggi, yang dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal seperti sejarah komunitas, SDA yang tersedia, kepemimpinan Aparat Kecamatan, Fasilitator Kecamatan, SDM pengurus lembaga, Partisipasi masyarakat, serta Fasilitas lembaga dan gaji pengurus yang memadai
Poverty eradication that focuses on community empowerment for its operational approach is a manifest of the government commitment to social welfare of the peoples. The Sub-district Development Program is one of the concrete realizations of poverty eradication in Indonesia. Its initial phase, which is a continuation of the IDT and P3DT programs, was initiated in 1998/1999 and finished in 2001. It managed to finance 50,000 infrastructure, economic and social activities with the total amount of US$ 189 million. It covered 986 sub-district, or approximately 15,000 villages. The allocations of fund are 76% for infrastructure development, 23% for economic activities, 1% for education and health, the implementation of which meets the target of performance agreement in order to obtain the loan from the World Bank. An exception is for the economic credit where the return rate remains low. Nationally, the program was carried out in 5 phases, therefore, a constructive evaluation is necessary in order to improve the implementation in the next phases, and to maintain the sustainability as well as to give benefits to more people. This program was also carried out in Kolaka regency, adopting empowerment approach for capacity building. This research aimed 1) to study the program’s sustainability degree, and 2) to investigate the factors affecting the program sustainability. The research was conducted using a descriptive method combining a technique of quantitative and qualitative analysis. Data collection was done using questionnaire, interview, and observation. The research itself was conducted in Wundulako subdistrict. The population of the 2 villages being research was 750 households, 15% of which was selected as samples, or comprising of 112 household respondents. The sampling technique is simple random sampling. The research results reveal that the sustainability of facility/infrastructure program ranges from low to medium as affected by internal factors such as the history of infrastructure development, available human resources, leadership of subdistrict/ village apparatuses, and people’s participation; the sustainability o the productive economic capital assistance is high, affected by both internal and external factors such as the community history, available human resources, leadership of subdistrict/ village apparatuses, sub-district facilitator, human resources of the institution board of directors, people’s participation and institution facilities and honorarium for board of directors, which are adequate.
Kata Kunci : Program Pembangunan Kecamatan,Evaluasi, Evaluation, Poverty, Empowerment, Sustainability