Laporkan Masalah

Dampak Mata Uang Digital Terhadap Perdagangan Lintas Batas Dan Integrasi Ekonomi Di Asia Tenggara: Mengeksplorasi Peluang Dan Tantangan Bagi Bisnis Indonesia

Bauyrzhan ZHAPAROV, Bowo Setiyono, M.Com., Ph.D.

2025 | Tesis | S2 MANAJEMEN (MM) JAKARTA

Lanskap ekonomi Asia Tenggara (SEA) berubah dengan cepat karena kemajuan teknologi digital dan inovasi keuangan, dengan mata uang digital yang mencakup mata uang kripto terdesentralisasi dan Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC) – muncul sebagai pendorong utama perubahan. Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, diposisikan secara unik untuk memimpin transformasi digital di kawasan ini, didukung oleh peta jalan digital yang dipimpin pemerintah yang ambisius dan pengenalan CBDC sendiri, GarudaCoin.

Dalam penelitian ini kami meneliti dimensi teoritis, peraturan, dan praktis dalam mengadopsi mata uang digital di Asia Tenggara, dengan fokus pada dampaknya terhadap perusahaan Indonesia. Dengan menggunakan metode kuantitatif yang didukung oleh metode kualitatif, termasuk pengujian hipotesis, analisis statistik, pemodelan korelasi dan regresi, survei, wawancara, dan kerangka kerja strategis seperti PESTEL, SWOT, dan TOWS, kami mengidentifikasi peluang dan hambatan untuk adopsi mata uang digital. Temuan utama mengungkapkan bahwa meskipun mata uang digital memiliki potensi signifikan untuk meningkatkan efisiensi perdagangan, mengurangi biaya transaksi, dan memperkuat integrasi ekonomi, mengatasi ambiguitas peraturan dan menumbuhkan keahlian teknis sangat penting untuk keberhasilan.

Studi ini memberikan rekomendasi yang dapat ditindaklanjuti untuk pembuat kebijakan, bisnis, dan organisasi regional, menekankan perlunya kerangka peraturan standar, inisiatif pengembangan kapasitas, dan kolaborasi untuk menjembatani kesenjangan digital. Dengan mengatasi tantangan ini, Indonesia dapat memanfaatkan mata uang digital untuk memperkuat kepemimpinannya dalam ekonomi digital Asia Tenggara dan mendorong pertumbuhan regional yang berkelanjutan.

The economic landscape of Southeast Asia (SEA) is rapidly transforming due to advancements in digital technologies and financial innovations, with digital currencies -encompassing both decentralized cryptocurrencies and Central Bank Digital Currencies (CBDCs) – emerging as key drivers of change. Indonesia, the largest economy in SEA, is uniquely positioned to lead the region’s digital transformation, supported by an ambitious government-led digital roadmap and the introduction of its own CBDC, GarudaCoin.

In this research we examined the theoretical, regulatory, and practical dimensions of adopting digital currencies in SEA, focusing on their impact on Indonesian enterprises. Using a quantitative method supported by qualitative method, including hypothesis testing, statistical analysis, correlation and regression modeling, surveys, interviews, and strategic frameworks like PESTEL, SWOT, and TOWS, we identified the opportunities and barriers to digital currency adoption. Key findings revealed that while digital currencies hold significant potential to enhance trade efficiency, reduce transaction costs, and strengthen economic integration, overcoming regulatory ambiguity and fostering technical expertise are critical for success.

The study provides actionable recommendations for policymakers, businesses, and regional organizations, emphasizing the need for standardized regulatory frameworks, capacity-building initiatives, and collaboration to bridge the digital divide. By addressing these challenges, Indonesia can harness digital currencies to solidify its leadership in SEA’s digital economy and drive sustainable regional growth.

Kata Kunci : digital currencies, CBDC, DeFi, crypto, adoption, cross-border trade, digital transformation, regional economic integration, Blockchain technology, technological spread.

  1. S2-2025-511110-abstract.pdf  
  2. S2-2025-511110-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-511110-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-511110-title.pdf