Pengaruh reklamasi pantai kawasan Waterfront City terhadap banjir Kota Semarang :: Studi kasus di Kecamatan Semarang Barat
PRAKOSA, Budi, Ir. Bakti Setiawan, MA.,PhD
2004 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahSalah satu implikasi dari proses pertumbuhan dan perkembangan kota adalah peningkatan kebutuhan lahan untuk mengakomodasi pertumbuhan kegiatan kota. Disisi lain, disebabkan oleh berbagai faktor, ketersediaan lahan diperkotan sangatlah terbatas dan reklamasi pantai merupakan salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan lahan kota. Penelitian ini, dengan melakukan kajian reklamasi pantai di Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang pengaruhnya terhadap banjir kawasan sekitar. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yaitu melakukan perhitungan perubahan besarnya debit limpasan sebelum dan sesudah adanya reklamasi pantai. Secara lebih khusus, membandinkan debit limpasan air pada tahun 1985 sebelum adanya kegiatan reklamasi dan debit limpasan pada tahun 2000 setelah adanya kegiatan reklamasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan kontribusi debit limpasan untuk kawasan rekalamasi pantai dari tahun 1985 sampai 2000 sebesar 40,42 m3/detik, sementara untuk kawasan lain memberikan kontribusi debit limpasan sebesar 27,68 m3/detik. Peningkatan kontribusi debit limpasan kawasan reklamasi ini sebesar 59,35% dari total peningkatan debit limpasan pada wilayah Sistem Drainase Semarang Barat sebesar 68,10 m3/detik. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa reklamasi pantai cukup signifikan memberikan pengaruh terhadap besarnya peningkatan debit limpasan pada Wilayah Sistem Drainase Semarang Barat. . Lebih lanjut penelitian ini merumuskan beberapa faktor/komponen yang memperkuat pengaruh reklamasi pantai terhadap banjir kawasan yaitu (1) metode/model reklamasi pantai; (2) penurunan tanah akibat kegiatan reklamasi dilakukan pada lapisan tanah alluvial; (3) tidak adanya studi Analisis Dampak Lingkungan; (4) tidak adanya mekanisme kontrol pembangunan yang jelas dan konsisten. Penelitian ini merekomendasikan perlunya kontrol terhadap pengembangan kawasan yang lebih ketat, khususnya mengkaji dampak lingkungan yang akan muncul akibat kegiatan reklamasi
One of the implications of the urban growth and development process is the increasing need of urban land for accommodating the growing urban activities. However, because of many factors such as infrastructure provision as well as the geological factors, the land supply in urban area is very limited. In the case of cities that have geological constraints, therefore, land reclamation is seen as an alternative to increase the land supply in order to meet the increasing need of urban land. This research explored the coastal land reclamation on West Semarang Subdistrict in Semarang City. It analysed the impact of land reclamation on the flooding areas in the surrounding area. A quantitative method was employed in this research in order to investigate the changes of run-off flow before and after the coastal land reclamation project. In detail, the research compared the run-off flow in 1985, the time before the coastal land reclamation has been started, and the flow in the year of 2000 when the coastal land reclamation has been started. The result showed that the coastal land reclamation area contributed to 40.42 cubic meters per second, while the other areas contributed about 27.68 cubic meters per second to the increasing run-off flow from 1985 to 2000. It was about 59.35% of the total increasing run-off flows in West Semarang Drainage Subdistrict System from 1985 to 2000 that were around 68.10 cubic meters per second. From this point of view, therefore, it can be said that the coastal land reclamation bring about a significant impact on the increasing of run-off flow in the West Semarang Drainage System. In addition, the research concludes some factors that had increased the coastal land reclamation influences on flooding in the surrounding area. The factors are: (1) coastal land reclamation method or model; (2) land subsidence caused by reclamation on the alluvial land; (3) non-existence of comprehensive environmental impact analysis; and (4) the absence of a consistent and reliable development control mechanism for the coastal land reclamation. Furthermore, the research recommends a stronger development control for coastal land reclamation, especially, on the predicted environmental problems caused by the project.
Kata Kunci : Kawasan Waterfront City,Reklamasi Pantai,Banjir,coastal land reclamation, run-off flow, flood